Al-Inqilabul Islamiy

Transformasi Islami

Manakala dua pilar takwinul ummah (pembentukan umat)—yakni takwinus syakhshiyyah dan takwinur ruhil jama’ah—mampu ditegakkan di atas fondasi la ilaha illa-Llah Muhammadur Rasulullah, maka akan terjadilah proses al-inqilabul Islamiy (transformasi islami) di tengah-tengah umat Islam.

Pertama, transformasi dalam aspek al-i’tiqadiy (keyakinan). Dari kondisi diliputi debu-debu kemusyrikan menjadi kondisi bersih dan segar dalam ketauhidan; dari kekufuran menjadi iman; dari riya’ menjadi ikhlas.

Continue reading “Al-Inqilabul Islamiy”

Al ‘Itishamu bi Hablillah

Di pembahasan sebelumnya telah disebutkan, setelah pilar takwinus syakhshiyyatil Islamiyyah (pembentukan kepribadian Islam), pilar lain yang menjadi penopang takwinul ummah (pembentukan umat) adalah takwinu ruhil jama’ah (membentuk semangat persatuan, kesatuan, atau kebersamaan).

Berpegang Kepada ‘Tali Allah’

Ruhul jama’ah (semangat persatuan, kesatuan, atau kebersamaan) akan tumbuh pada umat ini apabila mereka mau berpegang kepada ‘tali Allah’.

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran, 3: 103)

Continue reading “Al ‘Itishamu bi Hablillah”

Takwinul Ummah

Pembentukan Umat

Kata ‘umat’ (al-ummah) yang dimaksud disini bermakna ‘golongan’, ‘kelompok manusia’, ‘masyarakat’ atau ‘bangsa’.

Al-ummah bermakna semua komunitas yang segala urusannya terhimpun, baik dalam satu agama tertentu, dalam waktu tertentu atau tempat tertentu, atau himpunan itu terjadi karena ketundukan secara alamiah; atau karena suatu ikhtiar atau usaha yang dikomandoi oleh perorangan atau beberapa orang yang bekerja sama dalam sebuah organisasi untuk tujuan tertentu.  Jamak al-ummah adalah al-umam.  Sedangkan posisi perorangan atau sekelompok orang yang menggerakkan itu, atau seseorang yang menjadi pusat ketundukan tersebut, dikatakan pemimpin (al-imam). Jamak al-imam adalah al-aimmah yang pelembagaannya disebut al-imamah bermakna kepemimpinan.[1]

Continue reading “Takwinul Ummah”

Asasu ‘Amaliyatit Takwin

Landasan Operasional Pembinaan

Di pembahasan sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa setelah tahapan tabligh dan ta’lim; da’i perlu melakukan aktivitas takwin kepada para mad’u-nya, yaitu berupaya menghantarkan pengetahuan mereka kepada gagasan dan pemahaman kemudian mengubah gagasan dan pemahaman itu menjadi gerakan (aktivitas amal dan dakwah).

Landasan operasional aktivitas ini adalah firman Allah Ta’ala berikut ini:

Pertama

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran, 3: 104) Continue reading “Asasu ‘Amaliyatit Takwin”

Karakteristik Dakwah

Dakwah Islamiyah yang benar dan lurus memiliki karakteristik sebagai berikut:

Rabbaniyyah (Berorientasi Ketuhanan)

Dakwah yang benar haruslah berorientasi ketuhanan. Bertujuan hanya menyeru kepada Allah Ta’ala dan agama-Nya, dan bukan bertujuan mencari keuntungan duniawi: harta kekayaan, kedudukan, popularitas, dan sejenisnya.

Renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا

“Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya’” (QS. Al-Furqan, 25: 57) Continue reading “Karakteristik Dakwah”