Al-Inqilabul Islamiy

Transformasi Islami

Manakala dua pilar takwinul ummah (pembentukan umat)—yakni takwinus syakhshiyyah dan takwinur ruhil jama’ah—mampu ditegakkan di atas fondasi la ilaha illa-Llah Muhammadur Rasulullah, maka akan terjadilah proses al-inqilabul Islamiy (transformasi islami) di tengah-tengah umat Islam.

Pertama, transformasi dalam aspek al-i’tiqadiy (keyakinan). Dari kondisi diliputi debu-debu kemusyrikan menjadi kondisi bersih dan segar dalam ketauhidan; dari kekufuran menjadi iman; dari riya’ menjadi ikhlas.

Continue reading “Al-Inqilabul Islamiy”

Al ‘Itishamu bi Hablillah

Di pembahasan sebelumnya telah disebutkan, setelah pilar takwinus syakhshiyyatil Islamiyyah (pembentukan kepribadian Islam), pilar lain yang menjadi penopang takwinul ummah (pembentukan umat) adalah takwinu ruhil jama’ah (membentuk semangat persatuan, kesatuan, atau kebersamaan).

Berpegang Kepada ‘Tali Allah’

Ruhul jama’ah (semangat persatuan, kesatuan, atau kebersamaan) akan tumbuh pada umat ini apabila mereka mau berpegang kepada ‘tali Allah’.

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran, 3: 103)

Continue reading “Al ‘Itishamu bi Hablillah”

Hizbullah; Siapakah Mereka? (Bag. 2)

Al-Akhlaqul Harakiyyah

Selain karakter dasar yang telah dijelaskan di bagian pertama tulisan ini, hizbullah pun memiliki al-akhlaqul harakiyyah (karakter pergerakan), yakni sikap dan akhlak mereka dalam menjalani amal perjuangan di jalan Allah Ta’ala. Al-Akhlaqul harakiyyah ini diantaranya terangkum dalam firman Allah Ta’ala surah Al-Anfal ayat 45 – 47,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا    تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal, 8: 45 – 47)

Continue reading “Hizbullah; Siapakah Mereka? (Bag. 2)”

Amradhul Ummati Fi Dakwah

(Penyakit Umat di Dalam Dakwah)

Setelah menyimak beberapa pembahasan sebelumnya, kita mengetahui bahwa problematika dan tantangan yang dihadapi umat Islam hari ini tidaklah ringan. Upaya penyadaran umat dengan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar tidak dapat berjalan efektif jika hanya mengandalkan amal individual (al-infiradiyyah).

Dampak Al-Infiradiyyah

Al-infiradiyyah di dalam dakwah adalah penyakit yang harus segera diobati. Karena ia akan berdampak pada mentalitas (al-ma’nawiyyah) dan aktivitas (al-‘amaliyyah) seorang da’i. Continue reading “Amradhul Ummati Fi Dakwah”

Asbabul Jahiliyyah

(Sebab-sebab Munculnya Kejahiliyahan)

Makna Jahiliyyah

Umar ibn Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata,

إنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الْجَاهِلِيَّةَ

“Sesungguhnya ikatan Islam itu hanyalah akan terurai satu per satu apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyyah.”

Ungkapan Umar di atas adalah peringatan bagi umat Islam sepanjang zaman agar mewaspadai kejahiliyyahan yang dapat memusnahkan agama. Kita hendaknya memahami dan mengenal apa itu jahiliyyah agar mampu menjaga agama ini dari hal-hal yang dapat merusaknya cepat atau lambat.

***** Continue reading “Asbabul Jahiliyyah”