Syuruthul Intifa’i bil-Qur’an

Syarat-syarat dalam Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an

Dalam pembahasan Asmaul Qur’an kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab petunjuk (al-huda), pembeda (al-furqan), rahmat (ar-rahmah), cahaya (an-nur), roh (ar-ruh), obat (asy-syifa), kebenaran (al-haq), penjelasan (al-bayan), pelajaran (al-mauidzah), dan pemberi peringatan (ad-dzikr).

Ringkasnya, kita dapat menyimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab Allah Ta’ala yang mengandung banyak keberkahan bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ

“Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi…” (QS. Al-An’am, 8: 92) Continue reading “Syuruthul Intifa’i bil-Qur’an”

Akhtharu Nisyanil Qur’an

Bahaya Melupakan Al-Qur’an

Dalam pembahasan Makanatul Qur’an kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang mengandung kabar berita, hukum dan syariah, aturan jihad, pendidikan, dan pedoman hidup.

Kemudian di pembahasan Muqtadha Al-Imani bil-Qur’an kita telah mengetahui konsekuensi keimanan kepadanya, yaitu mengakrabinya, membina diri dengannya, tunduk kepada hukum-hukumnya, menyeru manusia kepadanya, dan menegakkannya di muka bumi.

Lalu apa akibatnya jika kita melupakan dan tidak mempedulikan Al-Qur’an? Continue reading “Akhtharu Nisyanil Qur’an”

Muqtadha Al-Imani bil-Qur’an

Konsekwensi Iman Kepada Al-Qur’an

Salah satu tuntutan keimanan bagi seorang muslim adalah al-imanu bi-Qur’an (iman kepada Al-Qur’an). Keimanan tersebut mengandung beberapa konsekuensi berikut.

Pertama, al-ansu bihi (akrab dengannya).

Keakraban tersebut diimplementasikan dengan ta’allumuhu (mempelajarinya) dan ta’limuhu (mengajarkannya), yakni tilawatan (membacanya), fahman (memahaminya), tathbiqan (melaksanakannya), dan hifdzan (menghafalnya).

Tilawatan

Allah Ta’ala menyebutkan keutamaan tilawah Al-Qur’an melalui firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir, 35: 29-30) Continue reading “Muqtadha Al-Imani bil-Qur’an”

Asmaul Qur’an & Makanatul Qur’an

Nama-nama & Kedudukan Al-Qur’an

Allah Ta’ala menyebut Al-Qur’an dengan berbagai nama dan sifat, diantaranya adalah:

Pertama, al-kitab (kitab/buku).

Nama dan sifat ini tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab  ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 2)

Al-Qur’an disebut “Al Kitab.” sebagai isyarat bahwa Al-Quran harus ditulis, karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat menulis ayat-ayat Al-Quran.[1] Continue reading “Asmaul Qur’an & Makanatul Qur’an”

Tadabbur Al-Qur’an Surat ‘Abasa (Bag. 1)

Asbabun Nuzul

Latar belakang turunnya surat ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummul Mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini:

أُنْزِلَ عَبَسَ وَتَوَلَّى فِي ابْنِ أُمِّ مَكْتُوْمٍ الأَعْمَى أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يَقُوْلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرْشِدْنِي، وَعِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ عُظَمَاءِ الْمُشْرِكِيْنَ فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْرِضُ عَنْهُ وَيُقْبِلُ عَلَى الآخَرِ وَيَقُوْلُ أَتَرَى بِمَا أَقُوْلُ بَأْسًا فَيَقُوْلُ لاَ فَفِي هَذَا أُنْزِلَ

“Diturunkan ‘Abasa wa Tawallaa’ berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta, ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : ‘Wahai Rasulullah berilah saya bimbingan’. Sedangkan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu ada salah seorang pembesar kaum musyrikin. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan berbalik ke arah lelaki pembesar musyrikin tersebut, lalu beliau berkata: ‘Apakah menurutmu apa yang aku sampaikan kepadamu ini baik?”, maka lelaki pembesar musyrikin itu menjawab: ‘Tidak’. Tentang peristiwa inilah turun surat ‘Abasa.” (HR At-Tirmidzi no 2651) Continue reading “Tadabbur Al-Qur’an Surat ‘Abasa (Bag. 1)”