Mengenal Keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib

Pribadi dan Keutamaannya

‘Ali putra Abu Thalib putra Abdul Muthallib putra Hasyim. Ibunya bernama Fathimah binti Asad putra Hasyim.

Nasabnya: Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah.

Ali memiliki beberapa orang saudara laki-laki yang lebih tua darinya, mereka adalah: Thalib, Aqil, dan Ja’far. Dan dua orang saudara perempuan; Ummu Hani’ dan Jumanah.

Baca selebihnya »

Gelombang Fitnah Pada Masa Pemerintahan Utsman bin Affan

Dari pembahasan sebelumnya kita telah mengetahui keutamaan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Dia adalah salah satu sahabat yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga, bahkan ia disebut oleh beliau sebagai temannya di surga.

Utsman bin Affan dialah dzunurain (pemilik dua cahaya), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahkan dua putrinya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, kepada laki-laki pencatat Al-Qur’an ini. Saat umat mengalami kekeringan, dialah yang membeli sumur Raumah dan memberikannya untuk kepentingan umat Islam. Dia pula yang membiayai jaisyul ‘usrah (pasukan Perang Tabuk).

Konspirasi Gerakan Terselubung

Namun, keutamaan-keutamaan itu tidak dipandang oleh kaum bodoh dan pendengki. Pada masa-masa akhir pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu gelombang fitnah datang bertubi-tubi hingga ia gugur syahid dalam keadaan terzalimi.Baca selebihnya »

Wafatnya Imam Al-Ghazali

(14 Jumadil Akhir 505 H / 17 Desember 1111 M)

Abu Hamid Al-Ghazali. Pengarang kitab Ihya Ulumuddin ini adalah anak seorang pengrajin kain shuf (kain yang dibuat dari kulit domba). Setelah ayahnya itu meninggal, sesuai wasiatnya, Al-Ghazali dititipkan kepada temannya yang saleh yang kemudian mengajarinya ilmu.

Selanjutnya Al-Ghazali mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi. Selanjutnya ia pergi ke kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan sehingga menguasai fikih mazhab Syafi’i dengan baik. Ia pun menguasai fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat.Baca selebihnya »

Capaian-Capaian Pada Zaman Utsman Ibn Affan (Bag. 2)

Penjagaan Wilayah

Pada masa Utsman dilakukan penumpasan terhadap pemberontakan yang terjadi di beberapa negeri yang telah masuk ke bawah kekuasaan Islam di zaman Umar, diantaranya adalah wilayah Khurasan dan Iskandariyah.

Armada Laut Islam Pertama

Pada masanya dilakukan pula futuhat (penaklukan wilayah). Pada tahun 27 H (649 M) umat Islam mulai memiliki armada laut. Hal ini menjadi perwujudan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummu Haram binti Malham radhiyallahu ‘anha, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ الْبَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا

Pasukan pertama dari umatku yang berperang mengarungi lautan telah dipastikan bagi mereka (yakni surga)”.Baca selebihnya »

Capaian-capaian Pada Zaman Utsman ibn Affan (Bag. 1)

Kodifikasi Al-Qur’an

Salah satu hal yang penting yang muncul akibat perluasan wilayah Islam adalah munculnya berbagai perbedaan dalam qira’ah Al-Qur’an. Hal ini disebabkan setiap daerah memiliki dialek bahasa tersendiri, dan setiap kelompok mengikuti qira’ah para sahabat terkemuka.

Hudzaifah ibn  al-Yaman menyaksikan fenomena perbedaan pendapat mengenai qira’ah Al-Qur’an ini setelah menaklukkan Armenia dan Azerbeijan bersama pasukan Syria dan Irak. Penduduk Syria mengikuti qira’ah Ubay ibn Ka’ab, sedangkan penduduk Irak mengikuti qira’ah Abdullah ibn Mas’ud. Mereka terkejut karena mendapati pihak lain membaca Al-Qur’an dengan qira’ah yang berbeda.Baca selebihnya »