Iqomatud Din

Menegakkan Agama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita bagaimana dakwah yang manhaji (sistematis). Jauh dari sikap dan tindakan emosional (infi’aliyah), reaksioner, nekad, ceroboh, atau sembrono (tahawwur); apalagi bertindak asal-asalan (‘afawiyyah), tanpa bashirah (ilmu/pandangan jauh ke depan), atau beramal secara tarqi’iyyah (tambal sulam).

Dalam perjuangannya menegakkan agama Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu sabar melangkah dan memperhatikan realita. Ada dua marhalah (fase) yang beliau lalui dalam gerak dakwahnya: marhalatut ta’sis (al-makkiyyah) dan marhalatut tamkin (al-madaniyyah). Di antara dua marhalah itu ada peristiwa al-hijrah (hijrah) sebagai nuqthatut tahwil (titik peralihan).

Continue reading “Iqomatud Din”

Hijrah (Bag. 2): Baiatul Aqabah II

Pada tahun kedua belas setelah kenabian, dan setahun setelah Baiatul Aqabah pertama, Mush’ab bin Umair datang ke Makkah untuk berhaji dan melaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penerimaan yang baik dari penduduk Yatsrib terhadap Islam.

Bersamaan dengan itu berangkat pula sekelompok kaum Anshar yang telah masuk Islam  bersama dengan rombongan haji kaum musyrikin yang juga hendak menunaikan haji. Kaum Anshar juga bermaksud menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka mengetahui kesulitan besar yang dialami kaum muslimin di Makkah. Diantara mereka ada yang berkata,

إِلَى مَتَى نَتْرُكُ رَسُوْلَ اللهِ يَطُوْفُ عَلَى الْقَبَائِلَ وَيُطْرَدُ فِي جِبَالِ مَكَّةَ وَيَخَافُ ؟!

“Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling ke kabilah-kabilah lalu diusir di pegunungan Makkah dan merasa tidak aman?

Continue reading “Hijrah (Bag. 2): Baiatul Aqabah II”

Hijrah (Bag. 1): Bai’at Aqabah I

Hijrah secara bahasa berarti tarku (meninggalkan). Hijrah ila syai berarti intiqal ilaihi ‘an ghairi (berpindah kepada sesuatu dari sesuatu). Menurut istilah, hijrah berarti tarku maa nahallaahu ‘anhu (meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah).

Hijrah menurut sejarah penetapan hukum (tarikh tasyri) adalah berpindahnya kaum muslimin dari kota Makkah ke kota Madinah, dan juga dari kota Makkah ke kota Habasyah.

Pengertian hijrah secara khusus dibatasi hingga penaklukan kota Makkah. Setelah itu hijrah dengan makna khusus sudah berakhir, maka tinggallah perintah hijrah dengan makna umum, yaitu berpindah dari negeri kafir ke negeri iman. Makna kedua ini berlaku setelah penaklukan kota Makkah. Continue reading “Hijrah (Bag. 1): Bai’at Aqabah I”

Tragedi Raji’, Bi’ru Ma’unah dan Pengusiran Bani Nadhir (Bag. 2)

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, pasca perang Uhud dan  peristiwa Raji’ serta Bi’ru Maunah, kaum munafik dan orang yahudi menjadi semakin berani berbuat kurang ajar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin, bahkan sampai-sampai orang-orang yahudi itu berencana menghabisi nyawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berkunjung ke benteng mereka.

Latar Belakang Pengusiran Bani Nadhir

Di pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa sahabat nabi yang bernama Amr bin Umaiyah adh-Dhamiri, dalam pelariannya untuk meloloskan diri  dari  serangan di Bi’ru Maunah, telah membunuh dua orang musyrikin dari Bani Kilab. Padahal mereka baru saja pulang dari Madinah untuk menyepakati perjanjian damai dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Continue reading “Tragedi Raji’, Bi’ru Ma’unah dan Pengusiran Bani Nadhir (Bag. 2)”

Tragedi Raji’, Bi’ru Ma’unah dan Pengusiran Bani Nadhir (Bag. 1)

Tragedi Raji’ dan Bi’ru Ma’unah 

Pasca Perang Uhud, kaum muslimin menghadapi peristiwa yang menggoncangkan, yaitu terjadinya peristiwa di Raji’ dan Bi’ru Mau’nah.  Peristiwa berdarah ini melunturkan wibawa mereka  yang baru saja tumbuh. Pasca peristiwa Raji’ dan Sumur Maunah itu kaum munafik dan orang yahudi menjadi semakin berani berbuat kurang ajar kepada Rasulullah dan kaum muslimin.

Tragedi Raji’

Pada tahun ke -3 Hijriyah, beberapa utusan dari Kabilah Udlal dan Qarah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa berita tentang Islam telah sampai kepada mereka. Oleh sebab itu, mereka sangat membutuhkan orang-orang yang akan mengajarkan kepada mereka agama. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa orang dari sahabatnya, antara lain: Murtsid bin Abi Murtsid, Khalid bin Al-Bakir, Ashim bin Tsabit, Khubaib bin Ady, Zaid bin Datsinah dan Abdullah bin Thariq. Rasulullah saw menunjukk Ashim bin Tasbit sebagai Amir mereka. Continue reading “Tragedi Raji’, Bi’ru Ma’unah dan Pengusiran Bani Nadhir (Bag. 1)”