Berpartisipasi dalam Amal Jama’i bersama Masyarakat

Manusia adalah makhluk sosial. Mereka memiliki kebutuhan, kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain. Hal ini merupakan    fithrah basyariyah (naluri manusia) sejak awal penciptaan mereka. Dalam Tafsir Ibnu Katsir digambarkan keadaan Adam ‘alaihissalam sebelum kedatangan Hawwa dengan ungkapan “berjalan-jalan sendirian dan kesepian”. Setelah kedatangan Hawwa, lahirlah keturunan dari mereka, laki-laki atau perempuan, sehingga jumlahnya menjadi milyaran umat manusia seperti sekarang ini.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya[1] Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,[2] dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1) Continue reading “Berpartisipasi dalam Amal Jama’i bersama Masyarakat”