Akhtharu Nisyanil Qur’an

Bahaya Melupakan Al-Qur’an

Dalam pembahasan Makanatul Qur’an kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang mengandung kabar berita, hukum dan syariah, aturan jihad, pendidikan, dan pedoman hidup.

Kemudian di pembahasan Muqtadha Al-Imani bil-Qur’an kita telah mengetahui konsekuensi keimanan kepadanya, yaitu mengakrabinya, membina diri dengannya, tunduk kepada hukum-hukumnya, menyeru manusia kepadanya, dan menegakkannya di muka bumi.

Lalu apa akibatnya jika kita melupakan dan tidak mempedulikan Al-Qur’an? Continue reading “Akhtharu Nisyanil Qur’an”

Nafsul Insan

Jiwa Manusia

Salah satu bukti kekuasaan Allah Ta’ala adalah diciptakannya an-nafs (jiwa). Ia adalah esensi dalam diri manusia yang bersifat halus yang dapat merasakan sedih, gelisah, cinta, benci, dan atau sejenisnya. Tanpa jiwa, badan manusia nyaris tidak ada bedanya dengan patung.

 Allah Ta’ala telah melakukan penyempurnaan penciptaan jiwa manusia. Diilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan jalan ketakwaan. Sangat beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya dan memupuknya sehingga dapat mencapai kesempurnaan akal dan perbuatan yang membuahkan kebaikan untuk dirinya dan orang lain. Dan sebaliknya orang tidak beruntung ialah orang yang merugikan dan menjatuhkan diri ke dalam jurang kebinasaan disebabkan melakukan perbuatan maksiat dan menjauhkan amal kebaikan dan akan mendapat siksaan di akhirat nanti. Continue reading “Nafsul Insan”

Thaqatul Insan

Potensi Manusia

Allah Ta’ala membekali manusia dengan at-thaqah –potensi-, yaitu as-sam’u (pendengaran), al-basharu (penglihatan), dan al-fuadu (hati). Banyak sekali firman Allah Ta’ala yang menyebutkan tentang hal  ini, diantaranya adalah.

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Katakanlah: ‘Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati’. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. Al-Mulk, 67: 23)

Allah Ta’ala menganugerahkan telinga kepada manusia yang dengannya ia dapat mendengarkan ajaran-ajaran agama Allah yang disampaikan kepadanya oleh rasul-rasul Allah. Dianugerahi-Nya pula manusia mata yang dengannya ia dapat melihat, memandang dan memperhatikan kejadian alam semesta ini. Diberi-Nya manusia hati, akal dan pikiran untuk memikirkan, merenungkan, menimbang dan membedakan mana yang baik bagimu dan mana yang tidak baik, mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak bermanfaat. Sebenarnya dengan anugerah-Nya itu manusia dapat mencapai semua yang baik bagi dirinya sebagai makhluk Allah.[1] Continue reading “Thaqatul Insan”

Muqtadha Al-Imani bil-Qur’an

Konsekwensi Iman Kepada Al-Qur’an

Salah satu tuntutan keimanan bagi seorang muslim adalah al-imanu bi-Qur’an (iman kepada Al-Qur’an). Keimanan tersebut mengandung beberapa konsekuensi berikut.

Pertama, al-ansu bihi (akrab dengannya).

Keakraban tersebut diimplementasikan dengan ta’allumuhu (mempelajarinya) dan ta’limuhu (mengajarkannya), yakni tilawatan (membacanya), fahman (memahaminya), tathbiqan (melaksanakannya), dan hifdzan (menghafalnya).

Tilawatan

Allah Ta’ala menyebutkan keutamaan tilawah Al-Qur’an melalui firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir, 35: 29-30) Continue reading “Muqtadha Al-Imani bil-Qur’an”

Asmaul Qur’an & Makanatul Qur’an

Nama-nama & Kedudukan Al-Qur’an

Allah Ta’ala menyebut Al-Qur’an dengan berbagai nama dan sifat, diantaranya adalah:

Pertama, al-kitab (kitab/buku).

Nama dan sifat ini tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab  ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 2)

Al-Qur’an disebut “Al Kitab.” sebagai isyarat bahwa Al-Quran harus ditulis, karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat menulis ayat-ayat Al-Quran.[1] Continue reading “Asmaul Qur’an & Makanatul Qur’an”