Nataijut Taqwa

Buah-buah Ketakwaan

Dari pembahasan sebelumnya kita telah mengetahui bahwa al-ibadatus salimah (ibadah yang benar) akan menghasilkan ketakwaan di dalam jiwa. Lalu apakah keuntungan yang dapat kita peroleh jika kita menjadi orang yang bertakwa? Berikut ini penjelasan singkatnya.

Pertama, memperoleh ar-rahmah (rahmat Allah Ta’ala).

Hal ini ditegaskan oleh firman-Nya,

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ

“…rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf, 7: 156) Continue reading “Nataijut Taqwa”

Nafsul Insan

Jiwa Manusia

Salah satu bukti kekuasaan Allah Ta’ala adalah diciptakannya an-nafs (jiwa). Ia adalah esensi dalam diri manusia yang bersifat halus yang dapat merasakan sedih, gelisah, cinta, benci, dan atau sejenisnya. Tanpa jiwa, badan manusia nyaris tidak ada bedanya dengan patung.

 Allah Ta’ala telah melakukan penyempurnaan penciptaan jiwa manusia. Diilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan jalan ketakwaan. Sangat beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya dan memupuknya sehingga dapat mencapai kesempurnaan akal dan perbuatan yang membuahkan kebaikan untuk dirinya dan orang lain. Dan sebaliknya orang tidak beruntung ialah orang yang merugikan dan menjatuhkan diri ke dalam jurang kebinasaan disebabkan melakukan perbuatan maksiat dan menjauhkan amal kebaikan dan akan mendapat siksaan di akhirat nanti. Continue reading “Nafsul Insan”

Thaqatul Insan

Potensi Manusia

Allah Ta’ala membekali manusia dengan at-thaqah –potensi-, yaitu as-sam’u (pendengaran), al-basharu (penglihatan), dan al-fuadu (hati). Banyak sekali firman Allah Ta’ala yang menyebutkan tentang hal  ini, diantaranya adalah.

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Katakanlah: ‘Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati’. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. Al-Mulk, 67: 23)

Allah Ta’ala menganugerahkan telinga kepada manusia yang dengannya ia dapat mendengarkan ajaran-ajaran agama Allah yang disampaikan kepadanya oleh rasul-rasul Allah. Dianugerahi-Nya pula manusia mata yang dengannya ia dapat melihat, memandang dan memperhatikan kejadian alam semesta ini. Diberi-Nya manusia hati, akal dan pikiran untuk memikirkan, merenungkan, menimbang dan membedakan mana yang baik bagimu dan mana yang tidak baik, mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak bermanfaat. Sebenarnya dengan anugerah-Nya itu manusia dapat mencapai semua yang baik bagi dirinya sebagai makhluk Allah.[1] Continue reading “Thaqatul Insan”

Syumuliyatul Ibadah

Cakupan Ibadah

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia agar mereka beribadah kepada-Nya, yaitu agar mentaati-Nya dengan ketaatan yang disertai perendahan diri sepenuhnya dan kecintaan. Berikutnya muncul pertanyaan: “Dalam hal apakah ketaatan ini harus dicurahkan?”, “Dalam ranah apakah ibadah itu harus dilakukan?”

Syaikh Yusuf Qaradhawi dalam bukunya Al-Ibadah Fil Islam menyatakan bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut akan menyingkap suatu hakikat yang penting, yaitu cakupan makna ibadah dalam Islam, serta keluasan cakrawalanya.

Pertama, ibadah dalam Islam mencakup persoalan agama seutuhnya (tasymulud dina kulluh).

Syaikh Qaradhawi mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah sebagai berikut: Continue reading “Syumuliyatul Ibadah”

Ta’riful Insan

(Definisi Al-Insan)

Manusia (al-insan) adalah makhluk yang proses kejadiannya berawal dari tidak ada kemudian menjadi ada. Hal ini disebutkan oleh Allah Ta’ala melalui firman-Nya,

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan, 76: 1)

Disebutkan bahwa manusia berasal dari tanah yang tiada dikenal dan disebut-sebut sebelumnya, apa dan bagaimana jenis tanah itu. Continue reading “Ta’riful Insan”