Mengenal Madzhab Imam Syafi’i (Bag. 1)

Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Imam Abu abdillah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hisyam bin Al-Muthalib bin Abdi Manaf Al-Mutholibi Al-Qurasyi. Nasabnya berakhir pada Abdu Manaf, kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan nama Syafi’i merupakan penisbatan pada Syafi’ bin As-Saib.

Masa Lahir dan Tumbuh Kembang

Imam As-Syafi’i dilahirkan di Gaza, ada pendapat yang mengatakan beliau dilahirkan di ‘Asqolan[1], ada yang mengatakan di Yaman[2], pada tahun 150 H. Itu adalah tahun wafatnya Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit, dan ada yang mengatakan Imam Syafi’i dilahirkan pada hari yang sama ketika Abu Hanifah wafat.[3]

Baca selebihnya »

Etika Bisnis Islam

Sebagai manusia, ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhinya dalam kehidupan ini, diantaranya adalah kebutuhan pangan, sandang dan papan. Untuk bisa memenuhi segala kebutuhan itu, manusia harus berusaha semaksimal mungkin dengan cara-cara yang sebaik mungkin. Karena itu, seorang muslim yang keluar dari rumahnya untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya secara halal merupakan sesuatu yang sangat mulia dan karenanya hal itu menjadi wajib, Rasulullah saw bersabda:

طَلَبُ الْحَلاَلِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari sesuatu yang halal hukumnya wajib bagi setiap muslim.” (HR. Thabrani)

Baca selebihnya »

Berdo’a dengan Mengangkat Kedua Tangan (Bag. 2)

Berdoa setelah shalat wajib; apakah mengangkat tangan?

Hal ini menjadi perselisihan pendapat di antara para ulama. Ada dua tema perbedaan mereka; Pertama. Adakah doa setelah shalat? Kedua. Jika ada, apakah juga mengangkat tangan?

 Pertama: Adakah Doa setelah Shalat Wajib?

Sebagian ulama menyatakan TIDAK ADA doa setelah shalat wajib, yang ada hanyalah dzikir. Inilah pandangan Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh ‘Utsaimin, dan lain-lain. Bagi mereka doa itu adanya dalam shalat, karena saat itulah ketika seorang hamba sedang berkomunikasi dengan Rabbnya. Bagi mereka, tidak ada dasarnya berdoa setelah shalat wajib dan sunah. Apa alasan syar’inya?

Baca selebihnya »

Mengenal Madzhab Imam Malik (Bag. 4)

Madrasah dan Perguruan Madzhab Maliki

Al-Qadhi Iyadh mengklasifikasikan murid-murid Imam Malik berdasarkan kota dan negeri mereka menjadi enam kelompok, yaitu: Penduduk Madinah, penduduk Iraq dan Masyriq, penduduk Hijaz dan Yaman, penduduk Qoirawan (Afrika), penduduk Andalusia, dan penduduk Syam.

Penyebaran mereka ke berbagai penjuru dunia dengan segala perbedaan lingkungan dan adat istiadat, perbedaan capaian ilmu dan pemahaman, perbedaan kualitas interaksi murid dengan guru dan komitmen mereka dengan dasar-dasar hukum yang bermacam-macam yang telah dicanangkan gurunya, serta tingkat komitmen mereka mengikuti metode guru dalam masalah fiqih dan fatwa, menyebabkan munculnya perguruan yang bermacam-macam dalam fiqih Maliki, dan setiap perguruan memiliki metode ilmiah yang membedakannya dengan madrasah lain. Perguruan tersebut bisa digolongkan dalam kelompok berikut ini:

Baca selebihnya »

Menunaikan Haji dan Umrah (Bag. 4)

Perbekalan Haji

Pergi haji adalah perjuangan yang cukup panjang. Maka, dibutuhkan perbekalan yang mecukupi, khususnya perbekalan yang bisa memudahkan baginya mencapai derajat haji yang mabrur.

Bekal Taqwa

Allah Ta’ala berpesan kepada para jamaah haji,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekal-lah, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (QS. Al Baqarah, 2: 197)Baca selebihnya »