Asbabul Jahiliyyah

(Sebab-sebab Munculnya Kejahiliyahan)

Makna Jahiliyyah

Umar ibn Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata,

إنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الْجَاهِلِيَّةَ

“Sesungguhnya ikatan Islam itu hanyalah akan terurai satu per satu apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyyah.”

Ungkapan Umar di atas adalah peringatan bagi umat Islam sepanjang zaman agar mewaspadai kejahiliyyahan yang dapat memusnahkan agama. Kita hendaknya memahami dan mengenal apa itu jahiliyyah agar mampu menjaga agama ini dari hal-hal yang dapat merusaknya cepat atau lambat.

***** Continue reading “Asbabul Jahiliyyah”

Bahaya-bahaya Ghazwul Fikri

Adhrarul Ghazwil Fikri

Setelah kita memahami uraian sebelumnya, maka dapat kita pahami demikian halusnya perang gaya baru ini dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Bahaya yang timbul darinya bukanlah rasa sakit atau luka fisik, akan tetapi rusaknya moral, hancurnya pemahaman, larutnya kepribadian, dan pembangkangan dari ajaran agama:

Pertama, al-ightirar (tertipu atau terpedaya) oleh musuh-musuh Islam.

Umat menjadi silau pada kekuatan dan kemajuan materi serta konsep-konsep dan pemikiran ataupun  peradaban asing. Mereka menghirupnya tanpa filter seraya bersikap tak mau tahu bagaimana pandangan agama terhadapnya. Mereka mengadopsi konsep, sistem, atau pemikiran di bidang ekonomi, pendidikan, politik dan budaya; menelannya bulat-bulat dengan penuh kebanggaan karena merasa itulah yang paling baik bagi mereka. Continue reading “Bahaya-bahaya Ghazwul Fikri”

Hizbus Syaithan

Menjadikan Syaithan Sebagai Musuh

Allah Ta’ala  telah menciptakan berbagai makhluk dari asal kejadian yang berbeda-beda. Dia menciptakan manusia berasal dari tanah,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. Al-Hijr, 15: 26)

Menciptakan jin berasal dari api,

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ

“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr, 15: 27) Continue reading “Hizbus Syaithan”

Pilar-pilar Kebangkitan Umat

Allah Ta’ala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran, 3: 110)

Ayat ini menyebutkan bahwa umat yang paling baik di dunia adalah umat yang mempunyai dua macam sifat, yaitu mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. [1]

Semua sifat itu telah dimiliki oleh kaum muslimin di masa nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya. Dalam waktu yang singkat mereka telah dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di bawah naungan Islam, hidup aman dan tenteram di bawah panji-panji keadilan, padahal mereka sebelumnya adalah umat yang berpecah belah selalu berada dalam suasana kacau dan saling berperang antara sesama mereka. Bahkan Islam semakin melebarkan sayapnya hingga ke wilayah-wilayah Persia dan Romawi serta tersebar ke seluruh penjuru bumi. Ini adalah berkat keteguhan iman dan kepatuhan mereka menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Continue reading “Pilar-pilar Kebangkitan Umat”

Berpartisipasi dalam Amal Jama’i bersama Masyarakat

Manusia adalah makhluk sosial. Mereka memiliki kebutuhan, kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain. Hal ini merupakan    fithrah basyariyah (naluri manusia) sejak awal penciptaan mereka. Dalam Tafsir Ibnu Katsir digambarkan keadaan Adam ‘alaihissalam sebelum kedatangan Hawwa dengan ungkapan “berjalan-jalan sendirian dan kesepian”. Setelah kedatangan Hawwa, lahirlah keturunan dari mereka, laki-laki atau perempuan, sehingga jumlahnya menjadi milyaran umat manusia seperti sekarang ini.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya[1] Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,[2] dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1) Continue reading “Berpartisipasi dalam Amal Jama’i bersama Masyarakat”