Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 2)

Oleh: Hepi Andi Bastoni, MA.

Pada tulisan sebelumnya dijelaskan, untuk memberikan keputusan atas orang-orang Yahudi Bani Quraizhah yang telah berkhianat pada Perang Ahzab, Nabi saw mengutus seorang sahabatnya Sa’ad bin Muadz. Mengapa perlu Sa’ad bin Muadz yang memberikan kata akhir bagi para pengkhianat itu? Mengapa tidak beliau sendiri?

Memang, Nabi saw memiliki wewenang untuk memutuskan hukuman: bunuh mereka, habis perkara! Suku Aus akan tunduk kepadanya. Namun, Nabi saw mengkhawatirkan hal itu akan berbenturan dengan sentimen sebagian pasukannya dari kalangan Aus. Karenanya, beliau memilih solusi yang paling tepat, “Apakah kalian rela bila perkara ini diputuskan oleh salah seorang dari kalian?” Mereka menjawab, “Kami rela. “Rasulullah saw bersabda, ”Orang itu adalah Sa’ad bin Mu’adz.”

Lanjutkan membaca “Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 2)”

Hijrah (Bag. 2): Baiatul Aqabah II

Pada tahun kedua belas setelah kenabian, dan setahun setelah Baiatul Aqabah pertama, Mush’ab bin Umair datang ke Makkah untuk berhaji dan melaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penerimaan yang baik dari penduduk Yatsrib terhadap Islam.

Bersamaan dengan itu berangkat pula sekelompok kaum Anshar yang telah masuk Islam  bersama dengan rombongan haji kaum musyrikin yang juga hendak menunaikan haji. Kaum Anshar juga bermaksud menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka mengetahui kesulitan besar yang dialami kaum muslimin di Makkah. Diantara mereka ada yang berkata,

إِلَى مَتَى نَتْرُكُ رَسُوْلَ اللهِ يَطُوْفُ عَلَى الْقَبَائِلَ وَيُطْرَدُ فِي جِبَالِ مَكَّةَ وَيَخَافُ ؟!

“Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling ke kabilah-kabilah lalu diusir di pegunungan Makkah dan merasa tidak aman?

Lanjutkan membaca “Hijrah (Bag. 2): Baiatul Aqabah II”

Perang Khaibar (Bag. 5)

Kisah Unik Usai Perang Khaibar

Pada tulisan sebelumnya dijelaskan tentang kemenangan umat Islam dalam Perang Khaibar dan keberhasilan mereka menalukkan benteng-benteng Khaibar. Banyak kisah unik sarat pelajaran yang terjadi pada peperangan itu. Sebagian kisah itu, kami sajikan untuk Anda, para pembaca.

Dua Bidadari untuk Sang Penggembala

Sejarah mencatat identitasnya dengan nama al-Aswad. Ia seorang penggembala kambing milik Yahudi Khaibar. Ketika Rasulullah saw mengepung salah satu benteng Khaibar, al-Aswad datang bersama kambing-kambing gembalaannya.

Begitu bertemu Nabi saw, ia pun berseru, “Ya Rasulullah, terangkan kepadaku mengenai Islam.”

Rasulullah saw pun menerangkan kepadanya tentang Islam. Spontan tanpa pikir panjang, ia pun masuk Islam. Memang, Rasulullah saw tak pernah meremehkan seorang pun untuk menyeru dan menerangkan kepadanya tentang Islam. Siapa pun yang datang kepadanya, selalu ia sambut dengan riang. Tanpa pilih kasih meski sekadar seorang penggembala kambing. Lanjutkan membaca “Perang Khaibar (Bag. 5)”

Perang Khaibar (Bag. 4)

Peristiwa Penting Usai Kemenangan Khaibar

Memahami apa yang dilakukan Nabi saw usai penaklukkan Khaibar akan memudahkan kita memetik hikmah dari yang terjadi. Ini penting mengingat Perang Khaibar bukan hanya akhir riwayat Yahudi di masa Nabi saw tapi juga menjadi awal bagi futuhaat (pembebasan) berikutnya. Kita mulai dari peristiwa kepulangan Nabi saw dari Khaibar menuju Madinah.

Setelah berhasil menaklukkan Khaibar, Fada, Wadil Qura dan Taima, Rasulullah saw kembali ke Madinah. Dalam kepulangan itu, beliau melakukan perjalanan pada malam hari. Di akhir malam, beliau beristirahat untuk tidur. Beliau berkata kepada Bilal, “Jagalah kami malam ini.”

Namun Bilal tidak dapat menahan kantuk. Ia pun tertidur sambil bersandar di kendaraannya. Tak seorang pun yang bangun sampai mereka terkena sengatan matahari. Yang pertama kali bangun adalah Rasulullah saw. Lanjutkan membaca “Perang Khaibar (Bag. 4)”

Perang Khaibar (Bag. 3)

Setelah wilayah Nathah dan asy-Syiq ditaklukkan, Rasulullah saw mengalihkan sasaran ke penghuni ketiga benteng selanjutnya, yakni Benteng al-Katibah, al-Withih dan al-Salalim. Ketiga benteng ini milik Abul Haqiq dari Bani Nadhir. Orang-orang Yahudi yang kalah dan melarikan diri dari Nathah dan asy-Syiq bergabung dengan penghuni benteng-benteng tersebut dan bertahan di sana.

Para pakar sejarah peperangan berbeda pendapat, apakah di tiga benteng itu terjadi pertempuran atau tidak. Riwayat Ibnu Ishaq menyebutkan secara jelas terjadinya penaklukkan benteng al-Qamush. Bahkan, dari alur riwayat yang disampaikan dapat disimpulkan bahwa benteng ini ditaklukkan hanya dengan pertempuran tanpa perundingan serah terima.[1]

Sedangkan al-Waqidi mengemukakan secara jelas bahwa ketiga benteng di wilayah kedua ini diambil setelah terjadinya perundingan. Ada kemungkinan bahwa perundingan terjadi untuk menyerahkan benteng al-Qamush, setelah terjadi pertempuran. Sedangkan benteng yang lain diserahkan kepada kaum Muslim tanpa pertempuran. Lanjutkan membaca “Perang Khaibar (Bag. 3)”