Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 11)

Peristiwa 1979

Ada apa dengan tahun 1979?

Setidaknya, sejarah mencatat tiga peristiwa besar dan krusial ditahun ini yang mempengaruhi hubungan Saudi dengan Ikhwan, dimana efeknya masih kentara terasa dan terjadi sampai saat ini.

Pertama, adalah tumbangnya dinasti Pahlavi yang didukung Amerika melalui revolusi rakyat yang disebut-sebut sebagai salah satu revolusi terbesar dalam sejarah modern setelah revolusi Perancis dan revolusi Bolshevik. Pada Februari 1979, Shah Mohammed Reza Pahlavi tumbang dan dinasti Pahlawi yang monarki kemudian resmi diganti dengan Republik Islam Iran dibawah pemimpin agung Syi’ah Ayatullah Ruhollah Khomeini.

Kedua, 20 November 1979 atau 1 Muharram 1400 Hijriyah, umat Islam yang baru saja menunaikan ibadah haji dikejutkan oleh pendudukan bersenjata terhadap Masjidil Haram yang dilakukan oleh ratusan Jama’ah As-Salafiyah Al-Muhtasibah yang dipimpin Juhaiman bin Muhammad Ibn Saif Al-Otaibi sekaligus membai’at Muhammad Abdullah Al-Qahthani sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu umat Islam.Setelah sempat bertahan di Masdil Haram selama dua Minggu, pasukan Saudi akhirnya mampu mengakhiri pendudukan bersenjata Juhaiman pada tanggal 4 Desember 1979.

Ketiga, dua puluh hari setelah penumpasan pendudukan bersenjata Juhaiman,  atau tepatnya tanggal 25 Desember 1979, pasukan Uni Soviet masuk ke Afghanistan untuk mensupport pemerintahan Republik Demokratik Afghanistan (yang berideologi komunis) dari serangan oposisi yang didukung AS dan Saudi.

Lalu, apa pengaruh revolusi Iran, peristiwa Juhaiman dan perang Soviet vs Afghanistan terhadap hubungan Saudi dan Ikhwan?

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Ikhwan adalah otak di balik revolusi dustur Yaman tahun 1948 yang menggulingkan pemerintahan monarki Mutawakkilite Kingdom of Yaman yang beraliran Syiah Zaidiyah. Kita telah mengetahui posisi Saudi yang justru kontra dengan revolusi dan malah mendukung Kerajaan Mutawakkiliyah Zaidiyah. Di Mesir, Ikhwan juga otak dibalik Revolusi Juli menggulingkan pemerintahan monarki Raja Faruq tahun 1952. Saudi, sebagai salah satu pemerintahan monarki absolut menyadari dengan baik semangat revolusi Ikhwan yang bisa menjadi ancaman terhadap pemerintahan Alu Sa’ud kapan saja.

Ketika revolusi Yaman tahun 1948 ‘diaborsi’ oleh revolusi tandingan dukungan Saudi dan Gamal Abdul Nasir yang menjadi salah satu tokoh revolusi Juli akhirnya malah memberangus Ikhwan, maka Ikhwan menjadikan revolusi Iran sebagai salah satu model revolusi rakyat yang berhasil mendirikan Republik Islam atau negara Islam. Belum lagi, revolusi Iran juga didukung oleh tokoh Ikhwan Al-‘Allamah Ahmad Moftizadeh, seorang tokoh Sunni putra Syaikh Mahmud Moftizadeh; ulama Syafi’iyah dan Mufti Kurdistan Iran (Dikemudian hari, Al-Allamah Ahmad Moftizadeh justru dipenjara dan disiksa oleh rezim syi’ah dan meninggal beberapa Minggu setelahnya).

Ketika Jama’ah Juhaiman yang anti Alu Sa’ud menduduki Mesjidil Haram November tahun yang sama, Alu Sa’ud sebagai penguasa Saudi menyadari dengan benar bahaya setiap ‘gerakan revolusi’ yang bisa mengancam tahta mereka kapan saja. Meski sejatinya, Ikhwan dan revolusi Iran tak punya hubungan langsung dengan Kelompok Juhaiman. Belum lagi ikut campur Khomeini dan statemennya bahwa Amerika berada dibalik pendudukan Masjidil haram.

Akan tetapi, keretakan hubungan Ikhwan dan Saudi tak nampak di permukaan dan justeru mereda ketika perang Afghan-Soviet berkecamuk. Saudi dan Ikhwan yang sama-sama anti komunisme menemukan jalannya sendiri dalam perang Afghanistan. Sejak itu, Saudi menjadi negara donatur yang mensupport Mujahidin Afghanistan. Di era ini, gerakan Shahwah Islamiyyah tumbuh subur hingga Uni Soviet terusir dari Afghanistan tahun 1989. Tiba-tiba perang teluk kedua meletus tahun 1990 dan sikap Saudi terhadap Ikhwan pun berubah.

Tentang Iran

Masih belum lekang dalam ingatan kita, ketika awal Januari 2020 lalu, Hamas ikut berbelasungkawa terhadap kematian Mayor Jenderal Qasem Soelaimani; Perwira militer senior Iran dalam Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGC) yang sejak tahun 1998 menjadi komandan dari Pasukan Failaqul Quds. Dalam lawatan ta’ziyahnya ke Teheran, Ketua biro politik Hamas Ismail Haniya dalam orasinya mengatakan bahwa Qasem Soelaimani (yang tewas oleh rudal AS di bandara Baghdad) sebagai ‘Syahid Al-Quds’.

Tak ayal, statemen kontroversial Ismail Haniya tersebut menimbulkan kegaduhan, bukan hanya di media massa dan media sosial, pro kontra terhadap sikap Hamas juga diperdebatkan oleh sebagian orang yang bernaung dibawah bendera gerakan Islam tersendiri. Mengingat, -diakui ataupun tidak- Hamas lahir secara sah dari rahim gerakan Islam terbesar di era modern ini, Al-Ikhwan Al-Muslimun.

Barangkali, kita juga belum lupa bahwa pada tanggal 6 Maret 2020, Pemimpin gerakan Jama’ah Syi’ah Houtsi Yaman, Abdul Malik Al-Houtsi menawarkan kepada KSA pertukaran tawanan, seorang pilot tempur dan empat tentara Saudi dengan sejumlah tokoh politik Hamas Palestina yang mendekam dalam penjara Saudi karena dituduh terlibat dalam gerakan ‘terorisme’. Hamas sendiri memuji inisiatif dan tawaran Jama’ah Houtsi untuk pembebasan anggota gerakan perlawanan Palestina yang di tahan KSA sebagai bentuk solidaritas terhadap pejuang Palestina. Padahal kita juga tahu bahwa di Yaman sendiri, Partai Ishlah yang berafiliasi ke Al-Ikhwan masih sering terlibat benturan bahkan peperangan dengan Gerakan Houtsi yang mengkudeta Shana’a akhir tahun 2014 silam.

Selain itu, pasang surut hubungan Hamas dengan rezim Suriah yang dianggap berhaluan (Syi’ah) Nushairiyah juga menarik ditelusuri. Mengingat organisasi induknya (Ikhwan) terlarang di Suriah. Bahkan Undang-undang Suriah no 49 tahun 1980 menetapkan hukuman mati terhadap siapapun yang bergabung dengan Ikhwan. Tragedi Hama tahun 1982, Revolusi Suriah 2011, dukungan Hamas terhadap revolusi Suriah lalu pengusiran dan penutupan kantor biro politik Hamas di Damaskus tahun 2012 layak untuk dikaji di tengah isu dan upaya pemulihan kembali hubungan Hamas-Suriah dengan mediasi Teheran di dua tahun terakhir.

Jika kita ke Lebanon, hubungan Ikhwan Lebanon, Jama’ah Islamiyyah dengan Quwwat Al-Fajr sebagai sayap militernya, Hamas dan gerakan pempebasan Palestina disatu sisi serta Harakah Amal dan Hizbullah yang didukung oleh Rezim Suriah dan Iran disatu sisi lain semakin memperumit hubungan yang sering naik turun tersebut. Mengingat Rezim Suriah dan Harakah Amal juga berperan dalam pembantaian para pengungsi Palestina dalam perang saudara di Lebanon. Namun, perang Hizbullah-Israel tahun 2006 kemudian melambungkan nama Hizbullah sebagai kelompok perlawanan anti Israel di Lebanon dan kontribusi jihad Quwwat Al-Fajr kontra Israel perlahan mulai dilupakan.

Karenanya, hubungan Ikhwan-Saudi pasca revolusi Iran tahun 1979 tidak cukup dilihat dari sekedar sisi pandangan syariat terhadap sebuah mazhab Syi’ah yang menjadi Mazhab resmi republik Islam Iran sebagaimana sering ‘dilihat’ oleh gerakan dakwah Salafiyah Wahabiyah Saudi. Sebab, Ikhwan dan Hamas memisahkan antara pandangan syariat ar-ru’yah as-syar’iyah dalam hubungannya dengan Syiah sebagai sebuah Mazhab Aqidah dan antara al-mumaarasah as-siyasiyah (manuver/sepak terjang politik) dalam hubungannya dengan sebuah negara (Iran-Suriah, dll) yang mendukung perjuangan rakyat Palestina serta memiliki sikap permusuhan terhadap Israel (dan AS).

Namun, pembahasan tentang Iran tentu tak cukup jika melihatnya hanya sekedar sebuah negara, karena realitanya, Republik Islam Iran memang didirikan dengan menjadikan Syi’ah sebagai Mazhab resmi negara. Mau tidak mau, kita juga harus membuka kembali sikap para ulama sunni terutama para ulama Al-Azhar dan ulama Ikhwan generasi awal terhadap Syi’ah Iran yang cenderung positif dan terbuka terhadap upaya pendekatan antara Sunni dan Syi’ah, serta sikap ulama Saudi (wahabisme) disisi lain terhadap Syi’ah Iran yang cenderung memusuhi dan mengkafirkan. Selain itu, sikap Ikhwan Mesir dan Palestina yang secara langsung tidak (jarang) berkonflik dengan Iran, Rezim Suriah dan Hizbullah berbeda dengan sikap (mayoritas) Ikhwan Suriah yang berhadapan langsung dengan rezim Nushairiyah (yang mereka anggap sebagai bagian dari Syi’ah Bathiniyah yang kufur), terutama pasca pembantaian Hama. Dan tentu saja Ikhwan Saudi yang terwarnai oleh Wahabisme juga memiliki kacamata sendiri dalam melihat Syi’ah Iran.

Jadi?

Selanjutnya, insya Allah kita akan berusaha untuk melihat agak lebih detail sikap ulama Sunni terhadap aliran Syi’ah secara umum sebagai sebuah Mazhab aqidah (tanpa meremehkan bahaya penyebaran Syi’ah di kawasan) dan sikap terhadap sebuah negara (Iran) yang bermazhab dengan Mazhab Syiah dimana negara tersebut membela Gerakan Perjuangan Palestina dalam bingkai maslahat dan prioritas (bukan hanya pragmatisme politik). Serta alasan-alasan dan faktor-faktor yang mempengaruhi Saudi hingga menetapkan Ikhwan dan Hamas (yang menjadi ikon perjuangan Palestina) dalam list organisasi-organisasi teroris—setelah sebelumnya Kerajaan Arab Saudi menjadi pembela utama Ikhwan dan Palestina di era Raja Faishal. Siapa yang berubah? Wallahu A’lam.

Antara Syiah dan Iran

Banyak dari kaum Sunni melihat Iran sebagai iblis dan musuh dalam selimut yang lebih berbahaya dari Yahudi dan Nasrani. Oleh karenanya, negara Sunni (Saudi khususnya) perlu mempersenjatai diri (tentu dengan membelinya) dari Barat (AS khususnya) dengan menggelontorkan dana ratusan triliun rupiah demi menghancurkan Iran berikut ‘memproduksi’ dengan gencar fatwa bahwa Syiah adalah kafir, bukan Islam.

Sebagian lain melihat Iran dengan (mazhab syi’ahnya) sebagai mitra dan kolega yang perlu disambut dengan tangan terbuka melalui pertukaran pelajar, saling mendirikan pusat kebudayaan bahkan terhadap upaya penyebaran ideologi Syi’ah di tengah kaum Sunni baik di kawasan timur tengah dan negara-negara Islam lain. Mereka seperti ‘bersikap lugu’ terhadap upaya Iran dalam memperluas kontrol terhadap kawasan dengan memperpanjang garis/area bulan sabit Syi’ah yang melengkung dari Lebanon, Suriah, Irak, Iran sendiri, Bahrain dan Yaman yang otomatis mengepung Arab Saudi mulai dari arah utara, timur dan selatan.

Sebagian kaum Sunni lain menganggap dua cara pandang diatas terhadap Iran dan Syi’ah sebagai cara pandang yang kerdil dan sempit plus lahir dari dua kutub ekstrim kanan dan kiri yang abai terhadap kemaslahatan dan bahaya terhadap kawasan (berupa perang Sunni-Syiah yang berkepanjangan) dan menutup mata terhadap posisi Iran sebagai pemain penting dikawasan. Sudut pandang kelompok yang ketiga ini terkadang juga ‘kabur’ oleh propaganda dan simpati berlebihan terhadap Iran dan Hizbullah yang mendukung perlawanan Palestina dan berhadapan langsung dengan zionisme sekaligus slogan permusuhannya terhadap Israel dan Amerika. Dan terkadang ‘keputusasaan’ terhadap upaya pendekatan Sunni-Syiah yang justru hanya menguntungkan Syi’ah juga menarik kelompok ketiga ini untuk melihat Iran sebagaimana dilihat oleh kelompok pertama.

Setelah runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1924 lalu Ikhwan lahir tahun 1928, Ikhwan telah berupaya sejak awal berdirinya untuk menyatukan umat Islam dibawah bendera La Ilaha Illa Allah Muhamaad Rasulullah sebagai wujud dari aplikasi kaedah emas Syaikh Muhammad Abduh yang dipopulerkan oleh As-Syahid Hasan Al-Banna, “Kita bekerja sama dalam hal yang disepakati dan saling toleransi dalam hal yang diperselisihkan.” Karenanya, Ikhwan adalah pihak yang sangat mendukung ide pendekatan Sunni-Syiah dan Hasan Al-Banna adalah salah satu tokoh yang ikut berpartisipasi dalam pendirian Dar At-Taqrib Baina Al-Madzahib Islamiyyah tahun 1947 yang diprakarsai oleh sekitar 20 ulama besar Sunni-Syiah seperti Syaikh Mahmud Syaltout, Syaikh Abdul Majid Salim, Syaikh Abdul Wahab Khallaf, Syaikh Muhamamad Abdullathif Daraz, Mufti Palestina Al-Hajj Amin Husaini, dan lain-lain. Ringkasnya, para ulama Al-Azhar dan Ikhwan secara umum mendukung upaya pendekatan Sunni-Syiah atau minimal tidak mengkafirkan Syi’ah Imamiyah yang ada di Iran.

Akan tetapi, niat baik para ulama Sunni terhadap upaya pendekatan Sunni-Syiah tidak berjalan baik di lapangan, para ulama Syiah justru merusak garis merah yang telah disepakati untuk tidak boleh dilewati seperti celaan dan pengkafiran terhadap para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Karenanya, kritik dan evaluasi terhadap upaya pendekatan Sunni-Syiah sudah mulai dilakukan oleh Ikhwan jauh sebelum Revolusi Islam Iran lahir, terutama oleh Dr. Musthafa Husni As-Siba’i di Suriah. Meskipun demikian Ikhwan secara umum tetap melihat Syi’ah (imamiyah) sebagai kelompok sesat; bukan kafir. Nantinya, sikap represif Iran terhadap Sunni pasca Revolusi Iran dan ketika Revolusi Suriah menambah pedas krikitk Ikhwan terhadap Iran.

Dalam penjelasannya, sebagai tanggapan terhadap sebuah surat kabar Iran pada tahun 2008, Syaikh Yusuf Al-Qaradawi menegaskan bahwa Syi’ah Imamiyah Istna Asyariah adalah kelompok sesat bukan kafir. Beliau menegaskan bahwa sikap tersebut merupakan sikap yang disepakati oleh ulama-ulama Sunni yang moderat. Adapun selainnya, ada juga yang mengkafirkan Syi’ah Imamiyah karena pendapat mereka yang menyeleweng terkait Al-Quran dan Sunnah, para sahabat, kemakshuman para Imam Syi’ah, dan lain-lain.

Secara ringkas, sekte Syi’ah terbagi dalam tiga kelompok besar berikut sikap ulama Sunni terhadapnya:

Yang pertama adalah: sekte-sekte Syi’ah yang telah disepakati kekafiran mereka yaitu Sekte Bathiniyah, Qaramithah, Ismailiyah, dan lain-lain sebagaimana telah disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Fadha-ih Al-Bathiniyah bahwa lahirnya mazhab mereka adalah rafidhah dan batinnya adalah kekufuran semata-mata.

Yang kedua adalah: sekte Syi’ah yang disepakati ketidakkafirannya mereka yaitu Sekte Zaidiyah di Yaman.

Dan yang ketiga adalah yang diperselisihkan kekafiran mereka yaitu Syi’ah Imamiyah, Ja’fariah atau Isna Asyariah yang ada di Iran.

Dalam salah satu fatwanya, Syaikh bin Baz menganggap bahwa sekte Imamiyah, Isna Asyariah sebagai sekte Bathiniyah kafir dikarenakan sebagian akidah mereka sama dengan akidah Bathiniyah yang kufur, hal yang tidak disetujui oleh banyak para ulama Al-Azhar.

Vonis kafir terhadap individu Bathiniyah bukan hanya tentang bahwa i’tiqad seseorang tersebut kufur, akan tetapi—secara fiqih—konsekuensinya bisa lebih jauh berupa hukuman mati, batalnya semua akad seperti pernikahan, dan lain-lain, status hartanya dan lain-lain, dimana individu tersebut diperlakukan seperti halnya seorang murtad. Karenanya, vonis kafir ini tentu sangat berbahaya dan bisa menyulut perang panjang antara Sunni-Syiah yang justru menguntungkan Barat. Dari itulah, meskipun bersikap keras terhadap sekte Bathiniyah secara umum, Imam Al-Ghazali yang hidup dalam rongrongan dan teror Bathiniyah terhadap Dinasti Seljuk dan Khilafah Abbasiyah sangat hati-hati dalam menghukumi kekafiran individu Bathiniyah, terutama kaum awamnya. Vonis kafir baru dilakukan setelah terkonfirmasi kekafiran individu tersebut baik melalui pengakuan ataupun kesaksian orang jujur/adil. Intinya, perdebatan tentang kafir atau tidaknya Imamiyah akan panjang dan terus diperdebatkan mengingat sekte Syi’ah ini mengimani taqiyah serta mereka juga ‘berevolusi’ seiring bergantinya zaman (termasuk apakah Nushairiyah bagian dari Imamiyah atau Bathiniyah). Karenanya, saya tak berniat membahasnya disini.

Ketika kita melihat hubungan antara Ikhwan/Hamas – Syiah Iran/Hizbullah/rezim Suriah—dan Saudi, kita tidak bisa melihatnya hanya sebagai hubungan antara sebuah aliran aqidah, tapi juga sebagai sebuah kekuatan politik (negara dan organisasi politik). Dan karena masuk ranah politis, setiap bantuan dan dukungan yang diberikan oleh Iran ataupun Saudi terhadap Ikhwan—dan sebaliknya—tidak bisa dilihat seperti halnya bantuan dari lembaga swadaya masyarakat atau lembaga sosial kemanusiaan yang membantu tanpa pamrih. Tidak. Karena politik selalu harus ada timbal balik. There is no free lunch, tidak ada makan siang yang gratis.

Memahami hubungan Iran-Ikhwan-Saudi, mau tidak mau kita harus menemukan poin-poin persamaan dan perbedaan antara satu dan lainnya serta prioritas masing-masing dari ketiga kekuatan tersebut. Ada beberapa titik persamaan antara Iran dan Ikhwan. Diantaranya adalah:

  1. Persamaan sikap Iran dan Ikhwan terkait isu Palestina dan upaya memerdekaan Baitul Maqdis dari cengkeraman zionisme. Poin ini merupakan poin paling penting yang mempertemukan Ikhwan dan Iran sejak berdirinya Ikhwan, lahirnya revolusi Islam Iran sampai sekarang. Meskipun dukungan Iran terhadap Ikhwan/Hamas terkait isu Palestina seringkali hanya dianggap sebagai sebatas propaganda dan ‘gimmick’ belaka, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tokoh senior Hamas seperti Khalid Mesyal dan Ismail Haniya berulangkali menyampaikan rasa terimakasihnya untuk bantuan dana dan senjata dari Iran. Disinyalir, roket Fajar-5 yang digunakan Hamas dalam perang melawan zionisme tahun 2012 adalah bantuan Iran, meskipun dibantah Teheran. Akan tetapi, dukungan Teheran terhadap isu Palestina juga berulangkali dirusak oleh sikap Teheran sendiri. Karena di waktu bersamaan Iran juga mensupport rezim Suriah yang membantai pengungsi Palestina baik dalam perang Saudara Lebanon ataupun dalam Revolusi Suriah tahun 2011. Sebagaimana Iran juga mendukung Harakah Amal Syi’ah Lebanon yang membantai para pengungsi Palestina dalam War of The Camps tahun 1985 di Lebanon. Belum lagi skandal Iran-Contra atau yang dikenal dengan The October Surprise dimana pada Oktober 1980 Iran yang berada dalam ancaman Irak melakukan negosiasi rahasia dengan AS untuk mendapatkan senjata Anti-tank dengan perantaraan Agen Mossad Israel, Ari Ben-Menashe.
  2. Iran dan Ikhwan memiliki pandangan negatif terhadap ‘nasionalisme sempit’ negara-negara Arab yang membuat mereka terpecah belah dan menjadi sebab hilangnya Palestina dari pangkuan Islam setelah runtuhnya khilafah Utsmaniyah. Nasionalisme Arab juga memojokkan Iran yang notabene adalah etnis Persia non-Arab. Belum lagi ‘ujaran rasialis’ sebagian Sunni yang menyebut Iran sebagai Persia Majusi. Meskipun demikian, titik temu Iran dan Ikhwan dalam melihat ‘nasionalisme sempit’ juga menemukan jalan terjal ketika Konstitusi Iran misalnya menegaskan bahwa Presiden Iran harus lahir dari orangtua yang kedua-duanya bangsa Iran (hal yang dianggap Ikhwan sebagai bagian dari nasionalisme sempit). Selain itu, Iran juga mengkritisi Ikhwan yang tidak menentang Irak (yang beretnis Arab) dalam serangannya terhadap Iran di perang teluk pertama.
  3. Poin terakhir yang merupakan titik temu Ikhwan dan Iran adalah cenderung tolerannya Ikhwan dalam melihat Iran dan Syi’ah sebagai komposisi umat Islam meskipun akidahnya menyimpang. Hal lain yang mempertemukan Iran-Ikhwan adalah keberhasilan revolusi Islam Iran yang dianggap Ikhwan sebagai model sukses untuk melakukan revolusi terhadap pemerintahan-pemerintahan korup yang menjadi antek Barat (AS).

Bagaimana dengan titik-titik perbedaan Ikhwan-Iran serta hubungannya dengan Arab Saudi? Sampai kapan Ikhwan tetap memupuk hubungan dengan Iran? Dan seberapa besar kemungkinan Saudi-Ikhwan rujuk dan mesra lagi seperti di era 60 – 70-an di masa Raja Faishal? Ataukah talak tiga telah dijatuhkan dan tak ada lagi kata kembali? Wallahu A’lam.

Orang bilang, Tak ada yang sejati dalam dunia perpolitikan. Tapi saya yakin hubungan Ikhwan – Saudi hanya bisa didamaikan oleh satu kata kunci: perhatian dan prioritas Saudi untuk memerdekakan tanah suci pertama umat ini sebelum Al-Haramain, Al-Quds.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s