Nataiju Ittibair Rasul

Buah dari Mengikuti Rasul

Al-Iman (keimanan) kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus diwujudkan dengan cara ittiba’ (mengikuti) kepada beliau. Seseorang yang rela ittiba’ kepada rasul berarti telah tertanam dalam dirinya tashdiq (pembenaran) dan  tha’ah (ketaatan) sebagaimana disebutkan dalam pembahasan wajibuna nahwar rasul, sehingga ia senantiasa bersedia mengikuti komando Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menjauhi apa yang dilarangnya dan beribadah dengan apa yang disyariatkannya.

Seseorang yang telah memiliki sikap ittiba’ seperti itu akan memetik hasil yang bermanfaat bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Continue reading “Nataiju Ittibair Rasul”

Wazhifatur Rasul

(Tugas Rasul)

Secara garis besar, tugas rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua, yakni hamilu risalatid da’wah (mengemban risalah dakwah) dan iqamatu dinillah (menegakkan agama Allah).

Hamilu Risalatid Da’wah (Mengemban Risalah Dakwah)

Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan aktivitas dakwah agar umat manusia ma’rifatul khaliq (mempelajari, mengetahui, dan mengenal Sang Pencipta; Allah Ta’ala) sehingga mereka bersedia beribadah hanya kepada-Nya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 21) Continue reading “Wazhifatur Rasul”

Shifatur Rasul

(Sifat-sifat Rasul)

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sifat-sifat kerasulan, diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, al-basyariyyatul kamilah (kemanusiaan seutuhnya).

Sebagaimana telah disebutkan di pembahasan sebelumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa seperti manusia yang lainnya; ia bukan bangsa malaikat atau jin, bukan manusia setengah malaikat, dan bukan manusia setengah jin. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bangsa manusia seutuhnya; memiliki jasad seperti manusia pada umumnya, dan memiliki perasaan seperti manusia yang lainnya. Beliau makan, minum, pergi ke pasar, beristeri, berniaga dan lain sebagainya sebagaimana layaknya manusia. Continue reading “Shifatur Rasul”

Wajibuna Nahwar Rasul (Kewajiban Kita Kepada Rasul)

Keyakinan bahwa Muhammad adalah Rasulullah (utusan Allah) mengandung makna sebagai berikut:

Pertama, tashdiquhu fima akhbar (membenarkan apa-apa yang disampaikan olehnya).

Salah satu ciri ketakwaan seorang muslim adalah senantiasa membenarkan apa yang dibawa oleh Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُون

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar, 39: 33) Continue reading “Wajibuna Nahwar Rasul (Kewajiban Kita Kepada Rasul)”

Makanatur Rasul (Kedudukan Rasul)

Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan yang istimewa bagi umat Islam. Namun, kedudukan beliau yang istimewa itu tidak disikapi oleh umat Islam dengan sikap ghuluw (berlebihan), sebagaimana sikap kaum nasrani yang mempertuhankan Nabi Isa ‘alaihissalam.

Umat Islam memposisikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara proporsional sebagaimana diajarkan sendiri oleh beliau. Dari ‘Ubaidillah bin Abdillah dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata di atas mimbar: Continue reading “Makanatur Rasul (Kedudukan Rasul)”