Hadits 5: Amal-amal Perbuatan yang TIdak Termasuk Perintah Allah (Bag. 4)

Adakah Bid’ah Hasanah?

Diskusi tentang pembagian ini telah mejadi perdebatan hangat antara ulama kita sejak dahulu hingga sekarang. Di antara mereka ada yang membagi bid’ah menjadi dua, yakni bid’ah hasanah dan dhalalah, sebagaimana pandangan Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya, seperti Imam An Nawawi, Imam Abu Syamah.. Bahkan Imam Al ‘Izz bin Abdussalam  dan Imam An Nawawi membagi bid’ah menjadi lima, sebagaimana pembagian dalam ketentuan syara’, yakni bid’ah wajib, bid’ah sunah, bid’ah makruh, bid’ah haram, dan bid’ah mubah. Selain itu juga Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu Hazm, Imam Al Qarrafi dan Imam Az Zarqani. Continue reading “Hadits 5: Amal-amal Perbuatan yang TIdak Termasuk Perintah Allah (Bag. 4)”

Hadits 5: Amal-amal Perbuatan yang Tidak Termasuk Perintah Allah (Bag. 3)

Macam – Macam Bid’ah

Pembagian Bid’ah Menurut Asal Terjadinya.

Pertama, bid’ah haqiqiyah. 

Biasa juga disebut bid’ah ashliyah yaitu amalan bid’ah yang sama sekali tidak memiliki dasar dalam agama, baik Al Quran, As Sunah, ijma’, dan qiyas. Juga tidak bersandar kepada dalil-dalil global atau rinci, dengan kata lain, bid’ah haqiqiyah sama sekali tidak ada hubungan dengan semua dasar-dasar dan pijakan syariat.

Contoh: apa-apa yang dilakukan oleh kaum quburiyun mereka meminta-minta kepada penghuni kubur, dan thawaf di kuburan. Sengaja tidak mau nikah atau membujang, menambah jumlah waktu shalat wajib menjadi enam waktu misalnya, dan lainnya. Continue reading “Hadits 5: Amal-amal Perbuatan yang Tidak Termasuk Perintah Allah (Bag. 3)”

Hadits 5: Amal-amal Perbuatan yang Tidak Termasuk Perintah Allah (Bag. 2)

Guna lebih memperjelas penjelasan hadits ke 5 ini, kita perlu mengulas tentang masalah bid’ah di dalam agama. Berikut penjelasannya secara ringkas.

Kenapa Lahir Bid’ah? 

Ada beberapa penyebab lahirnya bid’ah dalam agama. Di antaranya:

Menganggap baik perbuatan atau amalan ibadah tertentu.

Ini merupakan penyebab yang paling banyak. Para pelaku bid’ah sering beralasan: “Ini’kan perbuatan baik, kenapa dilarang?” Mereka tidak paham, bahwa dalam Islam,   maqbul atau tidaknya sebuah amal, bukan sekedar dilihat dari sudut pandang baik tetapi juga harus benar (ash Shawab). Continue reading “Hadits 5: Amal-amal Perbuatan yang Tidak Termasuk Perintah Allah (Bag. 2)”

Hadits 5: Amal-amal Perbuatan yang Tidak Termasuk Perintah Allah (Bag. 1)

Teks Hadits:

عَنْ أُمِّ المُؤمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : (مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ)   رواه البخاري ومسلم، وفي رواية لمسلم (مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ)

Dari Ummul Mu’minin, Ummu Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata: “Barangsiapa yang menciptakan hal baru dalam urusan kami ini (yakni Islam), berupa apa-apa yang bukan darinya, maka itu tertolak.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak kami kami perintahkan dalam agama kami maka itu tertolak.”

Takhrij Hadits:

Dalam hadits kelima ini ada dua teks (matan): Continue reading “Hadits 5: Amal-amal Perbuatan yang Tidak Termasuk Perintah Allah (Bag. 1)”

Hak Ibu

Perintah Allah Ta’ala

Allah Ta’ala telah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya; dan mengingatkan mereka secara khusus tentang jasa ibu yang telah mengandung dan menyusuinya dengan susah payah,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman, 31: 14) Continue reading “Hak Ibu”