Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 8)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Raja Faishal dan Palestina

“I believe that each people, anywhere, has a right to live in their peaceful nation. I believe the Palestinians and the Israelis have the right to have their own land.” Begitulah jawaban Putra Mahkota Saudi Muhammad Bin Salman ketika diwawancarai oleh Jeffrey Goldberg dari majalah The Atlantic pada April 2018 lalu tentang hak kaum Yahudi untuk memiliki sebuah negara di ‘tanah air’ mereka.

Sebelumnya, saya sudah menukil perkataan Raja Faishal saat diwawancarai oleh BBC bahwa hal pertama yang ingin beliau lihat di timteng adalah terhapusnya negara Israel dari muka bumi ini. Raja Faishal menjadikan masalah Palestina sebagai hal prioritas yang harus didahulukan ketimbang kemaslahatan-kemaslahatan lain. Hal ini tidak aneh dikarenakan para penasehat raja Faishal seperti Syeikh Mahmud As-Shawwaf dan Dr. Ma’ruf Ad-Duwailibi adalah tokoh-tokoh Ikhwan.

Karenanya, ketika pasukan Mesir era Gamal Abdul Nasir mengalami kekalahan telak dalam perang enam hari tahun 1967, Raja Faishal memilih untuk mendukung Mesir sekalipun hubungannya dan hubungan Ikhwan dengan Gamal Abdul Nasir sebelumnya memburuk karena politik Abdul Nasir di kawasan (Yaman khususnya) dan keputusannya untuk memberangus Ikhwan.

Dalam Arab League Summit 1967 di Khartoum, Sudan, Raja Faishal menyetujui untuk membantu ekonomi Mesir yang ambruk pasca perang dengan menyuntikkan dana sebesar 41 juta poundsterling. Selain itu, konferensi Khartoum yang dikenal dengan The Three No’s (tidak ada perdamaian dengan Israel, tidak ada pengakuan terhadap Israel, dan tidak ada perundingan dengan Israel) menyepakati untuk menjadikan minyak sebagai senjata kontra Israel.

Hal yang sama (memprioritaskan masalah Palestina) sebelumnya juga pernah dilakukan oleh Dr. Musthafa Husni As-Siba’i yang mengetuai Maktab Tanfidzi Ikhwan pasca dipenjaranya Hasan Al-Hudhaibi dan ribuan Ikhwan oleh Gamal Abdul Nasir. Saat itu, Ikhwan menyetujui bergabungnya Suriah dan Mesir dalam Republik Arab Bersatu dengan Gamal Abdul Nasir sebagai Presidennya, bahkan As-Siba’i menyetujui persyaratan Abdul Naser agar As-Siba’i membubarkan Ikhwan. Padahal kita semua tau apa yang dilakukan Abdul Nasir terhadap Ikhwan di Mesir.

Setelah Gamal Abdul Nasir meninggal tahun 1970 dan naiknya Anwar Sadat sebagai Presiden Mesir, Raja Faishal kemudian berusaha memulihkan hubungan Ikhwan dan pemerintah Mesir. Ribuan tahanan politik pun dibebaskan. Agustus 1973, Sadat mengunjungi Riyadh dan menjelaskan kepada Raja Faishal rencananya menyerang Israel secara mendadak serta meminta kepada Raja Faishal untuk menghentikan distribusi minyak ke negara-negara Barat jika serangan berhasil.

4 Oktober 1973, perang Oktober atau dinamakaman juga perang Ramadhan yang diberkati oleh Greind Syaikh Al-Azhar waktu itu Al-Arif billah Syaikh Abdul Halim Mahmud dilancarkan. Beliau memberikan kabar gembira berupa kemenangan sebagaimana yang beliau lihat dalam mimpinya. Selain itu beliau juga berfatwa dibolehkannya tentara Mesir yang ikut perang untuk tidak berpuasa. Perang Oktober kemudian dianggap sebagai satu-satunya perang Arab-Israel yang dimenangi oleh Arab dimana daratan Sinai berhasil dikembalikan kepangkuan Mesir.

Setelahnya pada tanggal 17 Oktober, Raja Faishal memutuskan untuk benar-benar menjadikan minyak sebagai senjata. Ia mengundang para pemimpin Arab ke Kuwait dan memutuskan untuk mengurangi produksi minyak negara-negara Arab sebesar 5%. Enam negara OPEC lalu menaikkan harga minyak hingga 70%. Raja Faishal memanggil dubes AS untuk Saudi agar menyampaikan tiga poin penting ke Presiden Nixon. Jika AS tidak menghentikan dukungannya ke Israel, Saudi mengancam akan meninjau kembali hubungannya dengan AS, Raja Faishal juga mengancam bisa jadi Saudi akan mengurangi pasokan minyak ke AS sebesar 10% (bukan hanya 5%) serta kemungkinan untuk menghentikan pasokan minyak ke AS secara permanen.

Ketika AS dengan terang-terangan membantu Israel, di hari yang sama negara-negara Arab mengumumkan dihentikannya secara permanen pasokan minyak ke AS. Raja Faishal menegaskan bahwa embargo minyak akan terus dilakukan sampai Israel mengembalikan kembali wilayah Arab yang mereka caplok dalam perang 1967. Akibat embargo ini, AS mengalami krisis minyak. Antrian bensin memenuhi jalanan AS. Menteri luar negeri AS Henry Kissinger terpaksa melawat ke Riyadh untuk berdiplomasi dengan Raja Faishal. Raja Faishal pun menyambut Kissinger disebuah kemah di luar kota Riyadh. Dengan tergesa-gesa, Kissinger memasuki kemah dengan menunduk sementara semerbak aroma kopi memenuhi kemah. Pertemuan itu berlangsung di atas tanah. Raja Faishal ingin memberikan pelajaran kepada Kissinger bahwa mereka siap untuk hidup kembali dalam kemah dan dengan kendaraan unta. Saat itu, Raja Faishal mengucapkan perkataannya yang masyhur: “Para leluhur kami telah hidup dengan kurma kering dan susu, dan kami juga akan (siap) hidup seperti mereka.”

Amma Ba’du, hari-haripun berlalu, para pemimpin datang silih berganti lalu anak cucu mereka pun mengakui Israel baik dengan terang-terangan ataupun malu-malu. Jika Saudi 50-an tahun lalu pernah menjadikan minyak sebagai senjata untuk melawan Israel dan hegemoni AS, 50-an tahun kemudian Saudi juga melakukan perang minyak. Tapi bukan dengan AS, namun dengan Rusia. Sebagian pengamatpun memuji kecerdasan Putera Mahkota Muhammad bin Salman dalam perang minyak. Sementara sebagian lain justru mengkritik karena yang rugi justeru Saudi dan yang untung hanyalah AS. Dan karena kita bukan pengamat politik maka cukup kita mengucap, wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s