Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 10)

Oleh: Taufik Yusuf M. Njong

Saudi dan Asya’irah

Ketika tinggal di Asrama LIPIA Jakarta sekitar tahun 2013, saya bertanya kepada teman salafi yang baru pulang dari acara Al-Yaum Al-Wathani (hari nasional) Kerajaan Arab Saudi, “Bukannya peringatan hari nasional bid’ah?” Dia menjawab: “Sebenarnya sih bid’ah tapi…”Saya hanya tersenyum, dalam hati saja.

Meskipun Kerajaan Arab Saudi modern didirikan berdasarkan koalisi antara Alu Sa’ud dan Alu Syaikh (keturunan Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahab), rata-rata para pemimpin Saudi kurang komitmen dengan ‘fatwa-fatwa kaku’ ulama Wahabisme. Saat ulama Saudi mengharamkan televisi, radio, video, photografi, telegram, sepeda, memotong jenggot, isbal dan fatwa-fatwa lainnya, para Raja-raja Saudi justeru berseberangan dengan mereka dan bersikap lebih terbuka.

Para Raja Saudi bahkan bersikap terbuka terhadap para ulama Asya’irah (khususnya ulama lulusan Al-Azhar Asy-Syarif yang notabene bermazhab Asy’ari dalam aqidah) yang kontra dengan Wahabisme. Karenanya, nama-nama besar seperti Al-Imam Ibnu Asyur , Syaikh Hasanain Makhluf, Syaikh Sya’rawi, Syaikh As-Shawwaf, Syaikh al-Ghazali, Syaikh Sayyid Sabiq dan ratusan ulama besar Al-Azhar lain rata-rata pernah menjadi penasehat, membuat kurikulum, mengajar dan memberikan sumbangsih lain terhadap Universitas-universitas keagamaan di Saudi.

Syaikh Asy-Sya’rawi misalnya, termasuk ulama Al-Azhar yang suaranya didengar oleh Raja Sa’ud bin Abdul Aziz yang ingin memindahkan ‘maqam Ibrahim’ dari tempatnya semula saat merencanakan perluasan tempat thawaf tahun 50-an. Setelah ‘diprotes’ dan dinasehati oleh Syeikh Asy-Sya’rawi, Raja Sa’ud kemudian mengurungkan niatnya.

Pada tahun 1383 Hijriyah atau sekitar tahun 1964 (tahun dimana Raja Faishal diangkat menjadi Raja), Pemerintah Saudi juga bersikap terbuka dengan membangun dan memugar kuburan Sayyidina Hamzah dan para syuhada Uhud –radhiallahu ‘anhum– dengan semen. Hal ini kemudian mengundang kritik keras dari Syaikh Albani yang saat itu mengajar di Universitas Islam Madinah karena dianggap sebagai fenomena awal kembalinya negeri tauhid kepada kesyirikan.[1]

Khilaf antara Syeikh Albani dan sebagian dosen Universitas Islam Madinah diduga menjadi sebab dipecatnya (tidak diperpanjang tugasnya) Syaikh Albani oleh Rektor Universitas Islam Madinah saat itu Syaikh Muhammad Ibrahim Alu Syaikh. Begitu juga saat Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah (Muraqib Am Ikhwan Suriah) diminta untuk menyatakan pendapatnya terhadap kitab Syarah Aqidah At-Thahawiyah yang akan diajarkan di Universitas Al-Imam dengan takhrij Syaikh Albani, dekan Fakultas Syari’ah Universitas Imam Muhammad Sa’ud menerima saran Syaikh Abu Ghuddah untuk mengganti cetakan kitab tersebut dengan cetakan lain yang tidak ada takhrij dan komentar dari Syeikh Albani.[2]

Sekitar tahun 1962, Syarah Aqidah At-Thahawiyah dicetak oleh Al-Maktab Al-Islami dengan takhrij hadis oleh Syaikh Albani. Syaikh Albani mengomentari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam shahihain di kitab Syarah Aqidah At-Thahawiyah dengan perkataan beliau: Shahih. Hal ini ditentang oleh Syeikh Abu Ghuddah karena dianggap kurang adab dengan para ulama hadis zaman dulu, Imam Bukhari dan Imam Muslim, khususnya dimana hadis-hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim sudah disepakati kesahihannya oleh para ulama. Mengomentari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dengan shahih bisa membuat para penuntut ilmu menduga bahwa ada hadis yang tidak shahih dalam shahihain.

Khilaf ilmiyah antara Syaikh Abu Ghuddah dan Syaikh Albani tentang tashih hadis shahihain ini disinyalir sebagai sebab awal buruknya hubungan Syaikh Abu Ghuddah dengan Syaikh Albani (serta dengan ulama Kerajaan Arab Saudi dikemudian hari). Syaikh Albani dan Ustad Zuhair As-Syawisi kemudian ‘memprovokasi’ ulama Kerajaan Arab Saudi dengan membagi-bagikan kitab dengan nama samaran. Mereka mempovokasi ulama Kerajaan Arab Saudi bahwa Abu Ghuddah anti Wahabisme. Mengingat bahwa Syaikh Abu Ghuddah adalah salah satu murid Syaikh Muhammad Zahid Al-Kautsari (wakil masyaikhah daulah Utsmaniyah). Sebagaimana diketahui, Syaikh Al-Kautsari sangat keras penentangannya terhadap ulama Wahabisme. Puncaknya adalah ketika Syaikh Bakr Abu Zaid menulis kitab Bara-ah Ahlu As-Sunnah Min Al-Waqi’ah Fi Ulama Al-Ummah. Kitab yang diberikan kata pengantar oleh Syeikh bin Baz ini dianggap oleh mereka yang pro Syaikh Abu Ghuddah sebagai ‘persekusi’ terhadap Syaikh Abu Ghuddah yang berkali-kali diminta oleh Syeikh bin Baz untuk berlepas diri dari Syaikh Al-Kautsari, hal yang takkan mungkin dilakukan seorang murid terhadap gurunya.

Diantara bentuk keterbukaan para Raja Saudi terhadap ulama Asya’irah adalah diizinkannya Syaikh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki mengajar di Masjidil Haram menggantikan ayahnya ditahun 70-an (pada masa Raja Faishal) dan mengajar Universitas Ummul Qura Makkah selama 9 tahun. Selain itu, beliau (dan para ulama Asya’irah lain juga) menjadi anggota di Rabithah Alam Islami dimana Ikhwan menjadi penengah dan perekat antara ulama Kerajaan Arab Saudi dengan ulama Asya’irah.

Sekalipun antara ulama Ikhwan, ulama Al-Azhar dan ulama Saudi memiliki banyak perbedaan, namun hubungan mereka cenderung baik dikarenakan sikap para raja Saudi terutama Raja Faishal yang dekat dengan Ikhwan dan terbuka dengan ulama Asya’irah. Banyaknya ulama Ikhwan dan Al-Azhar yang mengajar di Saudi jelas mengurangi pengaruh ulama Saudi terhadap masyarakat. Dan setelah Raja Faishal syahid, serangan terhadap Ikhwan dan para ulama Asya’irah mulai dilakukan secara terang-terangan terutama pasca kasus Juhaiman, revolusi Iran dan perang teluk kedua.

Catatan Kaki:

[1] Hajjatunnabiy, Muhammad Nashiruddin Albani Hal: 145 cet 7, Al-Maktab Al-Islami tahun 1985.

[2] Kalimat Fi Kasyf Abathil wa Iftiraat’, Abdul Fattah Abu Ghuddah. Hal 1-3 cet Maktab Al-Mathbu’at Islamiyyah Aleppo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s