Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 7)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Raja Faishal dan ‘Institusi Ikhwani’

Tahun 1967, Stasiun BBC mewawancarai As-Syahid Raja Faishal dan menanyakan padanya:

“Apa peristiwa yang paling ingin anda lihat di kawasan timur tengah?”

Dengan lugas dan tenang Raja Faishal kemudian menjawab dengan sebuah jawaban yang menakjubkan, mengejutkan bagi sebagian orang sekaligus menjadi peringatan bagi para pemimpin dunia, “Yang paling utama dari semuanya adalah hilangnya negara Israel (dari muka bumi ini)”.

Sebelum kita menjelajahi lebih lanjut hubungan Raja Faishal dengan Ikhwan, ada baiknya kita menoleh sedikit ke kebelakang, pada lembaran-lembaran peristiwa yang terjadi di masa remaja dan masa muda Raja Faishal rahimahullah. Sejarah mencatat bahwa tahun 1918, diumurnya yang masih 12 tahun, ia sudah mengikuti ayahnya dalam perang melawan Alu Rasyid. Tahun 1922, saat masih berusia 16 tahun ia sudah memimpin pasukan untuk memadamkan pemberontakan di wilayah ‘Ashir, dan pada tahun 1934 ia memimpin pasukan di Tihamah saat berlangsungnya perang Yaman. Dari catatan diatas jelas bahwa Raja Faishal bukanlah sekedar Raja yang tumbuh di bawah naungan kemegahan dan kenyamanan istana.  Pada tahun 1919, pasca perang dunia yang pertama, diumurnya yang masih 13 tahun dia diutus oleh ayahnya dalam tugas diplomasi ke Britania Raya dan Perancis, sebagaimana pada tahun 1939 ia menghadiri Konferensi London tentang Palestina serta konferensi internasional tentang Palestina setahun sebelumnya yang diadakan di Markas Umum Ikhwanul Muslimin di Kairo. Semua peristiwa itu membentuk kepribadian Faishal muda dan kepeduliannya terhadap Palestina serta harapannya Syahid membela Al-Quds.

Upaya menyatukan kembali umat Islam pasca runtuhnya kekhalifahan Utsmani, masalah Palestina, serta bahaya dan ancaman Pan-Arabisme yang digaungkan oleh Presiden Mesir waktu itu, Gamal Abdul Nasir dibawah payung sosialisme komunisme, membuat ideologi Ikhwan dan Raja Faishal bertemu dan menemukan jalannya sendiri. Hal ini ditambah dengan keinginan Raja Faishal untuk memodernisasi Saudi yang mengalami hambatan dari jumudnya wahabiah konservatif serta musibah yang menimpa Ikhwan serta terusirnya mereka dari negara-negara Arab seperti Mesir, Suriah, Irak dan lain-lain. Pucuk dicinta ulam pun tiba.

Kolaborasi pertama yang dilakukan oleh Raja Faishal dan Ikhwan pada tahun 1962 (waktu itu Raja Faishal masih putra mahkota) adalah mendirikan Rabithah ‘Alam Islami (Liga Muslim Dunia). Sudah ma’ruf bahwa Liga Muslim Dunia didirikan atas ide dan inisiatif dari tokoh-tokoh Ikhwan (terutama mereka yang menjadi pemimpin batalion mujahidin Ikhwan di Palestina tahun 1948) seperti Ustadz Sa’id Ramadhan (menantu Al-Banna, pemimpin mujahidin Ikhwan Mesir), Dr. Kamil Syarif (pemimpin batalion mujahidin Ikhwan Yordania), Syaikh Muhamamd Mahmud As-Shawwaf (pemimpin Mujahidin Ikhwan Irak), Syaikh Manna’ Al-Qatthan, Dr. Taufiq As-Syawi dan lain-lainnya. Karenanya, tidak mengherankan jika Liga Muslim Dunia menjadikan masalah Palestina sebagai isu penting yang selalu mereka perjuangkan disamping isu persatuan umat Islam dan lain-lain.

Turut bergabung dengan Liga Muslim Dunia tokoh-tokoh yang seideologi dengan Ikhwan seperti Abul A’la Al-Maududi dari Pakistan, Abul Hasan An-Nadawi dari India, Buya Muhammad Natsir dari Indonesia dan Syaikh Hasanain Makhluf dari Mesir. Dari Saudi, ada Syaikh Muhammad Ali Al-Harakan (sekjen Liga Muslim Dunia), Dr. Abdullah Umar Nassef dan Syeikh Abdullah Abdul Muhsin At-Turki (Mantan Rektor Universitas Al-Imam Riyadh ini menjabat sekjen Liga Muslim dari tahun 2000 sampai tahun 2016 dan dianggap sebagai sekjen Ikhwani terakhir) yang seideologi dengan Ikhwan. Karena dominannya tokoh Ikhwan dan tokoh-tokoh yang seideologi dengan Ikhwan, Liga Muslim kemudian dianggap sebagai institusi atau lembaga Ikhwani.

Jika anda menelusuri sekretariat WAMY (Word Assembly of Muslim Youth) di seluruh dunia Islam sebelum tahun 2015 (dan bahkan sampai saat ini), Anda akan menemukan bahwa para pengurus dari organisasi tersebut adalah mereka yang punya hubungan dekat dengan gerakan Islam. Setidaknya, itulah yang saya temukan dan lihat di Jakarta, Banda Aceh dan Sudan. WAMY yang didirikan pada tahun 1972 juga merupakan inisiatif dari tokoh-tokoh Ikhwan seperti Ustad Sa’id Ramadhan, Dr. Taufiq As-Syawi, Dr. Kamal Al-Halbawi, dan lain-lain. Perlu dicatat bahwa Dr. Abdurrahman Alu Syaikh, seorang tokoh muda salafi moderat dan keturunan Syaikh Muhamamad bin Abdul Wahhab adalah sekjen pertama WAMY dengan supervisor Syaikh Hasan Alu Syeikh (Menteri Pendidikan). Ini menjadi bukti bahwa pada dasarnya, salafi moderat memang teramat dekat pemahamannya dengan Ikhwan untuk bekerjasama dalam kebaikan.Selain itu, dengan semangat pembangunan dalam nilai-nilai Islam, Ikhwan melalui Dr. Taufiq As-Syawi juga memprakarsai proyek pendirian Bank Pembangunan Islam (Al-Bank Al-Islami Li At-Tanmiyah) dengan berkolaborasi bersama mantan Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman. Kolaborasi Raja Faishal dan Ikhwan juga mendirikan Faisal Islamic Bank di Khartoum (Sudan) dan Kairo (Mesir). Ikhwan dan Raja Faishal juga menggagas lahirnya OKI dan Tunku Abdul Rahman (mantan PM Malaysia) kemudian menjadi sekjen pertamanya. Sejak didirikan tahun 1970, semua sekjen OKI adalah tokoh-tokoh negara Islam non Saudi. Baik dari Malaysia, Mesir, Senegal, Tunis, Pakistan, Neiger, Maroko dan terakhir adalah Dr. Ekmeleddin Ihsanoglu dari Turki. Sebelum akhirnya ‘disaudinisasi’ oleh Kerajaan Saudi Arabia pada tahun 2014 dimana dua sekjen terakhirnya adalah orang Saudi.

Hubungan baik Raja Faishal dan Ikhwan diyakini bukanlah sekedar hubungan pragmatis. Berbeda dengan masa Raja Abdul Aziz, Raja Fahd, Raja Abdullah yang sempat naik turun dan lalu memburuk di era Raja Salman. Tidak pernah tercatat—setahu saya—Ikhwan pernah menentang Raja Faishal dan sebaliknya. Kedua belah pihak bekerjasama dengan ikhlas menggapai tujuan bersama. Ditambah bahwa Raja Faishal adalah pribadi dermawan yang mengetahui dan menghargai kapasitas ulama-ulama Ikhwan ataupun non-Ikhwan.

Selama berpuluh-puluh tahun, semua organisasi tersebut dikenal dengan ‘lembaga-lembaga Ikhwani’. Dan ketika hubungan Ikhwan Saudi memburuk dan mencapai puncaknya, sebagian dari lembaga ataupun cabang dari lembaga itu ada yang dilemahkan, dibubarkan (seperti nasib Majma’ Fiqih islami), digantikan pengurusnya dengan orang-orang Saudi dan digunakan untuk kepentingan politik Saudi di kawasan. Sejarah akan mencatatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s