Prinsip 8: Sumber Islam yang Terpelihara

(Alquran dan as-Sunnah)

Pertama, kita meyakini bahwa sumber akidah, syariah, akhlak, nilai, berikut sejumlah konsep dan standarnya adalah Alquran al-Karim. Ia merupakan sumber yang terpelihara yang tidak mengandung kebatilan sama sekali. Ia adalah landasan utama dan sumber dari segala sumber. Ia menjadi rujukan dan dalil bagi sumber-sumber lainnya. Bahkan kedudukan as-Sunnah sebagai hujjah tetap merujuk kepada Alquran.

Tidak ada seorang muslim yang komitmen kepada syahadatain lalu meragukan kebenaran nash Alquran, meragukan kondisinya yang terlindung dari perubahan baik berupa penambahan maupun pengurangan, serta pada kedudukannya sebagai hujjah, apapun madzhabnya serta apapun kelompoknya. Entah ia dari sunni, syiah ja’fari, zaydi, atau ibadhi.

Alquran merupakan kitab suci seluruh kaum muslimin. Hanya Alquran yang demikian terang, mudah, dan terpelihara.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang.[1]

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Kami mudahkan Alquran sebagai pelajaran. Maka, adakah yang mau mengambil pelajaran?[2]

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Kami yang menurunkan Alquran sebagai peringatan dan Kami pula yang menjaganya.[3]

Allah menurunkan Alquran yang berbahasa Arab. Jadi, ia memang berbahasa Arab. Namun, kandungan dan tinjauannya bersifat universal. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (Alquran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.[4]

Karena itu, kaum muslimin wajib menerjemahkan maknanya ke dalam berbagai bahasa di dunia sehingga mereka bisa menyampaikan risalah Allah ini kepada manusia, memberikan hujjah kepada mereka, serta menegaskan universalitas dakwah.

Kedua, As-Sunnah yang sahih menjadi sumber Islam yang kedua setelah Alquran. As-Sunnah itulah yang disampaikan oleh para sahabat dan keluarga Nabi saw kepada kita lewat berbagai jalur yang bisa dipercaya. Salah satu tugas yang Allah berikan kepada Rasul-Nya adalah menerangkan Alquran kepada manusia.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

Kami turunkan kepadamu Alquran agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.[5]

Alquran berperan sebagai petunjuk ilahi bagi alam semesta. Sementara, as-Sunnah berperan sebagai penjelasan Nabi kepada manusia yang berupa ucapan, perbuatan, dan ketetapan beliau. Kadang ia menafsirkan apa yang dinyatakan oleh Alquran secara global, atau mengkhususkan apa yang masih umum, serta membatasi apa yang masih bersifat mutlak. Allah memerintahkan untuk menaati Rasul-Nya karena beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Ketaatan kepada beliau berarti ketaatan kepada Allah Swt. Allah befirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Siapa yang taat kepada Rasul berarti ia taat kepada Allah.[6]

Karena itu, Dia mengaitkan ketaatan kepada Rasul-Nya dengan ketaatan kepada-Nya. Kalau hal itu dilakukan maka mereka akan mendapat petunjuk dan cinta Allah. Allah befirman,

قلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

Katakanlah, ”Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul! … Jika kalian menaatinya pasti kalian mendapat petunjuk.”[7].

قلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah, ”Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku! Pasti Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.[8]

Alquran tidak akan bisa dipahami secara sempurna tanpa kehadiran as-Sunnah, baik yang berupa ucapan sebagai bagian terbesar maupun berupa amal perbuatan seperti sunah yang terkait dengan penjelasan tentang salat lima waktu dan manasik haji. Itu semua merupakan sunah dalam bentuk amal perbuatan yang diyakini secara mutawatir.

Sebaliknya, as-Sunnah juga tidak akan bisa dipahami secara benar jika dilepaskan dari Alquran. Akan tetapi, ia harus dipahami sesuai dengan kerangka pemikirannya. Sebab, penjelasan tidak boleh berlawanan dengan sesuatu yang dijelaskan.

As-Sunnah dengan kedudukannya sebagai penjelas Alquran telah disepakati oleh seluruh madzhab dan aliran Islam.

Yang penting kedua sumber tersebut dipahami lewat kerangka bahasa Arab yang dengannya Alquran diturunkan dan hadis diriwayatkan, serta sesuai dengan sejumlah kaidah yang digariskan oleh para ulama terpercaya. Khususnya, ulama ushul fiqh. Ia adalah kaidah yang sebagian besarnya sudah disepakati dan hanya sebagian kecil saja yang masih diperselisihkan.

Ketiga, sumber syariat lainnya seperti ijma, qiyas, akal, istishlah, istihsan, uruf, serta sejumlah syariat sebelum kita, dan istishab, kedudukan semuanya sebagai hujjah tetap bersumber dari dua sumber utama di atas: Alquran dan as-Sunnah.

Catatan Kaki:

[1] Q.S. al-Nisâ`: 147.

[2] Q.S. al-Qamar: 17.

[3] Q.S. al-Hijr: 19.

[4] Q.S. al-Furqân: 1.

[5] Q.S. al-Nahl: 44.

[6] Q.S. al-Nisâ`: 80.

[7] Q.S. al-Nûr: 54.

[8] Q.S. Ali Imrân: 31.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s