Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 3)

Pada tulisan sebelumnya dijelaskan alasan Nabi saw mengutus Sa’ad bin Muadz untuk memutuskan perkara Yahudi Bani Quraizhah. Maka, Sa’ad pun memutuskan:

Untuk memberikan keputusan atas orang-orang Yahudi Bani Quraizhah yang telah berkhianat pada Perang Ahzab, Nabi saw mengutus seorang sahabatnya Sa’ad bin Muadz. Mengapa perlu Sa’ad bin Muadz yang memberikan kata akhir bagi para pengkhianat itu? Mengapa tidak beliau sendiri?

Continue reading “Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 3)”

Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 2)

Oleh: Hepi Andi Bastoni, MA.

Pada tulisan sebelumnya dijelaskan, untuk memberikan keputusan atas orang-orang Yahudi Bani Quraizhah yang telah berkhianat pada Perang Ahzab, Nabi saw mengutus seorang sahabatnya Sa’ad bin Muadz. Mengapa perlu Sa’ad bin Muadz yang memberikan kata akhir bagi para pengkhianat itu? Mengapa tidak beliau sendiri?

Memang, Nabi saw memiliki wewenang untuk memutuskan hukuman: bunuh mereka, habis perkara! Suku Aus akan tunduk kepadanya. Namun, Nabi saw mengkhawatirkan hal itu akan berbenturan dengan sentimen sebagian pasukannya dari kalangan Aus. Karenanya, beliau memilih solusi yang paling tepat, “Apakah kalian rela bila perkara ini diputuskan oleh salah seorang dari kalian?” Mereka menjawab, “Kami rela. “Rasulullah saw bersabda, ”Orang itu adalah Sa’ad bin Mu’adz.”

Continue reading “Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 2)”

Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 1)

Oleh: Hepi Andi Bastoni, MA

Pekan terakhir Dzulqa’dah 5 Hijriyah. Matahari mulai meninggi. Rasulullah saw dan para shahabatnya berjalan pelan meninggalkan Khandaq. Perang Ahzab baru saja usai. Umat Islam keluar sebagai pemenang. Pasukan Ahzab yang jumlahnya mencapai 10 ribu prajurit terpaksa meninggalkan Madinah dengan tangan hampa setelah mengepung kota itu hampir sebulan. Mereka gagal menghabisi kaum Muslimin. Bahkan, dalam pertempuran yang lebih mengedepankan perang urat syaraf ini, korban Pasukan Ahzab lebih banyak, mencapai 10 orang. Sedangkan syahid dari umat Islam hanya enam orang.

Continue reading “Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 1)”

Iqomatud Din

Menegakkan Agama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita bagaimana dakwah yang manhaji (sistematis). Jauh dari sikap dan tindakan emosional (infi’aliyah), reaksioner, nekad, ceroboh, atau sembrono (tahawwur); apalagi bertindak asal-asalan (‘afawiyyah), tanpa bashirah (ilmu/pandangan jauh ke depan), atau beramal secara tarqi’iyyah (tambal sulam).

Dalam perjuangannya menegakkan agama Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu sabar melangkah dan memperhatikan realita. Ada dua marhalah (fase) yang beliau lalui dalam gerak dakwahnya: marhalatut ta’sis (al-makkiyyah) dan marhalatut tamkin (al-madaniyyah). Di antara dua marhalah itu ada peristiwa al-hijrah (hijrah) sebagai nuqthatut tahwil (titik peralihan).

Continue reading “Iqomatud Din”

Hijrah (Bag. 2): Baiatul Aqabah II

Pada tahun kedua belas setelah kenabian, dan setahun setelah Baiatul Aqabah pertama, Mush’ab bin Umair datang ke Makkah untuk berhaji dan melaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penerimaan yang baik dari penduduk Yatsrib terhadap Islam.

Bersamaan dengan itu berangkat pula sekelompok kaum Anshar yang telah masuk Islam  bersama dengan rombongan haji kaum musyrikin yang juga hendak menunaikan haji. Kaum Anshar juga bermaksud menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka mengetahui kesulitan besar yang dialami kaum muslimin di Makkah. Diantara mereka ada yang berkata,

إِلَى مَتَى نَتْرُكُ رَسُوْلَ اللهِ يَطُوْفُ عَلَى الْقَبَائِلَ وَيُطْرَدُ فِي جِبَالِ مَكَّةَ وَيَخَافُ ؟!

“Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling ke kabilah-kabilah lalu diusir di pegunungan Makkah dan merasa tidak aman?

Continue reading “Hijrah (Bag. 2): Baiatul Aqabah II”