Prinsip 7: Persatuan Umat Islam

Kita meyakini bahwa perbedaan dalam cabang-cabang agama—entah dalam bidang akidah ataupun amal ibadah—adalah sesuatu yang pasti terjadi dan ia tidak akan menimbulkan efek yang buruk dan berbahaya jika disertai adab-adab berbeda pendapat. Bahkan, ia merupakan sebuah keniscayaan, rahmat, dan kelapangan.

Keinginan ilahi menghendaki adanya perbedaan pemahaman manusia terhadap agama. Perbedaan tersebut beranjak dari tuntutan bahasa. Pasalnya, bahasa yang dipergunakan sebagai sumber acuan agama ini mengandung hakikat dan kiasan, ekplisit dan implisit, umum dan khusus, mutlak dan terikat, dan sebagainya. Di dalamnya terdapat perbedaan pemahaman.

Lanjutkan membaca “Prinsip 7: Persatuan Umat Islam”

Prinsip 6: Akhlak yang Mulia

Kita meyakini bahwa Islam sangat memperhatikan masalah akhlak sampai-sampai Allah Swt. memuji Rasul-Nya dengan berkata,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Engkau betul-betul berada di atas akhlak yang agung.[1]

Bahkan, Rasul menegaskan misinya kepada kita dengan bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.[2]

Lebih dari itu, Islam menjadikan berbagai kewajiban ibadah yang merupakan rukun Islam memiliki sasaran moral dan akhlak. Ia bertujuan meralisasikan akhlak tersebut dalam kehidupan manusia. Apabila sasaran tersebut tidak tercapai, berarti ibadahnya tidak sempurna dan layak tidak diterima oleh Allah.

Lanjutkan membaca “Prinsip 6: Akhlak yang Mulia”

Prinsip 5: Ibadah

Kita meyakini bahwa Allah telah menciptakan makhluk yang mukallaf (diberi tugas) untuk beribadah secara benar kepada Allah; Zat yang telah mencipta mereka dan memberikan berbagai karunia kepada mereka. Seperti karunia hidup, akal, kemampuan berbicara, ditundukkannya alam untuk kepentingan manusia, diutusnya para rasul kepada mereka, diturunkannya kitab suci atas mereka, serta seluruh karunia yang membuatnya bisa hidup.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Karunia apapun yang ada padamu berasal dari Allah.[1]

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.[2] (QS Ibrâhîm: 34 dan al-Nahl: 18). Lanjutkan membaca “Prinsip 5: Ibadah”

Prinsip 4: Iman Kepada Seluruh Rasul

Kita meyakini bahwa Allah Swt. berdasarkan hikmah-Nya yang mendalam dan rahmat-Nya yang luas tidak membiarkan manusia begitu saja dan tidak meninggalkan mereka dengan sia-sia. Akan tetapi, Dia mengutus kepada mereka sejumlah rasul yang memberikan kabar gembira dan peringatan.

لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

Agar tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya para rasul tersebut.[1]

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Supaya kalian menyembah Allah dan menjauhi thôghût.[2]

Lanjutkan membaca “Prinsip 4: Iman Kepada Seluruh Rasul”

Prinsip 3: Keimanan terhadap Hari Akhir

Kita beriman bahwa kematian bukan akhir perjalanan dan bahwa manusia diciptakan untuk kekal selamanya. Akan tetapi, kematian memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain; dari negeri ujian ke negeri balasan. Hari ini adalah kerja tidak ada hisab. Sementara, esok adalah hisab tidak ada kerja. Di akhirat seluruh jiwa diberi balasan sesuai dengan amal yang ia lakukan dan abadi menurut amal yang telah dikerjakan.

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ. فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ.

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan meski  seberat biji atom, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Serta barangsiapa yang mengerjakan kejahatan meski sebesar biji atom, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[1]

Lanjutkan membaca “Prinsip 3: Keimanan terhadap Hari Akhir”