Perang Khaibar (Bag. 5)

Kisah Unik Usai Perang Khaibar

Pada tulisan sebelumnya dijelaskan tentang kemenangan umat Islam dalam Perang Khaibar dan keberhasilan mereka menalukkan benteng-benteng Khaibar. Banyak kisah unik sarat pelajaran yang terjadi pada peperangan itu. Sebagian kisah itu, kami sajikan untuk Anda, para pembaca.

Dua Bidadari untuk Sang Penggembala

Sejarah mencatat identitasnya dengan nama al-Aswad. Ia seorang penggembala kambing milik Yahudi Khaibar. Ketika Rasulullah saw mengepung salah satu benteng Khaibar, al-Aswad datang bersama kambing-kambing gembalaannya.

Begitu bertemu Nabi saw, ia pun berseru, “Ya Rasulullah, terangkan kepadaku mengenai Islam.”

Rasulullah saw pun menerangkan kepadanya tentang Islam. Spontan tanpa pikir panjang, ia pun masuk Islam. Memang, Rasulullah saw tak pernah meremehkan seorang pun untuk menyeru dan menerangkan kepadanya tentang Islam. Siapa pun yang datang kepadanya, selalu ia sambut dengan riang. Tanpa pilih kasih meski sekadar seorang penggembala kambing. Continue reading “Perang Khaibar (Bag. 5)”

Advertisements

Perang Khaibar (Bag. 4)

Peristiwa Penting Usai Kemenangan Khaibar

Memahami apa yang dilakukan Nabi saw usai penaklukkan Khaibar akan memudahkan kita memetik hikmah dari yang terjadi. Ini penting mengingat Perang Khaibar bukan hanya akhir riwayat Yahudi di masa Nabi saw tapi juga menjadi awal bagi futuhaat (pembebasan) berikutnya. Kita mulai dari peristiwa kepulangan Nabi saw dari Khaibar menuju Madinah.

Setelah berhasil menaklukkan Khaibar, Fada, Wadil Qura dan Taima, Rasulullah saw kembali ke Madinah. Dalam kepulangan itu, beliau melakukan perjalanan pada malam hari. Di akhir malam, beliau beristirahat untuk tidur. Beliau berkata kepada Bilal, “Jagalah kami malam ini.”

Namun Bilal tidak dapat menahan kantuk. Ia pun tertidur sambil bersandar di kendaraannya. Tak seorang pun yang bangun sampai mereka terkena sengatan matahari. Yang pertama kali bangun adalah Rasulullah saw. Continue reading “Perang Khaibar (Bag. 4)”

Perang Khaibar (Bag. 3)

Setelah wilayah Nathah dan asy-Syiq ditaklukkan, Rasulullah saw mengalihkan sasaran ke penghuni ketiga benteng selanjutnya, yakni Benteng al-Katibah, al-Withih dan al-Salalim. Ketiga benteng ini milik Abul Haqiq dari Bani Nadhir. Orang-orang Yahudi yang kalah dan melarikan diri dari Nathah dan asy-Syiq bergabung dengan penghuni benteng-benteng tersebut dan bertahan di sana.

Para pakar sejarah peperangan berbeda pendapat, apakah di tiga benteng itu terjadi pertempuran atau tidak. Riwayat Ibnu Ishaq menyebutkan secara jelas terjadinya penaklukkan benteng al-Qamush. Bahkan, dari alur riwayat yang disampaikan dapat disimpulkan bahwa benteng ini ditaklukkan hanya dengan pertempuran tanpa perundingan serah terima.[1]

Sedangkan al-Waqidi mengemukakan secara jelas bahwa ketiga benteng di wilayah kedua ini diambil setelah terjadinya perundingan. Ada kemungkinan bahwa perundingan terjadi untuk menyerahkan benteng al-Qamush, setelah terjadi pertempuran. Sedangkan benteng yang lain diserahkan kepada kaum Muslim tanpa pertempuran. Continue reading “Perang Khaibar (Bag. 3)”

Perang Khaibar (Bag. 2)

Menaklukkan Benteng Khaibar

Jarak Madinah dan Khaibar sekitar 80 mil atau 120 km. Saat menempuh perjalanan itu, ada kisah menarik yang terjadi. Menarik untuk kita telaah sebelum menguraikan kisah perang Khaibar yang sebenarnya.

Kisah ini dituturkan oleh Salamah bin al-Akwa. Sosok inilah yang digelari dengan Pahlawan Pasukan Pejalan Kaki lantaran berhasil menghalau musuh pada peristiwa Perang Dzi Qarad. Salamah menuturkan, “Kami berangkat ke Khaibar bersama Nabi Muhammad saw. Kami melakukan perjalanan  di malam hari. Ada seseorang berkata kepada Amir bin al-Akwa (saudaranya), seorang penyair, “Maukah engkau memperdengarkan suaramu?”

Amir pun turun dan menggiring unta-unta yang dikendarai kaum Muslimin sambil melantunkan syair: Continue reading “Perang Khaibar (Bag. 2)”

Perang Khaibar (Bag. 1)

(Akhir Perlawanan Yahudi di masa Nabi)

Oleh: Hepi Andi Bastoni, MA

Dr Munir Muhammad Ghadhban dalam karyanya al-Manhaj al-Haraki, menyebut Perang Khandaq sebagai produk murni orang-orang Yahudi.[1] Merekalah yang menggagas, mempelopori dan membentuk pasukan Ahzab untuk melenyapkan umat Islam dari Madinah. Dari mana mereka bergerak? Bukankah dua kelompok Yahudi (Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir) sudah dienyahkan dari Madinah kala itu? Ya, mereka bergerak dari Khaibar. Sebuah wilayah yang kaya dengan sumber daya alam dan memiliki benteng-benteng pertahanan yang kokoh. Dari tempat inilah mereka merencanakan dan melaksanakan ide besar untuk merebut kembali Madinah bersama dengan musuh-musuh Islam kala itu.

Nabi saw mengetahui bahwa otak segala perencanaan dan pembiayaan Perang Khandaq dikendalikan orang-orang Yahudi. Karena itu, begitu berhasil mengusir pasukan Ahzab dari pinggiran Madinah, Nabi saw segera menyerbu Yahudi Bani Quraizhah yang juga bersekutu dengan pasukan Ahzab. Saat itu, Yahudi Bani Quraizhah sebagai satu-satunya kabilah yang masih diizinkan tinggal di Madinah. Mereka berhasil dilumpuhkan. Lebih dari 600 orang dipenggal kepalanya lalu dimasukan ke dalam lubang yang sudah disediakan sebelumnya.[2] Itulah ganjaran bagi pengkhianat. Continue reading “Perang Khaibar (Bag. 1)”