Prinsip 3: Keimanan terhadap Hari Akhir

Kita beriman bahwa kematian bukan akhir perjalanan dan bahwa manusia diciptakan untuk kekal selamanya. Akan tetapi, kematian memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain; dari negeri ujian ke negeri balasan. Hari ini adalah kerja tidak ada hisab. Sementara, esok adalah hisab tidak ada kerja. Di akhirat seluruh jiwa diberi balasan sesuai dengan amal yang ia lakukan dan abadi menurut amal yang telah dikerjakan.

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ. فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ.

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan meski  seberat biji atom, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Serta barangsiapa yang mengerjakan kejahatan meski sebesar biji atom, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[1]

Baca selebihnya »

Tafakur Tentang Udara

Udara dan Kehidupan

Apa pentingnya udara bagi kehidupan kita?

Tutuplah hidung dan mulut Anda barang semenit atau dua menit, saat itulah Anda mengetahui betapa pentingnya udara bagi hidup Anda, karena udara mengandung oksigen yang Anda butuhkan. Anda tahu bahwa tanpa udara semua manusia akan mati dalam beberapa menit saja, begitu pula dengan hewan yang menghirup udara. Renungkanlah, mampukah Anda hidup beberapa menit saja tanpa udara yang merupakan nikmat Allah Ta’ala? Renungkanlah, sudahkah Anda melaksanakan kewajiban mensyukuri nikmat ini kepada Allah Ta’ala?Baca selebihnya »

Tafakur Tentang Awan dan Makanan(Bag. 2)

Hendaklah Manusia Memperhatikan Makanannya

Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk memperhatikan makanan kita dalam firman-Nya:

فَلْيَنْظُرِ الإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (Q.S. ‘Abasa, 80: 24)

Makanan termasuk ciptaan-Nya, dan pada semua ciptaan-Nya terdapat tanda serta bukti tentang sebagian dari sifat-sifat-Nya Yang Agung.

Diantara sifat Allah Ta’ala yang dapat kita kenal melalui perhatian terhadap makanan adalah: Dialah Ar Raziq (Maha Memberi rezki), Al ‘Alim (Maha Mengetahui), Al-Khabir (Maha Dalam Pengetahuan-Nya), Al-Hakim (Maha Bijaksana), Ar-Rahim (Maha Penyayang), Al-Karim (Maha Mulia dengan pemberian-Nya), Al-Hadi (Maha memberi petunjuk), Al-Muhyi (Maha Menghidupkan), dan Al-Mushawwir (Maha Membentuk).Baca selebihnya »

Tafakkur Tentang Awan dan Makanan (Bag. 1)

Awan: Cairan yang Mengambang

Awan adalah air yang mengambang di udara. Jika dalam jumlah yang banyak maka akan terbentuk hujan lebat yang turun ke bumi menghasilkan air sumur, sungai, telaga, dan mata air yang dapat kita minum, kita gunakan untuk menyiram tanaman, dan diminum pula oleh hewan ternak kita.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَسَلَكَهُۥ يَنَٰبِيعَ فِى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِۦ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا أَلْوَٰنُهُ

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya.” (QS. Az-Zumar, 39: 21).Baca selebihnya »

Masalah Tawassul

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Masalah tawassul kerap menjadi ajang perdebatan umat Islam sejak lama, baik ulama atau orang awam.

Sebelum membahas masalah tawassul, marilah kita lihat dulu makna tawassul berikut.

التَّوَسُّل لُغَةً : التَّقَرُّبُ . يُقَال : تَوَسَّل الْعَبْدُ إِلَى رَبِّهِ بِوَسِيلَةٍ إِذَا تَقَرَّبَ إِلَيْهِ بِعَمَلٍ . وَفِي التَّنْزِيل : { وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ }

Makna tawassul menurut bahasa adalah taqarrub (mendekat). Dikatakan: “Seorang hamba mendekatkan (tawassala) diri kepada Rabbnya dengan wasilah (perantara/sarana/jalan), mendekatkan diri kepadaNya dengan amal perbuatan.” Di dalam Al Quran (ada bunyi ayat, red.):  “dan carilah jalan  (al wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 10/69).

Baca selebihnya »