Prinsip 13: Islam dan Keluarga

Kita meyakini bahwa keluarga adalah pondasi sosial, sementara pernikahan yang sah yang sesuai dengan fitrah yang dikenal oleh para pemeluk agama merupakan pondasi dasar keluarga. Ia merupakan satu-satunya cara untuk membangun keluarga. Kita menolak segala cara yang menyimpang seperti nikah sejenis, dan yang lainnya.

Karenanya Islam mendorong pernikahan, memudahkan sarananya, serta melenyapkan berbagai penghalang ekonomi dan sosial melalui pembinaan dan pemberlakuan hukum secara bersamaan. Di sisi lain, Islam juga menolak berbagai tradisi yang tidak sesuai seperti mahalnya mahar, tingginya beban walimah, berbagai hadiah untuk pengantin yang melampau batas, berlebihan dalam berpakain dan perhiasan serta berfoya-foya dalam hal yang Allah dan Rasul-Nya murkai. Sebab, semua itu dapat  memperlambat  dan mempersulit pernikahan.

Baca selebihnya »

Prinsip 12: Islam dan Wanita

Kita meyakini sesungguhnya Islam memuliakan wanita karena dia adalah manusia. Wanita mendapat beban yang sempurna, seperti pria, dia memiliki hak dan kewajiban. Allah swt berfirman:

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

“Maka Tuhan memperkenankan permohonan mereka (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kalian adalah turunan dari sebagian yang lain.'”[1]

Baca selebihnya »

Prinsip 11: Islam dan Manusia

Pertama, manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk yang dimuliakan.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ

Kami telah memuliakan manusia.[1]

Ia dijadikan sebagai khalifah di muka bumi untuk memakmurkannya,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Ingatlah ketika Tuhan berkata kepada malaikat, ”Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi.”[2]

Karena manusia dimuliakan dan diangkat sebagai khalifah, Allah posisikan ia sebagai pimpinan bagi seluruh makhluk serta Dia tundukkan semua untuk melayaninya,

Baca selebihnya »

Prinsip 10: Islam, Sikap Moderat, dan Integralitas

Kita berpegang pada konsep moderat yang positif yang tegak di atas keseimbangan dalam memandang berbagai persoalan agama dan dunia; tanpa berlebihan dan mengabaikan. Tidak boleh berlebihan dalam timbangannya dan tidak boleh mengurangi. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt.,

أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ . وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Supaya kamu tidak melampaui batas dalam neraca itu. Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca tersebut.[1]Baca selebihnya »

Prinsip 9: Syariah, Fiqih, dan Ijtihad

Pertama, kita berpandangan bahwa syariah Islam adalah wahyu Allah Swt. yang tercermin dalam Alquran al-Karîm dan sunnah Nabi yang sahih. Sementara, fiqih Islam adalah aktivitas akal seorang muslim yang berijtihad dalam rangka memahami Alquran dan as-Sunnah, serta mengambil kesimpulan hukum amaliyah darinya. Dengan demikian, syariah adalah wahyu Tuhan, sementara fiqih adalah hasil aktivitas manusia.

Hanya saja, fiqih tersebut dalam ijtihad, pemikiran, dan melakukan istinbath hukumnya harus mengacu kepada pertimbangan syariah, rasio, dan bahasa yang harus dijadikan pegangan oleh muslim. Kaum muslimin telah berhasil menemukan sebuah ilmu yang dianggap sebagai salah satu kebanggaan warisan ilmiah Islam. Yaitu ilmu ushul fiqih yang menjadi acuan dalam memberikan sebuah dalil terkait dengan sesuatu yang ada nash-nya  ataupun yang tidak ada nash-nya. Bahkan sebelum ilmu ushul fiqih ditulis dengan cara metodologis, para fuqaha sudah mengacu kepada kaidah-kaidahnya meski istilah dan namanya belum ada. Cara tersebut dilakukan baik oleh kalangan yang lebih cenderung kepada atsar (naql) maupun oleh kalangan yang lebih cenderung mempergunakan akal.Baca selebihnya »