Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 6)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Tokoh-tokoh Ikhwan di Universitas-Universitas Saudi

Siapa yang pernah mempelajari buku-buku Silsilah Ta’lim Al-lughah Al-Arabiyah di I’dad Lughawi LIPIA Jakarta pasti akan menemukan beberapa kutipan dari tokoh-tokoh Ikhwan seperti Sayyid Qutb, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah atau Ustadz Abdul Qadir Audah. Hal itu tidak mengherankan, karena LIPIA adalah cabang dari Al-Iman Muhammad Ibn Sa’ud University dan Jami’ah Al-Imam Riyadh sudah masyhur sebagai salah satu pusat berkumpulnya para ulama Ikhwan di Saudi era tahun 60 sampai 90an. Mereka mengajar, membuat kurikulum serta menjadi supervisor program magister dan doktoral.

Namun, setelah tahun 2014, Kementerian Luar Negeri Saudi resmi memasukkan Ikhwan dalam list organisasi teroris, entah bagaimana nasib buku-buku tersebut, sudah direvisi ataukah belum. Mengingat Kelompok Salafi yang kemudian diberikan panggung di universitas-universitas Saudi sebagiannya berkeyakinan bahwa tidak boleh memuji ahli bid’ah (kelompok yang mereka tuduh mubtadi’) atau bahkan sekedar untuk menukil pendapat-pendapat mereka.

Pada awal berdirinya pada tahun 1953, cikal bakal Jami’ah Al-Imam dikenal dengan Al-Kulliyat Wa Al-Ma’ahid atau Fakultas Syari’ah dan Fakultas Bahasa Arab Riyadh. Disinilah para tokoh Ikhwan generasi awal seperti Syaikh Manna’ Al-Qatthan dan Syaikh Ali At-Thantawi mengajar. Sebelum kemudian pada tahun 1974 secara resmi menjadi Universitas Imam Ibn Su’ud. Bisa dibilang, Syaikh Manna’ Al-Qatthan adalah tokoh Ikhwan yang paling awal dan berpengaruh di Universitas Al-Imam Riyadh. Beliau menjadi Mudir Ma’had ‘Ali Lil Al-Qadha, kemudian menjadi Ketua Post-Graduate Education dan jabatan-jabatan penting lainnya. Beliau menjadi supervisor 115 risalah magister dan doktoral baik di Universitas Al-Imam, Ummul Qura, juga Universitas Islam Madinah.

Dari Suriah, ada Al-Allamah Al-Muhaddis Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah (Muraqib ‘am Ikhwan Suriah) yang mengabdi selama 23 tahun (dari tahun 1965-1988) di Universitas Al-Imam. Baik sebagai pengajar hadis di Post-Graduate Education ataupun sebagai anggota Majelis Ilmi jami’ah yang ikut andil dalam membuat kurikulim Universitas. Hal yang membuat beliau mendapatkan penghargaan dari pihak administrasi Universitas.

Dari Mesir, ada Syaikh Muhammad Al-‘Asaal yang menjadi kaprodi Tsaqofah Islamiyyah dari tahun 1970 sampai tahun 1984. Kemudian beliau menjadi Kaprodi Dakwah di Jami’ah Al-Imam sebelum diundang ke Pakistan sebagai Profesor di Universitas Islamabad pada tahun 1986 sampai 2002. Beliau adalah teman sejawatnya Syaikh Al-Qaradhawi di Al-azhar As-Syarif dan pernah di penjara oleh pemerintah Mesir pada tahun 1953.

Di bidang Al-Qur’an dan tafsir ada Syaikh Muhammad Ar-Rawi (keponakan Syaikh Muhammad Farghali- salah satu pemimpin batalion Ikhwan dalam perang Arab-Israel tahun 1948). Beliau mengabdi lebih dari 25 tahun di Universitas Al-Imam. Baik sebagai dosen tafsir dan hadits, mengetuai prodi Al-Quran selama 13 tahun dan jabatan-jabatan serta sumbangsih lain di kampus. Ditambah dengan jabatannya sebagai supervisor risalah magister dan doktoral di Universitas Al-Imam, Ummul Quro, Universitas Islam Madinah dan Universitas Malik Sa’ud. Meskipun tidak diketahui secara resmi bergabung dengan Ikhwan, sikap-sikap dan fatwa beliau sejalan dengan sikap Ikhwan.

Selain itu, ada Dr. Abdurrahman Al-Barr, Dr. Muhammad Ra’fat Sa’id, Ustad Muhammad Hilal, Ustad Lasyin Abu Syanab, Ustad Husain Kamaluddin, dan lain-lain yang mengajar di Universitas ataupun jabatan-jabatan admistrasi. Belum lagi jika ditambah dengan masyaikh Ikhwan asli Saudi yang mengajar di Universitas Al-Imam.

Di Universitas Ummul Quro, ada Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Syaikh Sayyid Sabiq, dan lain-lain. Di Universitas King Abdul Aziz Jeddah, ada Syaikh Abdullah Nasih Ulwan dan Ustad Muhammad Qutb (adik Sayyid Qutb), Syaikh Abdullah Azzam, dan lain-lain. Tentunya, daftar-daftar para masyaikh Ikhwan yang mengajar di Saudi akan semakin banyak jika kita cari satu persatu. Termasuk Syaikh Sa’id hawa, Dr. Munir Al-Ghadban (Muraqib Am Ikhwan Suriah yang yang ke enam), Syaikh Muhammad Surur Ibn Nayif Zainul Abidin (yang kemudian dikenal sebagai pendiri Salafiyah Sururiyah), Syeikh Fathi Al-Khauli, dan lain-lain.

Banyaknya tokoh-tokoh Ikhwan yang mengajar dan menguasai lembaga-lembaga pendidikan di Saudi dipastikan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi generasi Saudi yang menimba ilmu dekade 60 sampai 90an. Bahkan, kitab-kitab Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Abdul Qadir Audah, Muhammad Surur dan tokoh-tokoh Ikhwan dicetak oleh Wizarah Al-Ma’arif atau Kementrian Pendidikan Saudi lalu dijadikan kurikulum dan atau dibagikan secara gratis ke berbagai negara Arab lain. Meskipun tak jarang mereka juga berbenturan dengan Salafiyah lokal yang cenderung konservatif. Akan tetapi, dukungan yang kuat dari Penguasa Saudi terhadap Ikhwan sebelum perang teluk kedua menjadikan konflik Ikhwan-Wahabisme cenderung bisa diredam.

Pasca Arab Spring, sekedar respect terhadap Ikhwan akan dianggap menjadi ancaman nasional yang bisa menyebabkan seseorang dipecat dari jabatannya sebagai dosen, PNS ataupun Imam dan Khatib mesjid, bahkan bisa mengantarkannya dalam gelapnya penjara. Akan tetapi, sejarah tidak pernah berbohong, sekalipun sering dimanipulasi dan dikaburkan. Darinya kita kemudian bisa melihat lebih jernih terhadap sikap dan kondisi politik sebuah negara dan gerakan Islam di setiap masanya. Pada waktunya, kezaliman dan pengekangan yang bertumpuk-tumpuk itu akan membentuk sebuah ‘gunung berapi’ yang akan meletus kapan saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s