Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 10)

Oleh: Taufik Yusuf M. Njong

Saudi dan Asya’irah

Ketika tinggal di Asrama LIPIA Jakarta sekitar tahun 2013, saya bertanya kepada teman salafi yang baru pulang dari acara Al-Yaum Al-Wathani (hari nasional) Kerajaan Arab Saudi, “Bukannya peringatan hari nasional bid’ah?” Dia menjawab: “Sebenarnya sih bid’ah tapi…”Saya hanya tersenyum, dalam hati saja.

Meskipun Kerajaan Arab Saudi modern didirikan berdasarkan koalisi antara Alu Sa’ud dan Alu Syaikh (keturunan Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahab), rata-rata para pemimpin Saudi kurang komitmen dengan ‘fatwa-fatwa kaku’ ulama Wahabisme. Saat ulama Saudi mengharamkan televisi, radio, video, photografi, telegram, sepeda, memotong jenggot, isbal dan fatwa-fatwa lainnya, para Raja-raja Saudi justeru berseberangan dengan mereka dan bersikap lebih terbuka. Lanjutkan membaca “Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 10)”

Hadits 13: Mencintai Sesama Muslim

Matan Hadits:

عَنْ أَبِيْ حَمْزَة أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: (لاَ يُؤمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ) رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu, pelayan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang kalian sampai dia mencintai saudaranya, seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Takhrij Hadits:

  • Imam Bukhari dalam Shahihnya No. 13
  • Imam Muslim dalam Shahihnya No. 45
  • Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 2515
  • Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 66
  • Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 12801, 13874
  • Imam Abu Ya’la dalam Musnadnya No. 3182, 3257
  • Imam Ad Darimi dalam Sunannya No. 2740
  • Imam Abdullah bin Mubarak dalam Az Zuhd
  • Imam Al Qudha’I dalam Musnad Asy Syihab 889
  • Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 11125
  • Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath 8288, 8854, juga dalam Musnad Asy Syamiyyin No. 2592
  • Imam Ibnu Mandah dalam Al Iman 296

Lanjutkan membaca “Hadits 13: Mencintai Sesama Muslim”

Prinsip 4: Iman Kepada Seluruh Rasul

Kita meyakini bahwa Allah Swt. berdasarkan hikmah-Nya yang mendalam dan rahmat-Nya yang luas tidak membiarkan manusia begitu saja dan tidak meninggalkan mereka dengan sia-sia. Akan tetapi, Dia mengutus kepada mereka sejumlah rasul yang memberikan kabar gembira dan peringatan.

لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

Agar tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya para rasul tersebut.[1]

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Supaya kalian menyembah Allah dan menjauhi thôghût.[2]

Lanjutkan membaca “Prinsip 4: Iman Kepada Seluruh Rasul”

Siapa yang Takut Terhadap Ikhwanul Muslim, dan Mengapa Harus Takut?

Oleh: Yvonne Ridley

Saya selalu penasaran mengapa gerakan Ikhwanul Muslim (IM) begitu menakutkannya bagi  rezim Arab. Penjara-penjara di Mesir, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi sekarang dipenuhi ribuan tahanan politik yang merupakan pimpinan dan anggota  dari gerakan tersebut. Gerakan ini pun sudah dilarang karena  “di cap” sebagai organisasi teroris oleh para penguasa tiran ini.

Ketakutan yang berlebihan ini – juga dirasakan oleh Sayap Kanan Ekstrim Israel dan Pemerintahan Donald Trump – karena gerakan ini dianggap  menjadi satu  kelompok politik yang paling jahat di kawasan Timur Tengah. Jika Anda menyimak Riyadh, Abu Dhabi atau Kairo, maka Anda tidak akan dipersalahkan bila memiliki anggapan bahwa negara-negara tersebut telah menangkap dan telah memenjarakan para teroris paling kejam dan berbahaya di dunia. Walaupun faktanya sangat berbeda. Anda dipaksa untuk sulit menemukan tindakan “teroris” yang dilakukan atau diklaim oleh IM. 

Lanjutkan membaca “Siapa yang Takut Terhadap Ikhwanul Muslim, dan Mengapa Harus Takut?”

Prinsip 3: Keimanan terhadap Hari Akhir

Kita beriman bahwa kematian bukan akhir perjalanan dan bahwa manusia diciptakan untuk kekal selamanya. Akan tetapi, kematian memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain; dari negeri ujian ke negeri balasan. Hari ini adalah kerja tidak ada hisab. Sementara, esok adalah hisab tidak ada kerja. Di akhirat seluruh jiwa diberi balasan sesuai dengan amal yang ia lakukan dan abadi menurut amal yang telah dikerjakan.

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ. فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ.

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan meski  seberat biji atom, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Serta barangsiapa yang mengerjakan kejahatan meski sebesar biji atom, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[1]

Lanjutkan membaca “Prinsip 3: Keimanan terhadap Hari Akhir”