Ar-Ridha

Manakala seseorang telah menyatakan bahwa Ilah-nya adalah Allah Ta’ala, maka salah satu tuntutan dan konsekuensi yang harus dipenuhinya adalah sikap ridha kepada-Nya.

Sebagai seorang mu’min, kita harus ridha terhadap ma aradallah -apa-apa yang Allah kehendaki-:

Pertama, Ma aradallahu bina -apa-apa yang Allah kehendaki atau Allah tetapkan atas diri kita- di ‘alamul ghaib (alam ghaib), seperti: kehendak-Nya menciptakan kita dalam satu jenis kelamin tertentu, lahir dari orangtua/keluarga tertentu, pemberian rizki tertentu, berjodoh dengan orang tertentu, mengalami kejadian tertentu, dan lain-lain. Itulah semua yang disebut al-qadha-u wal qadar. Continue reading “Ar-Ridha”

Advertisements

Membangun Kepribadian Islami

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibanding dengan makhluk-makhluk Allah Ta’ala lainnya. Hal ini ditegaskan oleh firman-Nya,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka didaratan dan dilautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan  yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (QS Al Isra:70.) Continue reading “Membangun Kepribadian Islami”

Shifatul Insan (Bag. 2)

Sedangkan jiwa kita akan menjadi kotor apabila kita membiarkan sifat-sifat tidak terpuji bersarang di dalamnya, di antara sifat-sifat tidak terpuji itu adalah:

Pertama, tergesa-gesa (‘ajulan).

Allah Ta’ala menyebutkan tentang hal ini dengan firman-Nya,

وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

“Dan manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra, 17:11) Continue reading “Shifatul Insan (Bag. 2)”

Shifatul Insan (Bag. 1)

Di dalam pembahasan madah Nafsul Insan, kita sudah mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah mengilhamkan kepada jiwa manusia jalan-jalan kefasikan (al-fujur) dan jalan ketakwaan (at-taqwa).

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia (Allah) mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya…” (QS. As-Syams, 91: 7 – 8) Continue reading “Shifatul Insan (Bag. 1)”

Tauhidul Ibadah

Mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah (tauhidul ibadah) diimplementasikan dengan cara menanamkan sikap Ikhlash.

Apa itu ikhlas? Untuk memahami makna ikhlas perhatikan uraian singkat berikut ini.

Setiap sesuatu dapat ternoda/terkotori oleh yang lain. Jika sesuatu itu bersih dan terhindar dari kotoran, maka sesuatu itu dinamakan khalis (اَلْخَالِصُ). Sebagai contoh, susu yang bersih disebut لَبَنًا خَالِصًا (labanan khalishan, lihat: An-Nahl ayat 66), karena terhindar dari kotoran dan darah atau yang lainnya. Continue reading “Tauhidul Ibadah”