Taubatnya Syaikh Said bin Musfir

Dalam kesempatan dialog terbuka dengan Syaikh Said hafidzahullah, sebagian audien memintanya untuk bercerita perihal asal mulanya mendapatkan hidayah. Iapun mulai menuturkan kisahnya seraya berkata,

لِكُلِّ هِدَايَةٍ بِدَايَةٌ

“Setiap hidayah pasti ada asal mulanya.”

Secara fitrah aku beriman kepada Allah. Ketika masih kecil, aku selalu menekuni ibadah. Tetapi setelah aku dewasa aku mulai kendur dan menyepelekannya, khususnya shalat. Aku hanya ingat shalat ketika ta’ziyah atau setelah mengantarkan jenazah ke kuburnya, atau setelah mendengarkan ceramah dan ta’lim di masjid. Setelah itu imanku bertambah, sehingga aku mulai shalat dibarengi dengan amalan-amalan sunnahnya, tetapi setelah sepekan dua pekan aku mulai tinggalkan yang sunnahnya. Lalu sepekan dua pekan berikutnya aku meninggalkan yang wajibnya, sampai menunggu lagi momen berikutnya. Setelah aku sampai usia dewasa dan akil baligh akau semakin jauh dari shalat. Tetapi setelah aku menikah aku terkadang shalat, terkadang meninggalkannya. Meskipun demikian aku tetap beriman kepada Allah.

Baca selebihnya »

Teringat Keluarga Membuatnya Bertaubat dari Kemaksiatan di Bangkok

Berikut ini kisah seorang laki-laki yang mulai senja usia dengan uban di rambutnya. Dia pergi ke Bangkok meninggalkan isteri dan anak-anaknya. Akan tetapi di penghujung usianya ia mulai sadar. Mari, kita simak kisahnya:

Aku tidak malu dengan uban yang memenuhi kepalaku. Aku tidak sayang kepada masa depan putriku yang tengah menunggu pemuda yang datang mengetuk pintu untuk melamarnya. Aku tidak perduli dengan senyum-tawa putriku yang masih kecil, yang selalu memenuhi isi rumah dengan keceriaan dan kebahagiaan. Akupun tak perduli dengan putraku yang telah menginjak usia 15 tahun. Ia adalah cermin masa kecilku, obsesi masa mudaku, dan mimpi masa depanku.

Baca selebihnya »

Putri Pendeta Menjadi Da’iyah

Aku tidak mengenal sedikit pun tentang Islam, bahkan selama hampir duapuluh tahun, sampai aku kuliah di jurusan informatika Universitas Timbell Philadhelphia.

Pertama kali aku melirik Islam berawal ketika beberapa dosenku menyampaikan informasi tentang Islam. Mereka menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang merusak (destruktif). Hal ini menggugahku untuk lebih banyak membaca literatur tentang Islam. Setelah aku mengkajinya ternyata aku dapati semua itu hanyalah tuduhan palsu, zalim dan penuh kebencian. Akupun segera –tanpa ragu– menyatakan diri masuk Islam. Sejak itu aku ganti namaku menjadi Laila Ramzy.Baca selebihnya »

Taubatnya Seorang Artis Mesir: Syams Al-Barudy

Kisah ini diambil dari buku yang ditulisnya sendiri, dengan judul

رِحْلَتِي مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ

“Petualanganku dari kegelapan menuju cahaya.”

Pada satu kesempatan wawancara dengan wartawan, ia menjelaskan panjang lebar bagaimana dirinya mendapatkan hidayah.

“Petualanganku berawal dari masa remajaku, ayahku –dengan karunia Allah- adalah seoarang yang religius, walaupun menjalankannya dengan biasa-biasa saja, begitu pula ibuku, semoga Allah merahmatinya. Aku masih menunaikan shalat meskipun tidak disiplin. Terkadang beberapa waktunya aku tinggalkan begitu saja, tanpa merasa berdosa karena meninggalkan kewajiban shalat. Sayangnya aku tidak mendapatkan pelajaran agama yang cukup di sekolah, karena pelajaran agama bukan pelajaran pokok dibanding dengan ilmu-ilmu duniawi lainnya.Baca selebihnya »

Taubat Ahli Maksiat

Oleh: Husein Uwais Mathar.

Sunguh sahabatku telah berubah, tertawanya renyah lembut menyapa setiap telinga, laksana fajar menyingsing menyambut pagi. Padahal sebelumnya tertawanya seringkali memekakkan telinga dan menyakiti perasaan. Kini pandangannya sejuk penuh tawadhu. Sedangkan sebelumnya penuh dengan pandangan yang destruktif. Ucapan yang keluar dari mulutnya kini penuh dengan perhitungan, padahal sebelumnya sesumbar kesana kemari melukai dan menyakiti hati orang, tidak peduli dan tidak ada beban dosa. Wajahnya tenang diliputi cahaya hidayah setelah sebelumnya terkesan garang dan tidak ada belas kasihan.Baca selebihnya »