Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 12)

Berebut Pengaruh di Kawasan

Meskipun antara Ikhwan dan Iran mempunyai beberapa titik temu terutama dalam masalah Palestina dan semangat revolusinya, keduanya juga mempunyai beberapa jurang pemisah terutama dalam memandang ideologi sosialisme komunisme lalu membandingkannya dengan demokrasi liberalisme barat (AS). Ikhwan yang mengalami turbulensi politik berupa pembubaran, penangkapan hingga hukuman mati di negara-negara seperti Mesir, Suriah dan Irak yang mengadopsi ideologi sosialisme melihat blok Soviet dengan komunisme (yang sering diidentikkan dengan atheisme) sebagai sebuah ideologi yang lebih berbahaya ketimbang blok barat yang demokratis dan liberalis. Setidaknya sampai sebelum Uni Soviet bubar—Dr. Musthafa Husni As-Siba’i dan Sosialisme Islamnya adalah pengecualian.

Berbeda dengan Iran yang menganggap bahwa Barat (AS) lebih berbahaya dari Soviet. Bagi Iran, AS adalah penyebab utama kekacauan yang terjadi di timteng, Palestina khususnya. Dalam hal ini, cara pandang Ikhwan terhadap Barat (AS) dan Soviet sangat dekat dengan Saudi, terutama pada masa kepemimpinan Raja Faishal dan era Perang Afghanistan kontra Soviet.

Sejatinya, Iran dan Saudi sebelum tahun 1979 berjalan beriringan karena keduanya adalah pemerintahan monarki yang dekat dengan AS bahkan dianggap sebagai benteng AS di timur tengah dalam membendung sosialisme komunisme yang diadopsi Mesir era Abdul Nasir, Irak dan rezim Assad di Suriah. Namun, setelah revolusi Islam Iran, dan Iran ikut campur mengkritisi sistem monarki di Timur Tengah, Saudi mulai melihat Iran sebagai ancaman. Di lain pihak, Ikhwan di satu sisi juga mulai mengkritik fanatisme dan kediktatoran rezim Syiah yang semena-mena terhadap kaum Sunni di Iran. Terutama kasus pemenjaraan dan penyiksaan terhadap tokoh Sunni Ahmad Moftizadeh. Selain itu, konsep Imamah yang dianut kaum Syi’ah dalam menjalankan sistem pemerintahan ‘negara Islam’ berbeda dengan konsep Imamah Ikhwan yang walau bagaimana pun merupakan salah satu komponen Sunni.

Sejak era 60-an, Arab Saudi merupakan negara paling berpengaruh di kawasan meskipun dibayangi oleh ideologi nasionalis Arab Sosialis Gamal Abdul Nasir. Namun, setelah republik Arab Bersatu yang menggabungkan Mesir dan Suriah bubar pada tahun 1961, diikuti oleh kerugian besar Mesir dalam perang Yaman dimana kemudian Mesir terpaksa menarik pasukannya dari Yaman tahun 1967 serta kekalahan dalam perang 6 hari kontra Israel ditahun yang sama, otomatis Arab Saudi menjadi pemimpin dunia Arab dibawah Raja Faishal. Liga Muslim Dunia yang dibangun Raja Faishal dan Ikhwan menjadi corong pemersatu negara-negara Arab. Perang Oktober 1973 kontra Israel adalah salah satu contoh konkritnya.

Selama beberapa dekade, Saudi menjadi pemimpin dunia Arab tanpa pesaing yang benar-benar kuat. Setelah meninggalnya Raja Faishal tahun 1975, Presiden Mesir Anwar Sadat tiba-tiba mengejutkan dunia Islam dengan menandatangani perjanjian Camp David tahun 1978 yang merugikan Islam. Secara tidak resmi, perjanjian Camp David dianggap sebagai pengumuman berakhirnya perang dan permusuhan Arab vs Israel serta mendekatnya Mesir ke blok Barat. Arab Saudi pun berangsur-angsur memulihkan hubungannya dengan AS pasca embargo minyak oleh Raja Faishal. Barulah tahun 1979 (revolusi Iran), musuh baru yang anti AS datang mengusik dan mengancam kepemimpinan Saudi di Timteng. Meninggalnya Raja Faishal, perjanjian Camp David, Revolusi Iran dan mendekat kembali Saudi ke AS adalah sebab-sebab penting yang mempengaruhi hubungan Ikhwan-Saudi. Meskipun sempat membaik karena diwaktu yang sama Saudi yang anti sosialisme butuh Ikhwan untuk memobilisasi jihad di Afghanistan era 80-an.

Permusuhan Iran-Saudi (perang dingin Timur tengah) dalan memperebutkan pengaruh di kawasan terus berlanjut ditandai dengan beberapa peristiwa penting, dimulai dengan provokasi Khomeini terhadap sistem monarki Saudi. Provokasi ini jelas mengancam negara-negara teluk khususnya Saudi yang berkuasa dengan sistem monarki dan mempunyai minoritas Syi’ah di negaranya. Jangan heran kalau Saudi menjadi donatur untuk Irak dan menyumbang miliyaran dolar kepada Saddam Hussein dalam perang teluk pertama antara Irak-Iran.

Di Lebanon, proxi war antara Saudi dan Iran jelas terlihat dalam dukungan Iran terhadap Harakah Amal, Hizbullah serta dukungan Saudi terhadap Rafiq Al-Hariri dan anaknya Sa’ad Al-Hariri. Di Irak, Iran bermain dalam air keruh mengambil kesempatan ketika AS menyerang Irak dalam perang melawan terorisme tahun 2003. Proxi War Iran-Saudi juga terlihat dengan jelas di negara-negara Arab lain yang mempunyai minoritas Syi’ah seperti Bahrain, Yaman dan Suriah terutama pasca Arab spring. Termasuk embargo terhadap Qatar yang tidak mau didikte Saudi untuk memusuhi Iran dan Ikhwan.

Pasca kekalahan Soviet dalam perang Afghanistan dan kemudian Soviet ambruk, Saudi mulai tidak membutuhkan Ikhwan dan melihatnya sebagai ancaman. Ditambah sikap Ikhwan yang tidak mau ikut terlalu jauh dan terjebak dalam ‘perang’ Saudi-Iran memperebutkan pengaruh di kawasan. Bagi Ikhwan, masalah Palestina adalah prioritas dan Ikhwan/Hamas akan menerima dan menghargai bantuan siapa pun terhadap perlawanan Palestina kontra Israel apakah itu dari Saudi, Iran, Suriah ataupun Turki. Dalil bahwa Ikhwan memprioritaskan jihad Palestina telah mereka buktikan dalam perang Arab-Israel 1948, demikian juga pada tahun 1958, Dr. Musthafa Husni As-Siba’i yang mengetuai Maktab Tanfidzi Ikhwan setelah IM dibubarkan di Mesir menyetujui rencana Gamal Abdul Nasir menyatukan Mesir dan Suriah karena saat itu Abdul Nasir sangat diharapkan untuk bisa berhadapan dengan Israel. Bukan hanya itu, As-Siba’i bahkan menyetujui pembubaran Ikhwan yang disyaratkan oleh Abdul Nasir padahal kita semua tahu apa yang dilakukan Abdul Nasir terhadap Ikhwan di Mesir. Di era modern, Hamas mewakili Ikhwan sebagai Gerakan bersenjata yang berhadapan langsung dengan Israel.

Bagaimana dengan negara-negara Arab? Apakah mereka tidak memprioritaskan masalah Palestina? Hampir semua negara Arab (baik Sunni maupun Syi’ah) mengaku peduli dengan Palestina dan memberikan bantuan untuk Palestina (terutama untuk Fatah/PLO yang memilih jalan damai dengan Israel). Sebab, kepedulian terhadap Palestina adalah isu seksi untuk memperbaiki citra para penguasa Arab di hadapan para rakyatnya sekaligus mendapatkan simpati dan pengaruh di kawasan. Namun, jika kita selidiki lebih jauh, bantuan dan kepedulian terhadap Palestina berada di urutan kesekian dibandingkan prioritas mereka demi menjaga kursi kekuasaan dan kemaslahatan negara mereka. Tak banyak negara yang berani mensupport gerakan perlawanan Palestina seperti Hamas dan lain-lain dengan senjata dan politik, sebab hal itu juga akan berarti negara tersebut berpotensi dan harus siap digoyang oleh Paman Sam yang menjadi pembela Israel. Ringkasnya, bagi negara-negara Arab, jika kepentingan perjuangan Palestina bertabrakan dengan kepentingan nasional, mereka dengan senang hati akan mengorbankan isu Palestina.

Sejatinya, yang diinginkan oleh Palestina saat ini dari para pemimpin Arab bukan hanya bantuan kemanusiaan berupa dana dan bahan makanan plus koar-koar di media atau konferensi tertentu. Akan tetapi support senjata dan politik lebih mereka butuhkan. Inilah salah satu hal yang menyebabkan Hamas (sekalipun berbeda secara ideologi dengan Iran) respect terhadap Iran (yang mensupport dana dan senjata) dan terhadap Suriah dan Turki yang mensupport secara politik. Saudi? Kita semua tahu bahwa Saudi saat ini malah menatapkan Ikhwan dan Hamas—yang menjadi ikon perjuangan Palestina—sebagai organisasi teroris dan menangkap para tokohnya.

Jadi, siapa yang rugi dengan konflik perebutan pengaruh antara Iran vs Saudi di kawasan (dan kini ditambah Turki-Qatar yang menjadi pelindung baru Ikhwan)? Yang rugi tentu saja umat Islam dan isu memerdekaan Al-Quds akan terbengkalai dan terabaikan. Idealnya menurut Ikhwan semua negara Arab baik Sunni dan Syiah bersatu (tanpa abai dan lugu terhadap penyebaran Syi’ah) untuk memerdekakan Al-Quds dan jangan terjebak dalam kepentingan nasionalisme dan menancapkan pengaruh di kawasan. Sebab, Memerdekaan Al-Quds bukan hanya tugas IM ataupun Hamas, Al-Quds adalah amanah di pundak setiap muslim. Barangsiapa yang mengira bahwa Baitul Maqdis akan bisa dikembalikan ke pangkuan umat Islam hanya dengan memberikan bantuan pangan kepada rakyat Palestina dan berdiplomasi dengan Israel (tanpa memberikan dukungan politik dan senjata) maka dia sedang menggigau atau berdusta.

Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s