Keteladanan Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari

Pada suatu hari di awal abad ke-20, Basyir, salah seorang santri Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari, datang ke Tebuireng. Basyir yang tinggal di kampung Kauman Yogyakarta itu hendak mengadu kepada Syaikh Hasyim tentang seorang tetangganya yang baru pulang dari mukim di Makkah, yang kemudian berbuat “aneh” sehingga memancing kontroversi di masyarakat kampungnya.

“Siapa namanya?” tanya Hadhratus Syaikh.

“Ahmad Dahlan”

“Bagaimana ciri-cirinya?”

Basyir lalu menjelaskannya. Continue reading “Keteladanan Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari”

Mengenal Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari

Sesepuh Nahdlatul Ulama, ormas Islam terbesar di Indonesia ini, lahir pada 24 Dzul Qaidah 1287 Hijriah atau 14 Februari l871 Masehi. Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasannya memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya.

Menuntut Ilmu

Saat usia 15 tahun Hasyim mulai berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Pindah lagi ke Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan ke Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Kiai Cholil. Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi ke Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kiai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Continue reading “Mengenal Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari”