Afatul Lisan (Bahaya Lidah)

Diantara bagian tubuh yang harus kita jaga dengan sungguh-sungguh adalah lidah atau lisan kita. Ketahuilah, sekerat daging ini dapat mendatangkan keridhoan Allah ta’ala dan membawa kita ke surga jika digunakan untuk taat kepada-Nya; namun sebaliknya, ia dapat pula mendatangkan murka Allah Ta’ala dan menjerumuskan kita ke neraka jika digunakan untuk maksiat kepada-Nya.

Perhatikanlah hadits-hadits berikut ini:

Dari Sahl bin Sa’ad As-Saidi radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menjamin untukku bisa menjaga apa yang ada di antara dua janggutnya (janggut dan kumis) dan apa yang ada di antara kedua kakinya, maka aku menjamin surga untuknya.” (HR. Al-Bukhari no. 6474) Continue reading “Afatul Lisan (Bahaya Lidah)”

Amanah dalam Pandangan Islam

Secara bahasa, amanah berasal dari kata bahasa Arab : أَمِنَ يَأْمَنُ أَمْناً  yang berarti aman/tidak takut.[1] Dengan kata lain, aman adalah lawan dari kata takut. Dari sinilah diambil kata amanah yang merupakan lawan dari kata khianat. Dinamakan aman karena orang akan merasa aman menitipkan sesuatu kepada orang yang amanah.

Secara istilah, ada sebagian orang yang mengartikan kata amanah secara sempit yaitu menjaga barang titipan dan mengembalikannya dalam bentuk semula. Padahal sebenarnya hakikat amanah itu jauh lebih luas. Amanah menurut terminologi Islam adalah setiap yang dibebankan kepada manusia dari Allah Ta’ala seperti kewajiban-kewajiban agama, atau dari manusia seperti titipan harta.[2] Continue reading “Amanah dalam Pandangan Islam”

Tajarrud

Ustadz  Hasan Al-Banna rahimahullah berkata tentang sikap tajarrud,

أُرِيْدُ بِالتَجَرُّدِ: أَنْ تَتَخَلَّصَ لِفِكْرَتِكَ مِمَّا سِوَاهَا مِنَ الْمَبَادِئِ وَالأَشْخَاصِ، لأَنَّهَا أَسْمَى الْفِكْرِ وَأَجْمَعُهَا وَ أَعْلاَهَا

“Yang saya maksud dengan tajarrud (kemurnian) adalah bahwa engkau harus membersihkan pola pikirmu dari berbagai prinsip nilai lain dan pengaruh individu, karena ia adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap fikrah.” Continue reading “Tajarrud”

Sudahkah Shalatmu Khusyu’?

 

Semua penetapan kewajiban ibadah disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui malaikat Jibril. Namun, tidak demikian halnya dengan shalat  yang penetapan kewajibannya disampaikan secara langsung oleh Allah Ta’ala melalui peristiwa besar, Isra’ dan Mi’raj.

Shalat adalah ibadah yang paling utama di dalam Islam. Seorang muslim diwajibkan mengerjakannya lima kali sehari semalam, di tambah lagi dengan shalat-shalat sunnah. Ia adalah amal pertama yang akan ditanyakan oleh Allah Ta’ala ketika seseorang masuk ke dalam kuburnya. Jika pada ibadah lain—misalnya  haji dan zakat—kewajibannya disyaratkan adanya istitha’ah (kemampuan)[1],  maka dalam shalat tidak ada yang dapat menggugurkan kewajibannya selagi ia masih dalam keadaan sadar. Jika tidak dapat dilakukan dengan berdiri, maka ia dapat dilakukan dengan duduk, berbaring, atau dengan isyarat. Continue reading “Sudahkah Shalatmu Khusyu’?”