Kedudukan Sunnah dalam Islam (Bag. 2)

Jawaban Kepada Para Pengingkar As-Sunnah

Kelompok yang mengingkari kehujjahan As-Sunnah sudah ada sejak lama. Pada zaman Imam Asy-Syafi’i, dengan telak  mereka berhasil dilucuti kekeliruannya. Oleh karena itu, Imam Asy-Syafi’i dijuluki  Nashirus Sunnah (Pembela As-Sunnah).

Alasan-alasan yang dikemukakan kelompok ini selalu sama. Mereka saling mewariskan dan mengutip satu sama lain dari zaman ke zaman hingga masa kita. Biasanya alasan yang mereka kemukakan untuk mengingkari kehujjahan As Sunnah adalah (kami paparkan pula sanggahannya):

Continue reading “Kedudukan Sunnah dalam Islam (Bag. 2)”

Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 2)

Oleh: Hepi Andi Bastoni, MA.

Pada tulisan sebelumnya dijelaskan, untuk memberikan keputusan atas orang-orang Yahudi Bani Quraizhah yang telah berkhianat pada Perang Ahzab, Nabi saw mengutus seorang sahabatnya Sa’ad bin Muadz. Mengapa perlu Sa’ad bin Muadz yang memberikan kata akhir bagi para pengkhianat itu? Mengapa tidak beliau sendiri?

Memang, Nabi saw memiliki wewenang untuk memutuskan hukuman: bunuh mereka, habis perkara! Suku Aus akan tunduk kepadanya. Namun, Nabi saw mengkhawatirkan hal itu akan berbenturan dengan sentimen sebagian pasukannya dari kalangan Aus. Karenanya, beliau memilih solusi yang paling tepat, “Apakah kalian rela bila perkara ini diputuskan oleh salah seorang dari kalian?” Mereka menjawab, “Kami rela. “Rasulullah saw bersabda, ”Orang itu adalah Sa’ad bin Mu’adz.”

Continue reading “Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 2)”

Kedudukan Sunnah dalam Islam (Bag. 1)

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Definisi

Secara bahasa (Lughatan – Etimologis):

As-Sunnah jamaknya adalah As-Sunan, Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan arti As-Sunnah adalah Ath Thariiq (jalan/cara/metode). (Al Qadhi’ Iyadh, Ikmal Al Mu’allim, 8/80. Lihat juga Imam Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 35/436). Lalu, Imam Abul Abbas Al Qurthubi mengatakan: Ath Thariiq Al Masluukah (jalan yang dilewati). (Imam Abul Abbas Al Qurthubi, Al Mufhim Lima Asykala Min Talkhishi fi Kitabi Muslim, 22/53)

Continue reading “Kedudukan Sunnah dalam Islam (Bag. 1)”

Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 1)

Oleh: Hepi Andi Bastoni, MA

Pekan terakhir Dzulqa’dah 5 Hijriyah. Matahari mulai meninggi. Rasulullah saw dan para shahabatnya berjalan pelan meninggalkan Khandaq. Perang Ahzab baru saja usai. Umat Islam keluar sebagai pemenang. Pasukan Ahzab yang jumlahnya mencapai 10 ribu prajurit terpaksa meninggalkan Madinah dengan tangan hampa setelah mengepung kota itu hampir sebulan. Mereka gagal menghabisi kaum Muslimin. Bahkan, dalam pertempuran yang lebih mengedepankan perang urat syaraf ini, korban Pasukan Ahzab lebih banyak, mencapai 10 orang. Sedangkan syahid dari umat Islam hanya enam orang.

Continue reading “Memetik Hikmah dari Perang Bani Quraizhah (Bag. 1)”

Hadits 10: Allah Ta’ala Hanya Menerima yang Baik-baik (Bag. 2)

Makna Kalimat dan Kata

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ:: dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata

Tentang siapa Abu Hurairah sudah dibahas pada syarah hadits ke-9.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: Rasulullah bersabda

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ : Sesungguhnya Allah itu baik (thayyib)

Yaitu Allah itu  suci, bersih, dan selamat dari kekurangan dan aib. Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah menerangkan makna thayyib:

Continue reading “Hadits 10: Allah Ta’ala Hanya Menerima yang Baik-baik (Bag. 2)”