Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 8)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Raja Faishal dan Palestina

“I believe that each people, anywhere, has a right to live in their peaceful nation. I believe the Palestinians and the Israelis have the right to have their own land.” Begitulah jawaban Putra Mahkota Saudi Muhammad Bin Salman ketika diwawancarai oleh Jeffrey Goldberg dari majalah The Atlantic pada April 2018 lalu tentang hak kaum Yahudi untuk memiliki sebuah negara di ‘tanah air’ mereka.

Sebelumnya, saya sudah menukil perkataan Raja Faishal saat diwawancarai oleh BBC bahwa hal pertama yang ingin beliau lihat di timteng adalah terhapusnya negara Israel dari muka bumi ini. Raja Faishal menjadikan masalah Palestina sebagai hal prioritas yang harus didahulukan ketimbang kemaslahatan-kemaslahatan lain. Hal ini tidak aneh dikarenakan para penasehat raja Faishal seperti Syeikh Mahmud As-Shawwaf dan Dr. Ma’ruf Ad-Duwailibi adalah tokoh-tokoh Ikhwan.Baca selebihnya »

Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 6)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Tokoh-tokoh Ikhwan di Universitas-Universitas Saudi

Siapa yang pernah mempelajari buku-buku Silsilah Ta’lim Al-lughah Al-Arabiyah di I’dad Lughawi LIPIA Jakarta pasti akan menemukan beberapa kutipan dari tokoh-tokoh Ikhwan seperti Sayyid Qutb, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah atau Ustadz Abdul Qadir Audah. Hal itu tidak mengherankan, karena LIPIA adalah cabang dari Al-Iman Muhammad Ibn Sa’ud University dan Jami’ah Al-Imam Riyadh sudah masyhur sebagai salah satu pusat berkumpulnya para ulama Ikhwan di Saudi era tahun 60 sampai 90an. Mereka mengajar, membuat kurikulum serta menjadi supervisor program magister dan doktoral.

Namun, setelah tahun 2014, Kementerian Luar Negeri Saudi resmi memasukkan Ikhwan dalam list organisasi teroris, entah bagaimana nasib buku-buku tersebut, sudah direvisi ataukah belum. Mengingat Kelompok Salafi yang kemudian diberikan panggung di universitas-universitas Saudi sebagiannya berkeyakinan bahwa tidak boleh memuji ahli bid’ah (kelompok yang mereka tuduh mubtadi’) atau bahkan sekedar untuk menukil pendapat-pendapat mereka.

Baca selebihnya »

Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 5)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Menggagas Universitas Islam Madinah

Seorang teman yang belajar di Universitas Islam Madinah mengirimkan beberapa photo seminar tentang kesesatan Ikhwan di Universitas Islam Madinah. Seminar dengan tema yang hampir sama juga diadakan di universitas-universitas lain di Saudi seperti Al-Imam Muhammad Ibn Sa’ud University di Riyadh, dan lain-lain.

Sekitar 59 tahun yang lalu atau tepatnya tahun 1961, Al-Ustad Abul A’la Al-Maududi diundang oleh Kerajaan Saudi Arabia untuk menjelaskan proyek pendirian Universitas Islam Madinah. Pada bulan Desember tahun tersebut beliau berangkat ke Riyadh dan menjelaskan ide proyek tersebut kepada para tokoh-tokoh dan ulama yang akan mendirikan universitas. Beliau bermusyawarah dengan mereka hingga disepakatilah kurikulum Universitas, dan Ustadz Al-Maududi terpilih sebagai salah seorang anggota majelis (pendiri) Universitas.[1]

Baca selebihnya »

Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 2)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Wahabiyah vs Salafiyah Ishlahiyah?

Siapa Hasan Al-Banna? Siapa saja yang mempengaruhinya? Jawaban dari pertanyaan ini akan menuntun kita untuk mengetahui sejauh mana Ikhwan nantinya bisa berjalan beriringan bersama Wahabisme atau malah berbenturan. Tidak mudah memang mendeskripsikan siapa Hasan Al-Banna. Namun, kita bisa meraba-raba kemana arah pemikirannya dengan melihat kepada dan dengan siapa ia pernah berguru dan berinteraksi serta kitab-kitab apa saja yang ia baca dan mempengaruhinya.

Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna As-Sa’aty—ayahanda Al-Banna—adalah salah satu ulama yang paling berpengaruh terhadap Al-Banna, terutama dalam ilmu hadis. Beliau menyusun kitab Al-Fath Ar-Rabbani Li At-Tartib Musnad Imam Ahmad Ibn Hanbal As-Syaibani dalam 22 jilid.[1] Beliau menyusun Musnad Imam Ahmad berdasarkan urutan yang detail, dimulai dengan tauhid, fiqih, tafsir, targhib dan tarhib, tarikh, kiamat dan ahwal al-akhirah. Beliau mengklaim: “Saya tidak mengetahui ada orang lain yang pernah mendahului saya dalam penyusunan seperti ini”.

Baca selebihnya »