Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 13)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Islam Moderat vs Radikal?

24 Oktober 2017, dalam sebuah wawancara bersama para investor dalam forum Future Investment Initiative yang berlangsung di Riyadh, Putra Mahkota Kerajaan Saudi Arabia, Muhammad bin Salman mengatakan akan membawa Arab Saudi kembali menuju Islam moderat dan akan segera menghancurkan pemikiran-pemikiran radikal. Di forum tersebut, ia menegaskan: “Sejatinya, kami (Saudi) hanya kembali kepada kondisi semula sebelum tahun 1979, (kembali) ke Islam moderat dan terbuka terhadap dunia luar, terbuka dengan semua agama, adat istiadat dan bangsa-bangsa lain”. Ia menambahkan, bahwa Proyek Shahwah—Shahwah Islamiyyah yang disinyalir sebagai awal dari radikalisme di Saudi—baru tumbuh di Saudi pasca tahun 1979.

Sebagaimana diketahui, pada tahun 1979 terjadi beberapa peristiwa besar diantaranya adalah Revolusi Islam Iran dan kemudian diikuti oleh (kudeta) ‘pendudukan Masjidil Haram’ oleh kelompok Juhaiman Al-Utaibi. Setelahnya, Arab Saudi menjadi negara yang cenderung tertutup. Koalisi antara Alu Su’ud dan Alu Syaikh (Keturunan Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab) kembali dipererat, dan gerakan Shahwah Islamiyyah atau Salafiyah Sururiyah—yang kini dianggap ekstrim dan dihubung-hubungkan dengan Al-Ikhwanul Muslimin Mesir—diberi panggung dan berkembang pesat di Saudi. Muhammad bin Salman seperti ingin menarik kesimpulan bahwa gerakan Shahwah—dengan tokoh-tokohnya seperti Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, dan lain-lain—adalah penyebab radikalisme di Saudi dimana sebelum tahun 1979 Saudi adalah negara terbuka dan moderat.

Benarkah semua yang dikatakan Muhammad bin Salman? Benarkah Shahwah Islamiyyah sumber radikalisme di Saudi? Seperti apa sejatinya Saudi sebelum tahun 1979? Lalu darimana sebenarnya asal ideologi radikal Juhaiman cs yang menduduki masjidil haram tahun 1979? Kenapa gerakan Shahwah Islamiyyah yang berkembang di era 80-an kini di cap radikal dan dihubung-hubungkan dengan organisasi Ikhwanul Muslimin? Apakah Muhammad bin Salman ingin menuding bahwa Ikhwanul Muslimin sebagai sumber radikalisme dan gerakan Wahabisme adalah gerakan Islam moderat yang rahmatan lil ‘alamin?

Dalam tulisannya di The Washington Post, 5 April 2018, Jamal Khassoghi membantah statemen Muhammad bin Salman bahwa sebelum tahun 1979 Saudi adalah negara yang moderat jika standar moderat adalah dibolehkannya wanita menyetir mobil atau adanya bioskop-bioskop, dan lain-lain. Sebab saat itu tidak ada bioskop yang dibuka untuk umum. Menurut Khassoghi yang sudah remaja di era 70-an—dan tentunya Muhammad bin Salman waktu itu belum lahir—ia tidak pernah menemukan ada wanita Saudi yang menyetir ataupun bioskop-bioskop yang dibuka untuk umum.

Justru, era 60-an dan 70-an jikapun hendak dianggap sebagai era Islam moderat di Saudi, maka itu adalah era dimana Raja Faishal menggandeng tokoh-tokoh Ikhwan yang moderat seperti Syaikh Manna’ Al-Qatthan yang mereformasi kementrian kehakiman Saudi serta mengetuai Lajnah Ilmiyah untuk pendidikan perempuan dimana sebelumnya perempuan diharamkan bersekolah dan kuliah oleh para ulama Wahabiyah konservatif. Ditulisan uraian sebelumnya, saya sudah menjelaskan bagaimana pangeran Khalid Bin Musa’id yang terpengaruh dengan pemahaman kaku ulama Wahabi menyerang pusat televisi Saudi yang kemudian mengakibatkan kematiannya karena melawan aparat keamanan yang berusaha menangkapnya ditahun 1965. Jadi, sekali lagi, jika pun era sebelum tahun 1979 dianggap sebagai era Saudi moderat maka itu tak bisa dilepaskan dari peran ulama Ikhwanul Muslimin yang mengajar di sekolah-sekolah dan universitas-universitas Saudi, menguasai Kementrian Penerangan dan ikut mempengaruhi kebijakan Raja Faishal melalui penasehatnya yang notabene adalah Ikhwani: Syaikh Muhammad Mahmud Shawwaf dan Dr. Ma’ruf Ad-Dawalibi.

20 November 1979, Juhaiman bin Muhammad bin Saif Al-Utaibi dan para pengikutnya menduduki Mesjidil Haram dan menyatakan salah seorang diantara mereka, yaitu Muhammad Abdullah al-Qahtani sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu. Mereka menyeru semua muslim untuk mentaatinya. Mereka lalu menguasai Masjidil Haram dan menyandera para jamaah haji. Tentara keamanan Arab Saudi kemudian mengepung kompleks masjid dan setelah dua minggu, para militan berhasil dikalahkan. Lalu siapa Juhaiman dan kelompoknya?

Juhaiman adalah seorang tentara berpangkat Sersan di Kementerian Garda Nasional Arab Saudi. Pasukan Garda Nasional sendiri pada awalnya adalah pasukan dari kabilah-kabilah badui konservatif yang menjadi bagian penting pasukan Raja Abdul Aziz Alu Su’ud dalam upayanya menyatukan Jazirah Arab di awal-awal berdirinya kerajaan Saudi Modern. Pada awalnya, kabilah-kabilah badui nomaden ini ‘dirumahkan’ oleh Raja Abdul Aziz Alu Su’ud ke Riyadh sejak tahun 1911. Disana mereka digembleng dengan ideologi Wahabisme radikal untuk berjihad melawan apa yang mereka anggap sebagai orang-orang musyrikin. Saya katakan radikal salah satu sebabnya karena sebagian para ulama Wahabi era ini mengkafirkan kekhalifahan Utsmani di Turki.

Pasukan Badui ini dikenal dengan Al-Ikhwan Man Atha’a Allah (saya menyebutnya Ikhwan Wahabiyah untuk membedakannya dengan Ikhwanul Muslimin Mesir). Mereka adalah bagian dari pasukan raja Abdul Aziz dan memainkan peran penting dalam penaklukkan Kerajaan Hijaz (Mekkah, Madinah dan Jeddah) tahun 1924-1925 dari keluarga Syarif Husein. Akan tetapi di kemudian hari mereka berselisih dengan Raja Abdul Aziz karena penentangan mereka terhadap modernisasi Saudi seperti pemasangan pompa air modern sumur zamzam, pemasangan telegraf, dan lain-lain sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Ikhwan Wahabiyah juga berpendapat bahwa jihad melawan kaum musyrikin di Irak dan Kuwait harus dilanjutkan, hal yang tidak disetujui oleh Raja Abdul Aziz karena ia terikat perjanjian dan punya kepentingan dengan Inggris yang menguasai Irak saat itu. Karenanya, Ikhwan Wahabiyah kemudian melakukan pemberontakan di tahun 1929-1930 terhadap Alu Su’ud yang dianggap telah menyeleweng dari pemahaman Wahabisme dan berakhir dengan kekalahan Ikhwan Wahabiyah. Akan tetapi, Raja Abdul Aziz kemudian memaafkan sebagian mereka dan sisa dari pasukan ini digabungkan kedalam Pasukan Garda Nasional dimana Juhaiman adalah salah satu dari keturunan dari wilayah pasukan badui Ikhwan Wahabiyah ini.

Juhaiman Al-Utaibi belajar di Universitas Islam Madinah era 60-an. Saat itu, Saudi menjadi negara makmur pasca ditemukannya ladang minyak. Secara berangsur-angsur, kehidupan sebagian masyarakat Saudi yang konservatif berubah cenderung menjadi terbuka, modern bahkan hedonis, hal yang ditentang oleh sebagian gerakan keagamaan konservatif. Karenanya, tahun 1965 terjadi pengrusakan studio-studio photo yang ada di Madinah serta pengrusakan toko-toko yang ada gambar dan photo. Kelompok Juhaiman kemudian mengunjungi Syaikh bin Baz untuk mendirikan Jama’ah Salafiyah yang akan melakukan amar makruf nahi mungkar mengingat—menurut mereka—banyak kemungkaran terjadi di Saudi saat itu. Oleh Syeikh bin Baz nama jamaah diganti menjadi Jamaah Salafiyah Muhtasibah yang didirikan tahun 1966 dan Syeikh bin Baz menjadi penasehatnya hingga kemudian beliau dipindahkan ke Riyadh.

Ringkasnya, fakta sejarah menunjukkan bahwa gerakan Juhaiman ini erat kaitannya dengan ideologi Wahabisme sendiri sebagai reaksi dari modernisasi (baca: penyelewengan) yang dilakukan para raja Alu Su’ud, sebagaimana sebelumnya Alu Su’ud juga bentrok dengan Ikhwan Wahabiyah. Jadi, sumber radikalisme yang coba dituduhkan oleh Muhammad bin Salman terhadap Ikhwanul Muslimin sejatinya bersumber dari ideologi jumud Wahabisme sendiri.

Perlu juga dicatat bahwa pada saat Juhaiman menduduki Masjidil haram tahun 1979, Syeikh bin Baz sempat mengusulkan agar masalah pendudukan ini diselesaikan dengan cara dialog sebagaimana Ibnu Abbas dulu berdialog dengan kaum Khawarij. Namun, Alu Su’ud kemudian lebih memilih untuk menggunakan kekuatan senjata dimana pada dasarnya hal itu dilarang pada bulan haram dan di tanah haram. Menurut reportase Al-Jazeera dalam program Ma Khafia A’zham, peristiwa penaklukan terhadap kelompok Juhaiman ini melibatkan pasukan khusus/sniper Perancis yang berhasil diwawancarai oleh Al-Jazeera, dimana seharusnya orang kafir tidak memasuki tanah haram. Penggunaan kekerasan dan pertumpahan darah di Masjidil Haram mengundang kritik dari Osama bin Laden dan kekecewaannya terhadap Alu Su’ud pasca diizinkannya Jazirah Arabiyah ditempati oleh tentara kafir (AS) saat perang teluk kedua juga berperan penting dalam melahirkan Al-Qaeda dan ekstrimis-ekstrimis lainnya yang justru mengkafirkan Alu Su’ud.

Pasca Peristiwa Juhaiman, Alu Su’ud mulai mengevaluasi kembali proyek ‘modernisasi’ yang sebelumnya mereka lakukan serta lebih mendekat dan mendengar kembali seruan para ulama Wahabisme. Tahun 1980, Raja Khalid bin Abdul Aziz mengeluarkan Marsum Malaki atau titah kerajaan berupa arahan kepada menteri penerangan untuk:

  1. Melarang setiap tayangan tarian perempuan ataupun penyanyi perempuan di televisi Saudi.
  2. Larangan tampilnya pembawa berita perempuan di televisi Saudi.
  3. Larangan tampilnya setiap perempuan Saudi di televisi.
  4. Larangan memajang photo perempuan di koran dan majalah Saudi.

Selain itu, Hai’ah Al-Amru Bil Ma’ruf diberikan kewenangan lebih besar untuk menjalankan aktifitasnya.

Jadi? Sekali lagi, ‘radikalisme Saudi’ yang diklaim Muhammad bin Salman sebagai ‘ideologi impor’ sejatinya adalah produk asli Nejd dan telah ada sejak adanya kerajaan Saudi pertama yang berkoalisi dengan ideologi Wahabisme. Kembali radikalnya Saudi pasca 1979 sebenarnya erat kaitannya juga dengan bertambah eratnya kembali hubungan Alu Su’ud dengan Masyaikh Wahabiah konservatif berbarengan dengan melebarnya jarak antara Ikhwanul Muslimin dengan Alu Su’ud setelah Raja Faishal meninggal serta revolusi Iran yang juga didukung oleh Ikhwanul Muslimin.

Bagaimana dengan gerakan Shahwah? Gerakan Shahwah sering diidentikkan dengan Salafiyah Sururiyah dan dianggap sebagai bagian dari Ikhwanul Muslimin. Mengingat tokoh-tokoh Shahwah seperti Salman Al-Audah dan Safar Hawali punya hubungan dekat dengan Syaikh Muhamamad Surur bin Nayif Zainul Abidin dan Muhammad Qutb. Syaikh Muhammad bin Surur sendiri adalah seorang da’i Ikhwan asal Suriah yang kemudian berbeda pendapat dengan Ikhwan Suriah (Tandzim Halab dan Hama yang lebih moderat dan diakui secara internasional dibawah kepemimpinan Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah) dan akhirnya keluar dari Ikhwan serta banyak mengkritik sikap Ikhwan.

Syaikh Muhammad Surur dikenal dengan sikap kerasnya terhadap Syi’ah. Beliau menganggap sebagian para ulama yang berusaha mendekatkan antara Sunni-Syiah sebagai ‘kaum munafik’. Sikap kerasnya terhadap Syi’ah bisa dilacak di kitab-kitab beliau seperti Ightiyal Al-Hariri, Ahwal Ahlussunah Fi Iran dan Wa Ja-a Daurul Majusi (kitab in dibeli ratusan eksemplar oleh Syaikh bin Baz dan dibagikan gratis kepada orang-orang Saudi). Sikap Gerakan Shahwah yang sangat anti Syi’ah tentu sejalan dengan Kerajaan Saudi Arabia yang saat itu mulai ketakutan dengan efek Revolusi Iran. Adalah hal lumrah jika Saudi ikut mensupport berkembangnya Gerakan Shahwah. Terlebih, Saudi saat itu butuh gerakan Shahwah dan Ikhwan untuk memobilisasi jihad di Afghanistan. Maka, sejatinya jika Saudi menganggap Ikhwan dan Shahwah sebagai sumber radikalisme, mereka harusnya juga bertanggung jawab karena ikut mensupportnya selama puluhan tahun.

Setelah perang Afghanistan selesai dan perang teluk kedua berlangsung, para da’i Shahwah menentang permintaan bantuan Kerajaan Saudi Arabia pada Amerika untuk menyerang Irak. Maka, Saudi mulai menjaga jarak bahkan cenderung memusuhi gerakan Shahwah dan Ikhwan. Pasca perang teluk, Salafiyah Jamiyah/Madakhilah atau yang dikenal dengan ‘kokohiyun’ di Indonesia diberikan panggung untuk bermanuver. Sempat meredup, mereka kembali aktif berkoar-koar membela Waliyul Amri sejak Arab Spring meletus tahun 2011.

Jadi, apa sebenarnya hakikat dari Islam moderat? Apakah Saudi sebelum tahun 1979 adalah cerminan Islam moderat sebagaimana pernyataan Muhammad bin Salman? Apakah Islam moderat adalah model beragama seperti yang diinginkan Muhammad bin Salman dengan mengundang para musisi dan penari untuk dipertontonkan kepada rakyat negara tauhid? Apakah modernisasi yang saat ini dilakukan oleh Muhammad bin Salman adalah agar Saudi menjadi Islam moderat atau justru malah kebablasan dalam jurang liberal dan hedonis?

Kurang lebih dua puluh tahun terakhir ini umat Islam sibuk memperebutkan stempel Islam moderat, tentu menurut definisinya masing-masing. Ikhwanul Muslimin juga menganggap dakwahnya adalah dakwah Islam moderat yang enggan bersikap ekstrim dalam khilaf antara Mazhab salaf dan khalaf dalam memahami asma wa shifat. Ikhwan juga bersikap moderat antara mereka yang mengharamkan taklid terhadap sebuah mazhab fiqih dan antara mereka yang menutup rapat pintu ijtihad. Sebagaimana manhaj Syaikh Al-Qaradhawi yang menjadi guru spiritual Ikhwan adalah manhaj yang moderat. Sebagian umat slam lain juga rajin mengaku moderat, disamping untuk menegasikan dan menstigma radikal pihak lain, terkadang juga dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari Barat.

Anyway, pasca ‘modernisasi’ ala Muhammad bin Salman, kita layak menunggu bagaimana sikap para ulama Saudi khususnya Salafiyah Jamiyah/Madakhilah yang Ultra Konservatif menyikapi modernisasi tersebut. Mereka tentu bisa memilih untuk tetap diam dan ta’at kepada Waliyul Amri serta berfatwa sesuai yang diinginkan Waliyul Amri dimana keamanan mereka terjamin atau memilih mengkritisi Saudi dan berakhir dalam jeruji besi serta bernasib sama seperti para ulama Shahwah dan Ikhwan atau bahkan dimutilasi seperti nasib Jamal Kashoggi? Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s