Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Hingga Perseteruan (Bag. 15 – Tamat)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Al-Madkhaliyah

Di penghujung tahun 80-an, akhir-akhir jihad Afghan kontra Soviet, mulai timbul suara-suara miring terhadap jihad Afghanistan dan para mujahidin. Mereka menakut-nakuti para pemuda yang ingin berjihad dengan kondisi Afghanistan yang super panas, dingin dan salju serta akan berhadapan dengan salah satu tentara terkuat dimuka bumi, tentara merah Uni Soviet. Sebagian mereka berangkat sampai ke Peshawar Pakistan dan sekembalinya ke Saudi mereka gencar memprovokasi publik agar tidak berdonasi untuk jihad Afghan dengan alasan bahwa para mujahidin Afghan adalah ahli bid’ah, quburiyyin (penyembah kubur) dan musyrikin. Menurut mereka, berjihad ke Afghanistan sama saja dengan bergabung dengan musyrikin Afghan kontra mulhidin (atheis) Rusia.

Baca selebihnya »

Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Hingga Perseteruan (Bag. 14)

Jihad Afghan dan ‘Kebangkitan’ Saudi

1980, pasca tentara merah Uni Soviet menyerang Afghanistan, Raja Khalid bin Abdul Aziz mengeluarkan ‘titah kerajaan’ kepada Salman bin Abdul Aziz (yang saat itu menjabat sebagai gubernur Riyadh) untuk membentuk dan mengetuai Komite Pengumpulan Donasi bagi mujahidin Afghanistan. Beberapa waktu kemudian, President of Youth Welfare, Pangeran Faisal bin Fahd juga mengumumkan kenaikan tiket pertandingan olahraga sebesar 1 riyal yang akan diperuntukkan bagi para Mujahidin Afghanistan.

Sementara itu, maskapai Saudi Airline memberikan diskon tiket pesawat sampai 70% untuk para ‘relawan Saudi’ yang ingin berangkat ke Afghanistan baik untuk sekedar memberikan bantuan ataupun terjun langsung dalam medan perang. Saat itu, ajakan berdonasi bagi jihad di Afghanistan memenuhi koran-koran Saudi. Sebagaimana para da’i-da’i Shahwah (kebangkitan Islam) Saudi dan gerakan Islam gencar memotivasi dan memobilisasi para pemuda dari masjid-masjid untuk ikut andil dalam jihad dengan restu dari para ulama Kerajaan Saudi Arabia dan tentu saja juga restu dari USA. Saat itu, kata ‘jihad’ identik dengan kemuliaan dan kebebasan, sebab musuh yang diperangi oleh AS dan Saudi adalah Komunisme.

Baca selebihnya »

Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 12)

Berebut Pengaruh di Kawasan

Meskipun antara Ikhwan dan Iran mempunyai beberapa titik temu terutama dalam masalah Palestina dan semangat revolusinya, keduanya juga mempunyai beberapa jurang pemisah terutama dalam memandang ideologi sosialisme komunisme lalu membandingkannya dengan demokrasi liberalisme barat (AS). Ikhwan yang mengalami turbulensi politik berupa pembubaran, penangkapan hingga hukuman mati di negara-negara seperti Mesir, Suriah dan Irak yang mengadopsi ideologi sosialisme melihat blok Soviet dengan komunisme (yang sering diidentikkan dengan atheisme) sebagai sebuah ideologi yang lebih berbahaya ketimbang blok barat yang demokratis dan liberalis. Setidaknya sampai sebelum Uni Soviet bubar—Dr. Musthafa Husni As-Siba’i dan Sosialisme Islamnya adalah pengecualian.

Berbeda dengan Iran yang menganggap bahwa Barat (AS) lebih berbahaya dari Soviet. Bagi Iran, AS adalah penyebab utama kekacauan yang terjadi di timteng, Palestina khususnya. Dalam hal ini, cara pandang Ikhwan terhadap Barat (AS) dan Soviet sangat dekat dengan Saudi, terutama pada masa kepemimpinan Raja Faishal dan era Perang Afghanistan kontra Soviet.

Baca selebihnya »

Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 9)

Oleh: Taufik Yusuf M. Njong

As-Syahid

Muhammad bin Salman berkata, “We had a king who paid with his life trying to counter these people, King Faisal, one of the greatest kings of Saudi Arabia.”

وكان لدينا ملك دفع حياته ثمنًا في مواجهة هؤلاء الناس، الملك فيصل، أحد أعظم ملوك السعودية. ممحد بن سلمان.

“Kami memiliki seorang Raja yang harus membayar hidupnya karena melawan orang-orang itu (Ikhwan). Dia adalah Raja Faishal, salah seorang Raja Saudi terbesar.”

Statemen mengejutkan Putra Mahkota Saudi kepada The Atlantic, April 2018, ini menimbulkan banyak pertanyaan. Apa yang ia maksud? Apakah Raja Faishal dibunuh oleh Ikhwan? Atau justru ia dibunuh karena membela Ikhwan dan isu Palestina?Baca selebihnya »

Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 4)

Dukungan Sang Raja: Faishal bin Abdul Aziz

Sejarawan Ikhwan; Ustadz Mahmud Abdul Halim menceritakan bahwa kepedulian Raja Faishal bin Abdul Aziz terhadap permasalahan Palestina dan hubungan dekatnya dengan Ikhwan sudah terjadi jauh-jauh hari ketika ia masih menjabat sebagai menteri luar negeri. Tepatnya ketika tahun 1938 Pangeran Faishal menghadiri Konferensi Internasional pertama untuk Palestina di Markas Umum Ikhwan Kairo.

“Para pemimpin dan tokoh-tokoh penting utusan-utusan negara Arab dan Islam mulai berdatangan ke Markas Umum Ikhwanul Muslimin. Diantara mereka yang hadir adalah Pangeran Faishal bin Abdul Aziz Alu Sa’ud dan Pangeran Ahmad bin Yahya serta saudara-saudara keduanya. Mereka datang sebagai utusan dari ayah keduanya yaitu Raja Saudi dan Imam Yaman untuk bermusyawarah bersama pemerintah Mesir dan Ikhwan tentang langkah-langkah yang perlu diambil untuk menyelamatkan Palestina.” [1]

Baca selebihnya »