Fadhailud Da’wah (Keutamaan Dakwah)

Dakwah adalah aktivitas menyeru manusia kepada Allah Ta’ala dengan hikmah dan pelajaran yang baik dengan harapan agar objek dakwah (mad’u) yang kita dakwahi beriman kepada Allah Ta’ala dan mengingkari thaghut (semua yang diabdi selain Allah) sehingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.

Jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran maupun hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan banyak menemukan pembicaraan mengenai fadhail (keutamaan) dakwah yang luar biasa. Penting bagi kita untuk mengetahui, memahami, dan menghayati tentang keutamaan dakwah ini, agar memiliki motivasi yang kuat untuk berdakwah dan bergabung bersama kafilah dakwah dimanapun ia berada; juga dapat menjaga konsistensi, semangat, serta menjadikan kita merasa ringan menghadapi beban dan rintangan dakwah betapapun beratnya. Continue reading “Fadhailud Da’wah (Keutamaan Dakwah)”

Advertisements

Amanah dalam Pandangan Islam

Secara bahasa, amanah berasal dari kata bahasa Arab : أَمِنَ يَأْمَنُ أَمْناً  yang berarti aman/tidak takut.[1] Dengan kata lain, aman adalah lawan dari kata takut. Dari sinilah diambil kata amanah yang merupakan lawan dari kata khianat. Dinamakan aman karena orang akan merasa aman menitipkan sesuatu kepada orang yang amanah.

Secara istilah, ada sebagian orang yang mengartikan kata amanah secara sempit yaitu menjaga barang titipan dan mengembalikannya dalam bentuk semula. Padahal sebenarnya hakikat amanah itu jauh lebih luas. Amanah menurut terminologi Islam adalah setiap yang dibebankan kepada manusia dari Allah Ta’ala seperti kewajiban-kewajiban agama, atau dari manusia seperti titipan harta.[2] Continue reading “Amanah dalam Pandangan Islam”

Mewaspadai Ideologi Takfir

Latar Belakang Munculnya Takfir

Fenomena kemaksiatan di tengah masyarakat Islam memang sudah sedemikian parah. Budaya permisivisme dan hedonisme bebas menyerbu masyarakat kita tanpa ada pencegahan yang berarti. Entah sadar atau tidak, sebagian media informasi turut andil menyiarkan dan menyebarkan kebatilan itu dengan berbagai kemasan. Seks bebas, pelacuran, pemerkosaan, pencurian, miras, narkotika, kolusi di antara penguasa serta pelecehan hukum dan agama terus bergulir menjadi tontonan harian. Sementara itu, sebagian ulama terlihat ‘adem ayem’ dan ‘toleran’. Mereka seolah tak berdaya melawan berbagai penyimpangan agama yang menari-nari di depan batang hidungnya. Continue reading “Mewaspadai Ideologi Takfir”

Kaidah 15: Sarana Modern dan Mengenal Lingkungan adalah Faktor Penting Keberhasilan Dakwah

Jadilah Da’i yang Berwawasan Luas

Dengan semakin berkembangnya zaman dan kehidupan, maka seorang da’i dituntut untuk memliki wawasan yang luas. Sehingga menjadi suatu hal yang urgen bagi seorang da’i untuk mengenal lingkungan sekitarnya secara utuh, baik itu tentang sosial kemasyarakatannya, masalah ekonomi, masalah budaya termasuk pula masalah politik. Seorang da’i yang memiliki wawasan yang luas, maka dia yang akan banyak memberikan pengaruh kepada masyarakat. Ketika seorang da’i diminta untuk memimpin sebuah masyarakat, maka masyarakat itu akan berharap agar sosok  dai tersebut memiliki  wawasan yang luas baik yang sifatnya regional mau pun global. Continue reading “Kaidah 15: Sarana Modern dan Mengenal Lingkungan adalah Faktor Penting Keberhasilan Dakwah”

Dakwah ke Thaif

Penyebab Rasulullah Keluar dari Makkah

Setelah wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib, tekanan kaum musyrikin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin meningkat. Dakwah di tengah masyarakat Quraisy sangat sulit dilakukan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari sana untuk mencari tempat lain, barangkali dapat ditemukan hati yang membuka diri untuk beriman dan mendukung agama Allah ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke Thaif dengan harapan akan mendapatkan penolong dakwah dari suku Tsaqif serta menenangkan diri sejenak dari tekanan kaumnya (suku Quraisy). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berharap Bani Tsaqif akan menerima agama Islam dengan baik. Saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Continue reading “Dakwah ke Thaif”