Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 3)

Pada tulisan sebelumnya dijelaskan alasan Nabi saw mengutus Sa’ad bin Muadz untuk memutuskan perkara Yahudi Bani Quraizhah. Maka, Sa’ad pun memutuskan:

Untuk memberikan keputusan atas orang-orang Yahudi Bani Quraizhah yang telah berkhianat pada Perang Ahzab, Nabi saw mengutus seorang sahabatnya Sa’ad bin Muadz. Mengapa perlu Sa’ad bin Muadz yang memberikan kata akhir bagi para pengkhianat itu? Mengapa tidak beliau sendiri?

Continue reading “Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 3)”

Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 2)

Oleh: Hepi Andi Bastoni, MA.

Pada tulisan sebelumnya dijelaskan, untuk memberikan keputusan atas orang-orang Yahudi Bani Quraizhah yang telah berkhianat pada Perang Ahzab, Nabi saw mengutus seorang sahabatnya Sa’ad bin Muadz. Mengapa perlu Sa’ad bin Muadz yang memberikan kata akhir bagi para pengkhianat itu? Mengapa tidak beliau sendiri?

Memang, Nabi saw memiliki wewenang untuk memutuskan hukuman: bunuh mereka, habis perkara! Suku Aus akan tunduk kepadanya. Namun, Nabi saw mengkhawatirkan hal itu akan berbenturan dengan sentimen sebagian pasukannya dari kalangan Aus. Karenanya, beliau memilih solusi yang paling tepat, “Apakah kalian rela bila perkara ini diputuskan oleh salah seorang dari kalian?” Mereka menjawab, “Kami rela. “Rasulullah saw bersabda, ”Orang itu adalah Sa’ad bin Mu’adz.”

Continue reading “Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 2)”