Tadabbur QS. Al-Lahab

Surat Al-Lahab adalah firman Allah Ta’ala yang berisi celaan kepada salah seorang paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu mengobarkan permusuhan kepada pribadi dan dakwah yang diserukan oleh beliau. Ia bernama Abdul ‘Uzza bin Abdil Muthalib atau Abu ‘Utaibah; tetapi lebih dikenal dengan nama Abu Lahab karena wajahnya yang memerah (makna lahab adalah api yang bergejolak). Dalam tafsir Al-Azhar Buya Hamka mengungkapkan bahwa disebut dengan gelar itu karena Abu Lahab mukanya itu bagus, terang bersinar dan tampan. Sedangkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyebutnya dengan ungkapan: “Gelar ini pantas untuknya karena ia akan dimasukkan ke dalam naar yang menyala-nyala yang mengeluarkan lidah api yang dahsyat.”[1]

Continue reading “Tadabbur QS. Al-Lahab”

Tadabbur Al-Qur’an Surat Al-Qari’ah

الْقَارِعَةُ (1) مَا الْقَارِعَةُ (2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ (3) يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ (4) وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (5) فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (7) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (10) نَارٌ حَامِيَةٌ (11)

“1. hari kiamat, 2. Apakah hari kiamat itu? 3. tahukah kamu Apakah hari kiamat itu? 4. pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, 5. dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. 6. dan Adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, 7. Maka Dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. 8. dan Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, 9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. 10. tahukah kamu Apakah neraka Hawiyah itu? 11. (yaitu) api yang sangat panas.”

(Al-Qaari’ah: 1-11)

Continue reading “Tadabbur Al-Qur’an Surat Al-Qari’ah”

Syuruthul Intifa’i bil-Qur’an

Syarat-syarat dalam Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an

Dalam pembahasan Asmaul Qur’an kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab petunjuk (al-huda), pembeda (al-furqan), rahmat (ar-rahmah), cahaya (an-nur), roh (ar-ruh), obat (asy-syifa), kebenaran (al-haq), penjelasan (al-bayan), pelajaran (al-mauidzah), dan pemberi peringatan (ad-dzikr).

Ringkasnya, kita dapat menyimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab Allah Ta’ala yang mengandung banyak keberkahan bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ

“Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi…” (QS. Al-An’am, 8: 92) Continue reading “Syuruthul Intifa’i bil-Qur’an”

Akhtharu Nisyanil Qur’an

Bahaya Melupakan Al-Qur’an

Dalam pembahasan Makanatul Qur’an kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang mengandung kabar berita, hukum dan syariah, aturan jihad, pendidikan, dan pedoman hidup.

Kemudian di pembahasan Muqtadha Al-Imani bil-Qur’an kita telah mengetahui konsekuensi keimanan kepadanya, yaitu mengakrabinya, membina diri dengannya, tunduk kepada hukum-hukumnya, menyeru manusia kepadanya, dan menegakkannya di muka bumi.

Lalu apa akibatnya jika kita melupakan dan tidak mempedulikan Al-Qur’an? Continue reading “Akhtharu Nisyanil Qur’an”

Muqtadha Al-Imani bil-Qur’an

Konsekwensi Iman Kepada Al-Qur’an

Salah satu tuntutan keimanan bagi seorang muslim adalah al-imanu bi-Qur’an (iman kepada Al-Qur’an). Keimanan tersebut mengandung beberapa konsekuensi berikut.

Pertama, al-ansu bihi (akrab dengannya).

Keakraban tersebut diimplementasikan dengan ta’allumuhu (mempelajarinya) dan ta’limuhu (mengajarkannya), yakni tilawatan (membacanya), fahman (memahaminya), tathbiqan (melaksanakannya), dan hifdzan (menghafalnya).

Tilawatan

Allah Ta’ala menyebutkan keutamaan tilawah Al-Qur’an melalui firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir, 35: 29-30) Continue reading “Muqtadha Al-Imani bil-Qur’an”