Mewaspadai Ideologi Takfir

Latar Belakang Munculnya Takfir

Fenomena kemaksiatan di tengah masyarakat Islam memang sudah sedemikian parah. Budaya permisivisme dan hedonisme bebas menyerbu masyarakat kita tanpa ada pencegahan yang berarti. Entah sadar atau tidak, sebagian media informasi turut andil menyiarkan dan menyebarkan kebatilan itu dengan berbagai kemasan. Seks bebas, pelacuran, pemerkosaan, pencurian, miras, narkotika, kolusi di antara penguasa serta pelecehan hukum dan agama terus bergulir menjadi tontonan harian. Sementara itu, sebagian ulama terlihat ‘adem ayem’ dan ‘toleran’. Mereka seolah tak berdaya melawan berbagai penyimpangan agama yang menari-nari di depan batang hidungnya. Continue reading “Mewaspadai Ideologi Takfir”

Advertisements

Makna Muhammad SAW Sebagai Penutup Para Nabi

Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab, 33: 40)

Imam At-Thabari rahimahullah saat menafsirkan ayat ini berkata: “Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki diantara kalian (Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, yaitu anak angkat Nabi) melainkan beliau adalah Nabi terakhir, maka tiada lagi Nabi setelah beliau sampai Hari Kiamat dan adalah ALLAH Ta’ala terhadap segala perbuatan dan perkataan kalian Maha Mengetahui.”[1]  Continue reading “Makna Muhammad SAW Sebagai Penutup Para Nabi”

Nataiju Ittibair Rasul

Hasil dari Mengikuti Rasul

Keimanan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus diwujudkan dengan cara ittiba’ (mengikuti) kepada beliau. Seseorang yang rela ittiba’ kepada rasul berarti telah tertanam dalam dirinya tashdiq (pembenaran) dan  tha’ah (ketaatan) sebagaimana disebutkan dalam pembahasan wajibuna nahwar rasul, sehingga ia senantiasa bersedia mengikuti komando Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menjauhi apa yang dilarangnya dan beribadah dengan apa yang disyariatkannya.

Seseorang yang ber-ittiba’ akan memetik hasil yang bermanfaat bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Continue reading “Nataiju Ittibair Rasul”

Qabulul Ibadah

(Diterimanya Ibadah)

Ibadah di dalam Islam terbadi menjadi dua jenis: Ibadah Mahdhah dan Ibadah Ghairu Mahdhah.

Ibadah Mahdhah

Ibadah mahdhah (murni), yaitu ibadah yang pedoman dan kaifiyat pelaksanaannya sudah ditentukan berdasarkan keterangan nash dan bersifat baku; sehingga manusia dilarang untuk menambah atau menguranginya. Contoh: shalat, zakat, puasa, haji, umrah.

Ibadah mahdhah akan diterima oleh Allah Ta’ala jika memenuhi syarat berikut. Continue reading “Qabulul Ibadah”

Wujud dan Sifat Allah

Wujudullah (Keberadaan/Eksistensi Allah)

Seorang muslim mengimani bahwa Allah Ta’ala itu wujud (ada/eksis). Diantara dalil-dalil yang melandasi keyakinan ini adalah:

Pertama, ad-dalilul fithri (dalil fitrah). Secara bahasa, fitrah artinya al-khilqah yaitu keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan oleh Allah (lihat Lisaanul Arab 5/56, Al-Qamus Al-Muhith 1/881). Jadi maksudnya, manusia sejak awal penciptaannya telah membawa naluri ber-Tuhan. Sejak di alam ruh, manusia telah mengakui eksistensi Allah Ta’ala sebagai Tuhannya, Continue reading “Wujud dan Sifat Allah”