Shaum Ramadhan (Perspektif Aqidah, Akhlak, dan Historis)

Perspektif Aqidah

Pertama, shaum adalah barometer keimanan.

Bukankah seruan perintah shaum ditujukan kepada orang-orang yang beriman kepada Allah? Ya ayyuhalladzina amanu. Maka, bagi seorang muslim, shaum menjadi sarana pembuktian kebenaran iman dan komitmen keislamannya. Renungkan hadits riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut ini,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (pilar): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, hajji, dan puasa Ramadhan”. (HR. Al-Bukhari) Continue reading “Shaum Ramadhan (Perspektif Aqidah, Akhlak, dan Historis)”

Jadikan Ramadan Bulan Pengajaran Al-Qur’an

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (QS. Al-Baqarah, 2: 78).

Ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi. Diceritakan bahwa di antara mereka terdapat orang-orang awam yang mengikuti saja kemauan pendeta-pendeta yang memutar balikkan isi Taurat. Orang-orang awam ini buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis. Mereka hanya dapat menghafal kitab Taurat tetapi tidak dapat memahami makna dan kandungan isinya. Sehingga perbuatannyapun tidak mencerminkan apa yang dimaksud oleh isi Taurat itu. Mereka hanya mendasarkan sesuatu kepada sangkaan saja, tidak sampai kepada tingkat keyakinan yang berdasarkan keterangan-keterangan yang pasti yang tidak ada keraguan lagi. Continue reading “Jadikan Ramadan Bulan Pengajaran Al-Qur’an”