Amul Huzni (Tahun Duka Cita)

Pasca terjadinya pemboikotan, sekitar tahun 617 M, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami tahun kesedihan. Pada tahun tersebut—tepatnya pada bulan Ramadhan[1]—dua orang yang sangat dicintainya yakni paman beliau, Abu Thalib wafat; tiga hari kemudian disusul oleh wafatnya isteri beliau, Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Khadijah radhiyallahu ‘anha wafat pada usia enam puluh lima tahun enam bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakamkannya di Al-Hajun. Pada masa selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sering sekali membicarakan keindahan hari-harinya bersama Khadijah radhiyallahu ‘anha; berbuat baik kepada sahabat-sahabatnya, dan menghormati keluarganya. Continue reading “Amul Huzni (Tahun Duka Cita)”

Perang Khaibar (Bag. 8)

Pada tulisan lalu kita membahas beberapa pelajaran berharga dari Perang Khaibar. Pada tulisan ini, kita akan melanjutkan telaah beberapa hikmah lainnya yang bisa kita petik. Selamat menyimak.

Berdakwah di Segala Masa

Di antara hal yang nyata dilakukan dalam Perang Khaibar, yang tak pernah ditinggalkan kapan pun, ialah berdakwah, menyeru manusia kepada Allah. Kita lihat, kapan saja, sewaktu akan terjadi pertempuran antara kedua belah pihak, pastilah arahan diberikan oleh Rasulullah saw: menekankan pentingnya mengajak manusia kepada Allah sebelum pertempuran terjadi.

Misalnya, begitu Rasulullah saw menyerahkan bendera kepada Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Ya Rasulullah, haruskah aku memerangi mereka sampai menjadi seperti kita (maksudnya menjadi Muslim)?” Continue reading “Perang Khaibar (Bag. 8)”

Perang Khaibar (Bag. 7)

Pada tulisan sebelumnya dipaparkan beberapa pelajaran berharga yang bisa kita petik dari Perang Khaibar. Pada edisi ini, kita akan melanjutkan telaah beberapa hikmah lainnya yang bisa kita petik.

Menghukum Bukan Berarti Memecat

Di antara pelanggaran yang terjadi Perang Khaibar adalah adanya seorang peserta yang ketahuan meminum khamar. Namanya Abdullah bin Hammar. Usai menaklukkan salah satu benteng Yahudi, ia kedapatan meminum khamar. Tidak banyak. Namun melihat hal itu, Rasulullah saw langsung memukulnya dengan sandal beliau.

Beliau pun menyuruh orang-orang supaya memukulinya dengan sandal mereka. Tiba-tiba Umar bin Khaththab melaknatinya. Rasulullah saw bersabda, “Jangan laknati dia  karena dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Setelah itu, Abdullah pergi selayaknya seorang Muslim lainnya. Dia pun duduk bersama kaum Muslimin. Continue reading “Perang Khaibar (Bag. 7)”

Perang Khaibar (Bag. 6)

Jeli Menangkap Peluang

Perang Khaibar merupakan salah satu bentuk dari kepiawaian Nabi Muhammad saw menangkap peluang. Sejak awal, Nabi Muhammad saw begitu mengetahui watak orang-orang Yahudi. Bahkan, sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Madinah, beliau telah mengetahui karakter mereka. Karenanya, di antara hal yang beliau lakukan kala itu adalah menggagas Piagam Madinah untuk mengikat Yahudi dalam ikatan perjanjian. Dengan Piagam Madinah, mau atau tidak, Yahudi disertakan dalam pembelaan Madinah dari serbuan luar terutama dari kafir Quraisy yang sudah dipastikan akan segera berupaya mengeluarkan kaum Muslimin dari Madinah.

Nabi saw mengetahui bangsa Yahudi adalah para pengkhianat. Karenanya, saat satu demi satu kabilah Yahudi ini melanggar perjanjian, mereka langsung dieksekusi tanpa ampun. Yang pertama kali berkhianat adalah Bani Qainuaqa. Setelah dikepung selama 15 hari, Bani Qainuqa diusir dari Madinah. Continue reading “Perang Khaibar (Bag. 6)”

Perang Khaibar (Bag. 5)

Kisah Unik Usai Perang Khaibar

Pada tulisan sebelumnya dijelaskan tentang kemenangan umat Islam dalam Perang Khaibar dan keberhasilan mereka menalukkan benteng-benteng Khaibar. Banyak kisah unik sarat pelajaran yang terjadi pada peperangan itu. Sebagian kisah itu, kami sajikan untuk Anda, para pembaca.

Dua Bidadari untuk Sang Penggembala

Sejarah mencatat identitasnya dengan nama al-Aswad. Ia seorang penggembala kambing milik Yahudi Khaibar. Ketika Rasulullah saw mengepung salah satu benteng Khaibar, al-Aswad datang bersama kambing-kambing gembalaannya.

Begitu bertemu Nabi saw, ia pun berseru, “Ya Rasulullah, terangkan kepadaku mengenai Islam.”

Rasulullah saw pun menerangkan kepadanya tentang Islam. Spontan tanpa pikir panjang, ia pun masuk Islam. Memang, Rasulullah saw tak pernah meremehkan seorang pun untuk menyeru dan menerangkan kepadanya tentang Islam. Siapa pun yang datang kepadanya, selalu ia sambut dengan riang. Tanpa pilih kasih meski sekadar seorang penggembala kambing. Continue reading “Perang Khaibar (Bag. 5)”