Mengenal Madzhab Imam Abu Hanifah (Bag. 3)

Dasar Umum Istinbath dalam Madzhab

Abu Hanifah rahimahullah tidak menjelaskan secara detail manhaj (metode) yang dijadikan pedoman dalam membangun madzhabnya, tidak juga menjelaskan kaidah terperinci yang menjadi landasan dalam penelitian dan ijtihadnya, namun telah diriwayatkan darinya  riwayat yang menjelaskan rambu dan metode umum yang dijadikan sandaran dalam membangun kaidah madzhab dan landasan dasarnya. Diantara riwayat tersebut adalah: Continue reading “Mengenal Madzhab Imam Abu Hanifah (Bag. 3)”

Mengenal Madzhab Imam Abu Hanifah (Bag. 2)

Fase dan Periodeisasi Sejarah Madzhab Hanafi

Madzhab Hanafi pertama kali muncul pada abad kedua Hijriyah, tepatnya pada tahu 120 Hijriyah saat Abu Hanifah menduduki jabatan mufti dan pengajar menggantikan gurunya, Hammad bin Sulaiman.[1]

Abu Hanifah memiliki murid-murid dan pengikut yang  selalu menghadiri halaqahnya, membukukan pendapat-pendapatnya, dan menyebarkannya. Diantara mereka itu  ada dua orang pengikutnya yang memiliki andil yang cukup besar, yaitu Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al-Anshori  dan Muhammad bin Al-Hasan. Continue reading “Mengenal Madzhab Imam Abu Hanifah (Bag. 2)”

Persoalan Fiqih Terkait Usia Kehamilan Empat Bulan

Hukum Aborsi

Hal ini terbagi atas dua bagian:

Pertama, aborsi usia kandungan 4 bulan lebih dan seterusnya.

Seluruh fuqaha sepakat, bahwa jika aborsi dilakukan pada usia kandungan 4 bulan secara sempurna, atau di atas usia 4 bulan, maka haram. Hal ini sama saja dia telah menghilangkan makhluk bernyawa (yakni manusia) lainnya (baca: pembunuhan). Sebab, usia kandungan 4 bulan sudah menjadi makhluk bernyawa, bukan sekedar lagi gumpalan darah atau daging sebagaimana penjelasan di tulisan sebelumnya (lihat di sini). Dalilnya adalah;

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu? (QS. Al An’am, 6: 151). Continue reading “Persoalan Fiqih Terkait Usia Kehamilan Empat Bulan”

Mengenal Madzhab Imam Abu Hanifah (Bag. 1)

Biografi Singkat 

Madzhab Hanafi termasuk salah satu mazhab fiqih yang paling tua, paling luas penyebarannya dan paling banyak pengikutnya, di mana hari ini jumlah pengikutnya mencapai lebih dari sepertiga dari kaum muslimin di seluruh dunia.[1]

Nasab dan Asal Usul Imam Madzhab

Beliau adalah Abu Hanifah, An-Nu’man bin Tsabit bin Zutho bin Mahin At-Timi Al-Kufi. Kakeknya, Zutho, dahulunya adalah seorang budak milik Bani Timillah bin Tsa’labah kemudian masuk Islam lalu dimerdekakan. Dikatakan pula nasabnya adalah An-Nu’man bin Tsabit bin Nu’man bin Al-Murzaban, dari keturunan bangsa Persia yang merdeka.[2]

Continue reading “Mengenal Madzhab Imam Abu Hanifah (Bag. 1)”

Shalat Gerhana Matahari dan Bulan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,

انْخَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا نَحْوًا مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتْ الشَّمْسُ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shalat bersama para sahabat. Beliau berdiri lama sekitar membaca surat Al-Baqarah, kemudian ruku’ lama, lalu berdiri lama tetapi lebih pendek dari pertama. Kemudian ruku lama tetapi lebih pendek dari pertama. Kemudian sujud, lalu berdiri lama tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian ruku lama, tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian mengangkat dan sujud, kemudian selesai. Matahari telah bersinar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang, jika kalian melihatnya, hendaknya berdzikir pada Allah.’” (HR Bukhari). Continue reading “Shalat Gerhana Matahari dan Bulan”