Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Hingga Perseteruan (Bag. 15 – Tamat)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Al-Madkhaliyah

Di penghujung tahun 80-an, akhir-akhir jihad Afghan kontra Soviet, mulai timbul suara-suara miring terhadap jihad Afghanistan dan para mujahidin. Mereka menakut-nakuti para pemuda yang ingin berjihad dengan kondisi Afghanistan yang super panas, dingin dan salju serta akan berhadapan dengan salah satu tentara terkuat dimuka bumi, tentara merah Uni Soviet. Sebagian mereka berangkat sampai ke Peshawar Pakistan dan sekembalinya ke Saudi mereka gencar memprovokasi publik agar tidak berdonasi untuk jihad Afghan dengan alasan bahwa para mujahidin Afghan adalah ahli bid’ah, quburiyyin (penyembah kubur) dan musyrikin. Menurut mereka, berjihad ke Afghanistan sama saja dengan bergabung dengan musyrikin Afghan kontra mulhidin (atheis) Rusia.

Syaikh Abdullah Azzam—dalam pidatonya yang dibukukan dengan judul Fi Zilal Surah At-Taubah dan diterbitkan oleh Markaz As-Syahid Azzam Al-Islami—menganggap mereka sebagai kaum munafik yang justru menjadi batu sandungan bagi para mujahidin. Saat itu, Syaikh Abdullah Azzam mungkin tidak tahu bahwa kelompok tersebut adalah ‘anak’ dari intelijen Saudi dan lahir dari rahim menteri dalam negeri Saudi sendiri sebagaimana Ahmadiyah Qadiyaniyah yang menegasikan jihad lahir dari rahim Britania Raya.

Sejak awal berdirinya, masyarakat Saudi terbagi dalam beberapa kecenderungan keislaman yang berbeda-beda. Kecenderungan Asy’ari Shufi yang makin lama makin tergerus, lalu Salafiyah konservatif yang diwakili oleh para ulama resmi Kerajaan Saudi Arabia, serta Hai’ah Kibar Ulama dan dekat dengan penguasa, serta Salafiyah Ultra Konservatif yang cenderung revolusioner dan radikal yang tercermin dari Ikhwan Wahabiyah (Man Atha’a Allah), kelompok Juhaiman cs dan Salafiyah Muhtasibahnya yang kemudian bermetamorfosis menjadi Salafi Jihadi. Lalu Ikhwanul Muslimin masuk dan berkembang pesat era 60-an 70an pada masa Raja Faishal, kemudian gerakan Shahwah Islamiyyah (dengan pengaruh dan warna Ikhwan) disupport Kerajaan Saudi Arabia di era 80-an untuk memobilisasi jihad Afghan dan membendung pemahaman liberal hingga meletuslah perang teluk kedua tahun 1990. Saat itu Syaikh bin Baz mengeluarkan fatwa kafirnya Saddam Husein—walaupun ia sholat dan mengucap syahadat—dan bolehnya meminta bantuan kafir Amerika untuk melawan kezaliman Saddam dimana kemudian memaksa Saudi untuk menampung ribuan tentara AS di Saudi yang secara tekstual bertentangan dengan sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Keluarkanlah kaum musyrikin dari jazirah Arab.”

Fatwa ini dikritik oleh para ulama Shahwah seperti Dr. Salman Al-Audah dan Dr.Safar Al-Hawali. Al-Hawali menulis kitab Kasyf Al-Ghummah ‘An Ulama Al-Ummah untuk mengkritik Syaik bin Baz dan Hai’ah Kibar Ulama. Sementara sebagian da’i Salafiyah di Universitas Islam Madinah seperti Muhamamad Aman Jami dan Rabi bin Hadi Al-Madkhali membela fatwa Hai’ah kibar ulama dan Kerajaan Arab Saudi. Al-Madkhali mengarang kitab Shadd ‘Udwan Al-Mulhidin Wa Hukmu Al-Isti’anah Ala Qitalihim bi Ghairi Al-Muslimin. Madkhaliyah (sebutan utk kelompok ini) kemudian bertindak lebih jauh dalam ketaatannya yang mutlak terhadap Alu Su’ud serta menuduh kelompok yang berbeda dengan mereka sebagai Khawarij, Hizbiyin, Quburiyyin, Mubtadi’ dan gelar-gelar buruk lainnya. Alu Su’ud yang butuh pada satu kelompok salafiyah yang bisa membantu mendukung sikap-sikap politiknyapun dengan senang hati mensupport Jamiyah Madkhaliyah sejak tahun 90-an.

Combating Terrorism Center, lembaga akademik Akademi Militer AS di West Point, New York (mengutip lembaga think tank, ICG) melaporkan bagaimana Madkhalis didukung Kerajaan Saudi Arabia dan menjadi mata-mata setiap jihadis yang pulang ke Saudi dari Afghanistan: “…Madkhali is not well-known in the West and he is no longer a person of much influence in Saudi Arabia. But in the 90s, he was incredibly influential in Saudi Arabia (and he still has a large following among Muslims in Europe). Much of this influence derived from the support he received from the Saudi government. During and after the first Gulf War, the Saudi government faced intense criticism from the leaders of the Sahwa movement (a politically active strain of Wahhabism) for allowing US troops to be stationed in Saudi Arabia. These leaders had a large following, particularly among the youth. To blunt their appeal, the Saudi government arrested the movement’s leaders and strongly backed Madkhali, who supported the regime, was politically quietist, and, most importantly, was effective at siphoning off potential Sahwa recruits, particularly among the youth…”

Di antara sikap ekstrim Madkhalis terhadap Ikhwan, gerakan Shahwah dan tokoh-tokohnya adalah seperti yang Rabi’ Al-Madkhali tulis dalam kitabnya Adhwa’ Islamiyyah Ala Aqidah Sayyid Qutb Wa Fikrih dimana Al-Madkhali menuduh Sayyid Quthb dengan kekufuran, atheisme dan zindiq; Sayyid Qutub mengatakan adanya wihdatul wujud; mengatakan Al Qur’an makhluk ; selain Allah boleh membuat syariat; berlebihan dalam mengagungkan sifat Allah; menolak hadits-hadits mutawatir; meragukan masalah-masalah aqidah yang jelas wajib diyakini, dan lain-lain. Kitab ini kemudian diminta untuk dikoreksi oleh Syaikh Bakr Zaid dimana beliau karena ke-inshofan-nya membantah tuduhan-tuduhan Al-Madkhali dan melarang mencetak kitab tersebut.

Di Yaman, salah satu tokoh kelompok ini, Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i menulis buku berjudul Iskat Al-Kalb Al-‘Awi Yusuf Ibn Abdullah Al-Qaradawi, Mendiamkan Anjing Yang Menggonggong Yusuf bin Abdullah Al-Qaradhawi, untuk membantah pemikiran Syaikh Al-Qaradhawi. Karenanya, tidak mengherankan jika banyak pengikut salafi Yaman yang belajar di Dammaj sangat tajam lidahnya terhadap sebagian ulama yang berbeda dengan mereka.

Syaikh Albani termasuk yang mengkritik sikap ekstrim Al-Madkhali dalam tuduhannya terhadap Sayyid Qutb terkait ungkapan jahiliyah yang menurut Al-Madkhali adalah pengkafiran terhadap umat Islam. Bahkan menurut Syaikh Albani, hampir di semua kitab Al-Madkhali terdapat sikap ekstrim (Lihat: tulisan Ustad Firanda Andirja dalam webnya dengan judul: Ada Apa Dengan Radio Rodja dan Rodja TV (bag 4)? – Manhaj Syaikh Rabî’ dalam Timbangan Manhaj Para Ulama Kibâr).

Sikap ekstrim Madkhalis dalam membid’ahkan dan mentahzir kelompok lain atas nama ilmu jarh wa ta’dil tidak hanya dibantah oleh kelompok non salafi, Syeikh Salih Fauzan sendiri (anggota Hai’ah Kibar Ulama Saudi) membantah sikap ekstrim Madkhalis dalam mentabdi’ dan mentahzir dan menganggapnya sebagai ghibah. Sebab ulama jarh wa ta’dil sudah meninggal.

Jika Madkhalis mentahzir dan melarang kitab-kitab karangan tokoh Shahwah seperti Salman Al-Audah, Syaikh bin Baz justru merekomendasikan dan memberikan kata pengantar terhadap kitab-kitab Al-Audah dan menyebutnya sebagai Al-Akh Al-Allamah (lihat tetralogi membumikan Islam Silsilah Rasail Al-Ghuraba’/Al-Uzlah Wa Al-Khulthah Ahkam wa Ahwal yang dicetak tahun 1993.

Sikap ekstrim, loyalitas mutlak Madkhaliyah terhadap penguasa dan permusuhan mereka terhadap para ulama dan umat Islam yang berseberangan dengan mereka membuat musuh-musuh mereka menggelari kelompok ini sebagai Murjiah Ma’al Hukkam wa Khawarij Ma’a Ad-Duah Wa Aamatul Muslimin, Bersikap layaknya Sekte Murjiah ketika berhadapan dengan penguasa dan menjadi khawarij ketika berhadapan dengan para da’i dan umat Islam.

Bisa jadi, banyak orang yang menduga bahwa sangat tidak mungkin bagi kelompok Madkhalis untuk melakukan kekerasan bersenjata dan melakukan penculikan serta pembunuhan terencana mengingat kelompok ini adalah yang paling gencar meng-‘khawarij’-kan perilaku seperti itu. Namun, apa yang mereka lakukan berupa pemberontakan terhadap pemerintah sah Libiya (GNA) serta penculikan dan pembunuhan terhadap Sekjen Hai’ah Ulama Libiya Syaikh Dr. Nadir Al-Umrani membuktikan kepada kita betapa kelompok ini begitu mudah untuk dicuci otaknya sesuai dengan keinginan para tuannya. Belum lagi dengan penculikan dan pembunuhan da’i dan ulama di Aden Yaman yang diduga melibatkan tokoh Madkhalis Yaman Hani’ bin Brik.

Dalam wawancara dengan New York Time Maret 2010, menteri luar negeri Saudi saat itu; Sa’ud Al-Faishal mengeluarkan statement bahwa masyarakat Saudi sedang menuju kepada masyarakat yang liberal. Sementara itu aktivis liberal Saudi yang juga Sekjen Jaringan Liberal Saudi Su’ad As-Syammari dalam wawancara dengan majalah Deutsche Welle (DW) Jerman yang berbahasa Arab pada Mei 2012 menegaskan bahwa 70% dari masyarakat Saudi adalah liberal. Su’ad juga menyebutkan beberapa nama neo-salalafis Saudi yang berpaham liberal seperti Abdul Muhsin Al-Ubaikan dan Ahmad Al-Ghamidi dan lain-lain.

Sejatinya, ada dua kelompok besar liberal di Saudi, Kaum liberalis Sosial yang menuntut reformasi dan kebebasan sosial serta pembatasan pengaruh Agamawan terutama di Komite Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Kelompok ini didukung oleh Alu Su’ud baik secara terang-terangan ataupun diam-diam. Sementara itu kaum liberalis politik yang menuntut kebebasan berpendapat dan reformasi politik rata-rata dimusuhi oleh Penguasa Kerajaan Arab Saudi karena mereka terkadang juga berkoalisi dengan tokoh-tokoh Shahwah.

Cukup mengherankan memang bagaimana kaum Liberalis dan Madkhalis bisa berjalan berbarengan di Arab Saudi padahal Madkhalis adalah kelompok konservatif dan kaku dalam menyikapi masalah-masalah ikhtilat, dunia hiburan dan lain-lain yang saat ini gencar dipromosikan Muhammad bin Salman melalui General Entertainment Authority. Sampai saat ini saya belum mendengar kecaman dan kritik dari Madkhalis terhadap Alu Su’ud yang mengarahkan kehidupan sosial masyarakat Saudi menjadi liberal dan hedonis. Atau jangan-jangan konflik antara Madkhalis vs Ali Su’ud dan Liberalis adalah seperti api dalam sekam yang suatu saat akan membakar semuanya? Dan pada akhirnya Madkhalis juga akan dicampakkan? Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s