Takwinul Ummah

Pembentukan Umat

Kata ‘umat’ (al-ummah) yang dimaksud disini bermakna ‘golongan’, ‘kelompok manusia’, ‘masyarakat’ atau ‘bangsa’.

Al-ummah bermakna semua komunitas yang segala urusannya terhimpun, baik dalam satu agama tertentu, dalam waktu tertentu atau tempat tertentu, atau himpunan itu terjadi karena ketundukan secara alamiah; atau karena suatu ikhtiar atau usaha yang dikomandoi oleh perorangan atau beberapa orang yang bekerja sama dalam sebuah organisasi untuk tujuan tertentu.  Jamak al-ummah adalah al-umam.  Sedangkan posisi perorangan atau sekelompok orang yang menggerakkan itu, atau seseorang yang menjadi pusat ketundukan tersebut, dikatakan pemimpin (al-imam). Jamak al-imam adalah al-aimmah yang pelembagaannya disebut al-imamah bermakna kepemimpinan.[1]

Continue reading “Takwinul Ummah”

Asasu ‘Amaliyatit Takwin

Landasan Operasional Pembinaan

Di pembahasan sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa setelah tahapan tabligh dan ta’lim; da’i perlu melakukan aktivitas takwin kepada para mad’u-nya, yaitu berupaya menghantarkan pengetahuan mereka kepada gagasan dan pemahaman kemudian mengubah gagasan dan pemahaman itu menjadi gerakan (aktivitas amal dan dakwah).

Landasan operasional aktivitas ini adalah firman Allah Ta’ala berikut ini:

Pertama

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran, 3: 104) Continue reading “Asasu ‘Amaliyatit Takwin”

Karakteristik Dakwah

Dakwah Islamiyah yang benar dan lurus memiliki karakteristik sebagai berikut:

Rabbaniyyah (Berorientasi Ketuhanan)

Dakwah yang benar haruslah berorientasi ketuhanan. Bertujuan hanya menyeru kepada Allah Ta’ala dan agama-Nya, dan bukan bertujuan mencari keuntungan duniawi: harta kekayaan, kedudukan, popularitas, dan sejenisnya.

Renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا

“Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya’” (QS. Al-Furqan, 25: 57) Continue reading “Karakteristik Dakwah”

Al-Istiqamah

Setelah mengenal al-haq dan berpegang teguh pada urwatul wutsqa, sikap yang harus kita jaga selanjutnya adalah beristiqamah, yakni tetap teguh berdiri bersama al-haq hingga akhir hayat. Inilah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada para nabi dan rasul serta seluruh pengikutnya,

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah (istiqamahlah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Hud, 11:112)

Continue reading “Al-Istiqamah”

Qadhiyyatul Ummah

Problematika Umat

Problematika yang mendera umat Islam saat ini terdiri dari dua jenis: Pertama, al-qadhiyyatu kulli zaman (problematika sepanjang zaman). Kedua, al-qadhiyyatul mu’ashirah (problematika kontemporer).

Al-Qadhiyyatu Kulli Zaman

Ini adalah problematika manusia secara umum yang selalu ada di setiap waktu dan zaman, yaitu problematika yang berkaitan dengan kejiwaan manusia (an-nafsul basyariyah). Sebagaimana diketahui, setiap manusia memiliki kecenderungan dan minat (muyul), tabiat dan karakter (thabi’ah), selera dan keinginan (syahwah), serta naluri dan instink (gharaiz) yang berbeda-beda. Perbedaan ini kerap menimbulkan gesekan atau bentrokan diantara manusia. Hal ini karena diantara mereka ada yang mengambil jalan tazkiyah (pembersihan jiwa), dan adapula yang mengambil jalan tadsiyah (pengotoran jiwa). Allah Ta’ala telah mengilhamkan kepada jiwa manusia mana jalan-jalan kefasikan (al-fujur) dan mana jalan ketakwaan (at-taqwa).

Continue reading “Qadhiyyatul Ummah”