Prinsip 5: Ibadah

Kita meyakini bahwa Allah telah menciptakan makhluk yang mukallaf (diberi tugas) untuk beribadah secara benar kepada Allah; Zat yang telah mencipta mereka dan memberikan berbagai karunia kepada mereka. Seperti karunia hidup, akal, kemampuan berbicara, ditundukkannya alam untuk kepentingan manusia, diutusnya para rasul kepada mereka, diturunkannya kitab suci atas mereka, serta seluruh karunia yang membuatnya bisa hidup.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Karunia apapun yang ada padamu berasal dari Allah.[1]

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.[2] (QS Ibrâhîm: 34 dan al-Nahl: 18).

Karena itu, menjadi hak Tuhan yang Mahatinggi ”Yang mencipta dan menyempurnakan penciptaan-Nya. Serta Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,[3] agar manusia beribadah kepada-Nya di mana ibadah tersebut dijadikan sebagai tujuan penciptaan mereka.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.[4]

Ibadah memiliki sejumlah tujuan:

Pertama, merealisasikan pengabdian antara hamba dan Tuhannya.

Kedua, menguatkan kasih sayang antara hamba dan seluruh manusia sampai makhluk yang terkecil sekalipun.

Ketiga, membersihkan jiwa hamba itu sendiri.

Kesemua tujuan di atas tidak bisa dipisah-pisahkan.

Di antara ibadah ada yang bersifat wajib, ada yang bersifat sunah, ada yang tampak dan ada pula yang tidak tampak.

Di antara ibadah wajib yang tampak adalah ibadah yang menjadi syiar utama Islam di mana ia termasuk rukun Islam dan bangunannya yang besar. Yaitu shalat, zakat, puasa, dan haji ke baitullah. Siapa yang mengingkari kedudukannya yang wajib atau meremehkan kemuliaannya maka ia keluar dari Islam.

Di antara ibadah ada yang bersifat fisik semata, seperti shalat dan puasa. Shalat tegak di atas landasan berbuat, sementara puasa tegak di atas landasan meninggalkan. Lalu, ada pula ibadah yang bersifat finansial seperti zakat. Serta, ada yang merupakan gabungan antara keduanya: haji dan umrah. Ia adalah ibadah fisik sekaligus finansial.

Selanjutnya ada ibadah sunah yang menyertai ibadah di atas. Misalnya shalat sunah, sedekah sunah, puasa sunah, dan haji sunah.

Kemudian terdapat sejumlah ibadah tathawwu’ (sunnah) lainnya seperti membaca Alquran, zikir yang berupa tasbih, tahmid, tahlil, takbir, doa, istigfar, dan salawat atas Nabi saw.

Selain itu ada ibadah yang tak terlihat yang memiliki kedudukan tersendiri dalam agama dan posisi khusus di sisi Allah. Misalnya, mengikhlaskan niat untuk-Nya, tobat, malu kepada-Nya, tawakkal, bersyukur atas nikmat-Nya, sabar dalam menghadapi ujian-Nya, rida dengan ketentuan-Nya, mencintai-Nya, mengharap rahmat-Nya, takut kepada siksa-Nya, serta selalu menyadari pengawasan-Nya dalam setiap persoalan.  ya shalat sunah, sedekah sunah, puasa sunah, dan haji sunah.

Lalu, ada sejumlah ibadah yang bukan berupa ritual di mana sebagian besarnya untuk menguatkan kasih sayang antara hamba dan seluruh manusia, bahkan berbuat baik kepada seluruh makhluk, baik itu hewan, tumbuhan, maupun tanah. Misalnya berbakti kepada orang tua, silaturahim, berbuat baik kepada tetangga, berbuat baik kepada kalangan lemah, menolong orang yang tidak punya, membantu orang-orang yang menderita, saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, amar makruf dan nahi mungkar, menyeru kepada kebaikan, nasehat dalam agama, saling menasehati dengan kebenaran, saling menasehati untuk sabar, saling menasehati dengan kasih sayang, memuliakan anak yatim, menganjurkan memberi makan orang miskin, melawan kezaliman dan kerusakan, merubah kemungkaran dengan tangan, lisan, dan hati di mana ia merupakan selemah-lemah iman, berjuang dengan tangan, harta, dan lisan, serta segala kebaikan yang dipersembahkan muslim bagi manusia meski hanya berupa senyuman manis, ucapan yang baik, atau menyingkirkan gangguan dari jalan.

Semua ini termasuk dalam makna ibadah. Sebab, ibadah adalah istilah untuk semua ucapan dan perbuatan yang Allah cintai dan Allah ridai, entah itu perbuatan anggota badan atau perbuatan hati.

Bahkan, kesibukan seseorang dalam bekerja mencari nafkah jika niatnya benar, lalu menjaga batasan-batasan yang Allah tentukan, serta memerhatikan hak-hak manusia, maka ia termasuk bentuk ibadah yang paling utama.

Ada pula ibadah yang menyucikan hubungan antara hamba dan syahwat dirinya. Bahkan ketika seorang muslim memenuhi syahwatnya dengan cara yang halal dan menjauhi cara haram, hal itu dianggap sebagai salah satu bentuk ibadah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا

Persetubuhan yang dilakukan oleh salah seorang kalian merupakan sedekah. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jika ada di antara kita yang memenuhi syahwatnya hal itu mendatangkan pahala?” Beliau menjawab, “Ya, bukankah jika ia diletakkan pada yang haram akan mendatangkan dosa baginya?! Demikian pula ketika diletakkan pada yang halal, hal itu menjadi pahala untuknya.[5]

Dengan demikian ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan dan meliputi seluruh perbuatan manusia baik yang lahir maupun yang batin. Dengan cara pandang dan niat yang benar, seorang muslim bisa merubah adat kebiasaan dan segala hal yang mubah menjadi ibadah dan taqarrub kepada Tuhan. Dalam hadis sahih disebutkan,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Seluruh amal perbuatan bergantung kepada niat. Dan setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan.[6]

Jadi, bagi seorang muslim seluruh bumi menjadi mihrab dan masjid. Di dalamnya ia beribadah kepada Allah lewat amal dan aktivitas yang ia lakukan. Seorang petani beribadah kepada Allah dengan cara bercocok tanam secara profesional. Seorang produsen beribadah kepada Allah dengan cara melakukan aktivitas produksi secara profesional. Seorang pedagang beribadah kepada Allah dengan berbisnis secara profesional. Pegawai beribadah kepada Allah dengan cara melakukan tugas secara profesional. Seorang murid beribadah kepada Allah dengan cara belajar sungguh-sungguh. Demikianlah, seluruh manusia beribadah kepada Tuhan dengan mengerjakan apa yang ditugaskan dan diamanahkan kepadanya secara baik. Dengan cara ini kehidupan menjadi mulia, manusia menjadi bersih, serta umat benar-benar maju selama bersambung kepada Allah. Ketika itulah setan keluar dari sarangnya dalam kondisi kalah.

Catatan Kaki:

[1] Q.S. al-Nahl: 53.

[2] Q.S. Ibrâhîm: 34 dan al-Nahl: 18.

[3] Q.S. al-A’lâ: 2-3.

[4] Q.S. al-Dzâriyât: 56.

[5] H.R. Muslim dari Abî Dzarr, H.R. Dawud dan Ahmad.

[6] Muttafaq alaih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s