Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 6)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Tokoh-tokoh Ikhwan di Universitas-Universitas Saudi

Siapa yang pernah mempelajari buku-buku Silsilah Ta’lim Al-lughah Al-Arabiyah di I’dad Lughawi LIPIA Jakarta pasti akan menemukan beberapa kutipan dari tokoh-tokoh Ikhwan seperti Sayyid Qutb, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah atau Ustadz Abdul Qadir Audah. Hal itu tidak mengherankan, karena LIPIA adalah cabang dari Al-Iman Muhammad Ibn Sa’ud University dan Jami’ah Al-Imam Riyadh sudah masyhur sebagai salah satu pusat berkumpulnya para ulama Ikhwan di Saudi era tahun 60 sampai 90an. Mereka mengajar, membuat kurikulum serta menjadi supervisor program magister dan doktoral.

Namun, setelah tahun 2014, Kementerian Luar Negeri Saudi resmi memasukkan Ikhwan dalam list organisasi teroris, entah bagaimana nasib buku-buku tersebut, sudah direvisi ataukah belum. Mengingat Kelompok Salafi yang kemudian diberikan panggung di universitas-universitas Saudi sebagiannya berkeyakinan bahwa tidak boleh memuji ahli bid’ah (kelompok yang mereka tuduh mubtadi’) atau bahkan sekedar untuk menukil pendapat-pendapat mereka.

Baca selebihnya »

Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 1)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Sinopsis

Saudi adalah tempat pengasingan paling aman dan menerima Ikhwan dengan tangan terbuka di era 60-an ketika Ikhwan diburu oleh rezim diktator baik di Mesir, Irak dan Suriah. Hubungan yang terjalin setelah itu adalah hubungan simbiosis mutualisme antara sebuah kerajaan yang butuh terhadap para ulama reformis, tenaga pengajar dan kader-kader yang potensial untuk ditempatkan dibanyak lini dengan tokoh-tokoh pelarian politik yang butuh tempat aman untuk menyebarkan pemikirannya.

Fase paling mesra hubungan Saudi dan Ikhwan adalah pada masa Raja Faishal. Pada masanya, tokoh-tokoh Ikhwan menjadi penasehat kerajaan, menjadi dekan dan dosen di Universitas-universitas Saudi. Mereka membuat kurikulum universitas-universitas Saudi, menjadi pembimbing dan penguji didertasi dan lain-lain.

Baca selebihnya »

Pergulatan Panjang Perjuangan Politik Ikhwan

Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM) memiliki sejarah pergulatan panjang dalam perpolitikan Mesir. Mereka mulai bersentuhan dengan politik praktis sejak tahun 1942, dimana Muktamar keenam merekomendasikan agar IM mulai mengarahkan dakwahnya ke kalangan pemerintahan. Namun situasi politik Mesir pada masa pendudukan Inggris dan berkecamuknya perang dunia kedua, menghalangi IM meraih kesuksesan.Baca selebihnya »

Lintasan Sejarah Al-Ikhwan Al-Muslimun

Eksistensi komunitas gerakan dakwah di sepanjang masa adalah sunnatullah dan sunnatuddakwah, seperti diungkapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ

“Akan senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang menegakkan perintah Allah, tak ada yang membahayakannya orang yang menghinakan atau menyelisihi mereka sampai datangnya hari Kiamat, dan mereka akan selalu menang atas manusia.” (HR. Muslim No.3548).Baca selebihnya »