Tragedi Raji’, Bi’ru Ma’unah dan Pengusiran Bani Nadhir (Bag. 1)

Tragedi Raji’ dan Bi’ru Ma’unah 

Pasca Perang Uhud, kaum muslimin menghadapi peristiwa yang menggoncangkan, yaitu terjadinya peristiwa di Raji’ dan Bi’ru Mau’nah.  Peristiwa berdarah ini melunturkan wibawa mereka  yang baru saja tumbuh. Pasca peristiwa Raji’ dan Sumur Maunah itu kaum munafik dan orang yahudi menjadi semakin berani berbuat kurang ajar kepada Rasulullah dan kaum muslimin.

Tragedi Raji’

Pada tahun ke -3 Hijriyah, beberapa utusan dari Kabilah Udlal dan Qarah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa berita tentang Islam telah sampai kepada mereka. Oleh sebab itu, mereka sangat membutuhkan orang-orang yang akan mengajarkan kepada mereka agama. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa orang dari sahabatnya, antara lain: Murtsid bin Abi Murtsid, Khalid bin Al-Bakir, Ashim bin Tsabit, Khubaib bin Ady, Zaid bin Datsinah dan Abdullah bin Thariq. Rasulullah saw menunjukk Ashim bin Tasbit sebagai Amir mereka. Continue reading “Tragedi Raji’, Bi’ru Ma’unah dan Pengusiran Bani Nadhir (Bag. 1)”

Perang Mu’tah

Benturan Pertama yang Mengguncang Romawi

Oleh: Hepi Andi Bastoni, MA

Perang Mu’tah merupakan peperangan terbesar yang dialami kaum muslimin semasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di samping itu, peperangan ini juga merupakan pendahuluan dan jalan pembuka untuk menaklukkan negeri-negeri Nasrani. Perang ini terjadi pada Jumadil Ula 8 H bertepatan dengan Agustus atau September 629 M. Mu’tah adalah suatu kampung yang terletak di Balqa’, di wilayah Syam. Jarak antara Mu’tah dan Baitul Maqdis selama dua hari perjalan kaki.

Bermula dari Terbunuhnya Utusan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus al-Harits bin Umair al-Azadi untuk menyampaikan surat kepada pemimpin Bashra. Di tengah perjalanan, al-Harits dicegat oleh Syurahbil bin Amr al-Ghasani, seorang gubernur wilayah Balqa di Syam dan di bawah pemerintah Qaishar Romawi. Al-Harits diikat oleh Syurahbil, kemudian dibawa ke hadapan Qaishar lalu dipenggal lehernya! Continue reading “Perang Mu’tah”

Isra Mi’raj

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, dengan wafatnya Abu Thalib dan Khadijah radhiyallahu ‘anha, kaum Quraisy merasa lebih leluasa mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semakin meningkatkan penganiayaan mereka kepada para sahabat, sehingga kondisi itu memaksa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Thaif untuk berdakwah dan meminta bantuan kepada para pemimpinnya agar bersedia melindungi dakwahnya.  Namun para pemimpin dan penduduk Thaif ternyata  tidak lebih baik dari peduduk Makkah. Beliau dilukai dan dihina sampai akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke Makkah dengan perasaan duka yang mendalam. Dalam situasi penuh duka dan kesedihan inilah Allah Ta’ala muliakan Nabinya dengan mukjizat Isra’ mi’raj untuk meringankan jiwanya yang terluka dan hatinya yang berduka. Continue reading “Isra Mi’raj”

Amul Huzni (Tahun Duka Cita)

Pasca terjadinya pemboikotan, sekitar tahun 617 M, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami tahun kesedihan. Pada tahun tersebut—tepatnya pada bulan Ramadhan[1]—dua orang yang sangat dicintainya yakni paman beliau, Abu Thalib wafat; tiga hari kemudian disusul oleh wafatnya isteri beliau, Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Khadijah radhiyallahu ‘anha wafat pada usia enam puluh lima tahun enam bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakamkannya di Al-Hajun. Pada masa selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sering sekali membicarakan keindahan hari-harinya bersama Khadijah radhiyallahu ‘anha; berbuat baik kepada sahabat-sahabatnya, dan menghormati keluarganya. Continue reading “Amul Huzni (Tahun Duka Cita)”

Perang Khaibar (Bag. 8)

Pada tulisan lalu kita membahas beberapa pelajaran berharga dari Perang Khaibar. Pada tulisan ini, kita akan melanjutkan telaah beberapa hikmah lainnya yang bisa kita petik. Selamat menyimak.

Berdakwah di Segala Masa

Di antara hal yang nyata dilakukan dalam Perang Khaibar, yang tak pernah ditinggalkan kapan pun, ialah berdakwah, menyeru manusia kepada Allah. Kita lihat, kapan saja, sewaktu akan terjadi pertempuran antara kedua belah pihak, pastilah arahan diberikan oleh Rasulullah saw: menekankan pentingnya mengajak manusia kepada Allah sebelum pertempuran terjadi.

Misalnya, begitu Rasulullah saw menyerahkan bendera kepada Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Ya Rasulullah, haruskah aku memerangi mereka sampai menjadi seperti kita (maksudnya menjadi Muslim)?” Continue reading “Perang Khaibar (Bag. 8)”