Khilafah (Bag. 7): Berjuang Menegakkan Kembali Khilafah

Dari uraian sebelumnya telah kita ketahui bahwa hukum menegakkan khilafah/imamah adalah fardhu kifayah. Menurut Syaikh Sa’id Hawwa rahimahullah, ini sama halnya seperti jihad dan semacamnya. Jika ada yang menegakkannya maka gugurlah kewajiban ini bagi yang lainnya.

Imam Al-Mawardi rahimahullah mengatakan: “Apabila tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, maka dua golongan dari umat Islam yang menanggung dosa. Pertama, ahli memilih, yaitu ahlul halli wal ‘aqdi dari kalangan para ulama dan tokoh masyarakat, sampai mereka memilih seorang imam bagi umat. Kedua, ahli imamah, yaitu mereka yang memenuhi kriteria menjadi imam, sampai salah seorang di antara mereka diangkat sebagai imam.” Continue reading “Khilafah (Bag. 7): Berjuang Menegakkan Kembali Khilafah”

Khilafah (Bag. 6): Khilafah Hanya Berlangsung 30 Tahun?

Ada dua pendapat berbeda tentang eksistensi khilafah dalam tubuh umat Islam:

Pertama, pendapat sebagian pihak yang memahami bahwa sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kekhalifahan hanya berlangsung 30 tahun. Setelah itu tidak akan ada lagi khilafah, yang ada hanyalah raja-raja. Pendapat ini berdasarkan hadits dari Safinah radhiyallahu ‘anhu – pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam – , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْخِلاَفَةُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكاً بَعْدَ ذَلِكَ

“Khilafah di tengah umatku selama 30 tahun. Kemudian setelah itu diganti kerajaan.” (HR. Ahmad 22568, Turmudzi 2390 dan sanadnya dihasankan Syuaib al-Arnauth). Continue reading “Khilafah (Bag. 6): Khilafah Hanya Berlangsung 30 Tahun?”

Khilafah (Bag. 5): Khilafah Bolehkah Berbilang?

Ulama yang Mewajibkan Kekhalifahan Tunggal

Jumhur ulama menyatakan wajib bagi umat Islam untuk mengangkat seorang pemimpin tunggal. Hal ini diantaranya berdasarkan hadits berikut ini,

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ ، فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا

“Apabila telah terjadi bai’at terhadap dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Muslim) Continue reading “Khilafah (Bag. 5): Khilafah Bolehkah Berbilang?”

Khilafah (Bag. 4): Dasar Kewajiban dan Hukum Menegakkan Khilafah/Imamah

Dasar kewajiban menegakkan Khilafah/Imamah adalah sebagai berikut,[1]

Dalil dari Al-Qur’an:

Pertama, Surat an-Nisa’ ayat 59:

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu.”

Ketika menyebutkan pendapat para mufassir tentang makna ulil amri, Imam ath-Thabari menyimpulkan, “Pendapat yang paling benar adalah pendapat (yang mengatakan, red.), ‘Mereka adalah para penguasa yang menaati Allah dan mendatangkan maslahat bagi kaum muslimin.’” (Jami’ul Bayan, ath-Thabari: 8/502). Continue reading “Khilafah (Bag. 4): Dasar Kewajiban dan Hukum Menegakkan Khilafah/Imamah”

Khilafah (Bag. 2): Urgensi Siyasah, Wilayah, Mulkiyah, dan Khilafah

Sebelum mengulas tentang Khilafah lebih lanjut, kita pun perlu mengetahui bahwa dalam warisan literatur Islam banyak sekali ditemukan ungkapan para ulama berkenaan dengan siyasah (politik), wilayah (kepemimpinan), mulkiyah (kekuasaan), dan khilafah yang menggambarkan tentang urgensi semua itu dalam kehidupan beragama umat Islam. Point penting yang ingin disampaikan disini adalah karakter dan cakupan ajaran Islam yang tidak bisa dipisahkan dari politik syar’iyah. Continue reading “Khilafah (Bag. 2): Urgensi Siyasah, Wilayah, Mulkiyah, dan Khilafah”