Kaidah 5: Da’i Wajib Mengoptimalkan Upaya Manusiawi Seraya Memohon Bantuan Rabbani

Allah Ta’ala menghendaki dakwah ini dilakukan dengan upaya manusiawi. Oleh karena itu seorang da’i hendaknya mampu memanfaatkan segala sarana dan menempuh proses dalam upaya dakwahnya. Perhatikanlah keteladanan yang diperlihatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; beliau melakukan upaya dakwah dengan menggunakan segala sarana yang ada di masanya. Beliau tidak berpikir, “Toh wahyu turun kepadaku. Tentu akan selalu ada jalan.”

Penerapan kaidah dakwah ini bisa kita lihat dalam rentetan peristiwa sirah nabawiyah. Contohnya, dalam Perang Uhud ketika sebagian sahabat yang menjadi pasukan pemanah melanggar komando Rasul; maka meskipun Rasulullah berada di sekitar mereka dan wahyu turun kepadanya, kegagalan tetap menimpa karena mereka tidak mengambil langkah yang seharusnya. Continue reading “Kaidah 5: Da’i Wajib Mengoptimalkan Upaya Manusiawi Seraya Memohon Bantuan Rabbani”

Kaidah 15: Sarana Modern dan Mengenal Lingkungan adalah Faktor Penting Keberhasilan Dakwah

Jadilah Da’i yang Berwawasan Luas

Dengan semakin berkembangnya zaman dan kehidupan, maka seorang da’i dituntut untuk memliki wawasan yang luas. Sehingga menjadi suatu hal yang urgen bagi seorang da’i untuk mengenal lingkungan sekitarnya secara utuh, baik itu tentang sosial kemasyarakatannya, masalah ekonomi, masalah budaya termasuk pula masalah politik. Seorang da’i yang memiliki wawasan yang luas, maka dia yang akan banyak memberikan pengaruh kepada masyarakat. Ketika seorang da’i diminta untuk memimpin sebuah masyarakat, maka masyarakat itu akan berharap agar sosok  dai tersebut memiliki  wawasan yang luas baik yang sifatnya regional mau pun global. Continue reading “Kaidah 15: Sarana Modern dan Mengenal Lingkungan adalah Faktor Penting Keberhasilan Dakwah”

Kaidah 13: Ikhlas Berdakwah

Kaidah 13: “Dakwah adalah Sesuatu yang Teramat Mulia Hingga Tak Dapat Dijual dengan Materi Sebesar Apa pun.”

Dakwah adalah barang mulia yang tak bisa dibeli dengan segala tawaran dunia. Balasan dunia hanya merusak wibawa dan tidak memperbaiki dakwah. Dai bekerja hanyalah karena perintah Allah Ta’ala.

Kerja dakwah tak sama dengan kerja duniawi. Kerja dakwah lebih tinggi dan lebih sulit. Tak ada kerja yang memiliki seluruh resiko paling buruk seperti resiko berdakwah. Ada resiko nyawa melayang, harta hilang, jauh dari keluarga tersayang, jauh dari tanah air, dan sebagainya. Dan kerja berat seperti ini sama sekali tak bisa dibandingkan dengan seluruh balasan duniawi. Continue reading “Kaidah 13: Ikhlas Berdakwah”

Kaidah Dakwah 12: Dakwah adalah Salah Satu Bentuk Nyata dari Jihad

Oleh: Muhammad Yasin Jumadi, Lc.

Antara Dakwah, Jihad dan Kekerasan

Sebagian da’i menganggap bahwa jihad hanya berarti berperang saja, tidak ada jihad tanpa berperang. Efeknya, timbul orang-orang yang menginginkan perang walau belum waktunya dan tidak sempurna persiapannya. Mereka merasa berdosa jika tidak berperang.

Pemahaman seperti ini tidak sesuai dengan jihad yang dimaksudkan oleh Al-Quran, sunnah, sahabat dan tabi’in. Mengetahui makna jihad secara benar akan menjauhkan kita dari pemahaman jihad yang salah. Continue reading “Kaidah Dakwah 12: Dakwah adalah Salah Satu Bentuk Nyata dari Jihad”

Kaidah 11: Dakwah adalah Seni dan Kepemimpinan yang Memerlukan Perencanaan serta Mutaba’ah

Banyak dai mengira bahwa dakwah adalah mengajak orang kepada kebaikan kapanpun dan di manapun, tanpa harus terikat dengan target dan rancangan yang dipersiapkan sebelumnya. Namun sebenarnya dakwah merupakan sebuah seni yang dipelajari, kaedah dan teknis yang dikembangkan, dan sarana yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Rancangan dakwah yang baik memindahkan dakwah ke spektrum seni yang produktif. Rancangan dakwah adalah gambaran teoritis dakwah yang akan dijalankan. Semakin optimal rancangan dakwah dan cakupannya yang menyeluruh, insyaAllah akan memberi hasil yang diinginkan. Continue reading “Kaidah 11: Dakwah adalah Seni dan Kepemimpinan yang Memerlukan Perencanaan serta Mutaba’ah”