Kaidah 5: Da’i Wajib Mengoptimalkan Upaya Manusiawi Seraya Memohon Bantuan Rabbani

Allah Ta’ala menghendaki dakwah ini dilakukan dengan upaya manusiawi. Oleh karena itu seorang da’i hendaknya mampu memanfaatkan segala sarana dan menempuh proses dalam upaya dakwahnya. Perhatikanlah keteladanan yang diperlihatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; beliau melakukan upaya dakwah dengan menggunakan segala sarana yang ada di masanya. Beliau tidak berpikir, “Toh wahyu turun kepadaku. Tentu akan selalu ada jalan.”

Penerapan kaidah dakwah ini bisa kita lihat dalam rentetan peristiwa sirah nabawiyah. Contohnya, dalam Perang Uhud ketika sebagian sahabat yang menjadi pasukan pemanah melanggar komando Rasul; maka meskipun Rasulullah berada di sekitar mereka dan wahyu turun kepadanya, kegagalan tetap menimpa karena mereka tidak mengambil langkah yang seharusnya. Continue reading “Kaidah 5: Da’i Wajib Mengoptimalkan Upaya Manusiawi Seraya Memohon Bantuan Rabbani”

Kaidah 11: Dakwah adalah Seni dan Kepemimpinan yang Memerlukan Perencanaan serta Mutaba’ah

Banyak dai mengira bahwa dakwah adalah mengajak orang kepada kebaikan kapanpun dan di manapun, tanpa harus terikat dengan target dan rancangan yang dipersiapkan sebelumnya. Namun sebenarnya dakwah merupakan sebuah seni yang dipelajari, kaedah dan teknis yang dikembangkan, dan sarana yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Rancangan dakwah yang baik memindahkan dakwah ke spektrum seni yang produktif. Rancangan dakwah adalah gambaran teoritis dakwah yang akan dijalankan. Semakin optimal rancangan dakwah dan cakupannya yang menyeluruh, insyaAllah akan memberi hasil yang diinginkan. Continue reading “Kaidah 11: Dakwah adalah Seni dan Kepemimpinan yang Memerlukan Perencanaan serta Mutaba’ah”

Kaidah 10: Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah

الزمن عنصر فعال من عناصر الدعوة

“Waktu merupakan bagian terpenting dari komponen dakwah.”

Para da’i banyak yang merasa kecewa ketika tengah berdakwah, dikarenakan mereka telah merasa optimal memberikan penyampaian, namun tetap saja tidak mendapatkan respon yang positif dari mad’u. Perasaan kecewa ini muncul karena ketidakcermatan da’i dalam memperhatikan satu komponen penting dalam berdakwah, yaitu terkait proses kontemplasi yang dilakukan mad’u, dan itu membutuhkan waktu yang cukup. Continue reading “Kaidah 10: Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah”

Kaidah 9: “Medan Dakwah Sangat Luas, Maka Cerdaslah Membuat Prioritas”

Memilah Skala Prioritas dalam Berdakwah

Ketika kita memasuki fase percepatan dalam dakwah ini, maka kesungguhan dalam berdakwah dengan kecerdasan yang tepat menjadi pilihan utama. Lalu dari manakah kita harus memulai dakwah? Berikut point-point skala prioritas dalam berdakwah:

Pertama, mulailah dari yang terdekat sebelum yang jauh

Dakwah tentunya tidak terbatas dengan jarak antara yang dekat dengan yang jauh. Namun tetap ada skala prioritas di sana. Mereka yang dekat dengan kita, seperti kerabat, tetangga, partner kerja merupakan orang-orang yang membutuhkan sentuhan dakwah lebih dahulu, tentunya tanpa menafikan orang-orang yang hidupnya berjauhan jarak dengan kita. Continue reading “Kaidah 9: “Medan Dakwah Sangat Luas, Maka Cerdaslah Membuat Prioritas””

Kaidah 3: Pahala Didapat Karena Melaksanakan Dakwah, Bukan Tergantung Kepada Penerimaannya

” الأجر يقع بمجرد الدعوة ولا يتوقف على الاستجابة “

“Pahala didapat karena melaksanakan dakwah, bukan tergantung kepada penerimaannya”

Kaidah ini meluruskan pemahaman yang sering disalahartikan oleh banyak orang, bahwa pahala haruslah berbanding lurus dengan hasil yang didapat secara zahir, sehingga penilaiannya dapat dihitung secara matematis seperti umumnya pekerjaan duniawi. Apabila cara pandang seperti ini yang dijadikan acuan, maka para nabi bisa dikategorikan gagal dalam mengembankan amanah dakwah, karena dakwah mereka hanya menghasilkan pengikut yang jumlahnya sedikit. Continue reading “Kaidah 3: Pahala Didapat Karena Melaksanakan Dakwah, Bukan Tergantung Kepada Penerimaannya”