Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 5)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Menggagas Universitas Islam Madinah

Seorang teman yang belajar di Universitas Islam Madinah mengirimkan beberapa photo seminar tentang kesesatan Ikhwan di Universitas Islam Madinah. Seminar dengan tema yang hampir sama juga diadakan di universitas-universitas lain di Saudi seperti Al-Imam Muhammad Ibn Sa’ud University di Riyadh, dan lain-lain.

Sekitar 59 tahun yang lalu atau tepatnya tahun 1961, Al-Ustad Abul A’la Al-Maududi diundang oleh Kerajaan Saudi Arabia untuk menjelaskan proyek pendirian Universitas Islam Madinah. Pada bulan Desember tahun tersebut beliau berangkat ke Riyadh dan menjelaskan ide proyek tersebut kepada para tokoh-tokoh dan ulama yang akan mendirikan universitas. Beliau bermusyawarah dengan mereka hingga disepakatilah kurikulum Universitas, dan Ustadz Al-Maududi terpilih sebagai salah seorang anggota majelis (pendiri) Universitas.[1]

By the way, pemikiran Al-Maududi dan Sayyid Qutb teramat mirip. Hal tersebut diakui oleh Al-Maududi sendiri. Bahkan, Al-Maududi merasa lehernya seperti tercekik pada hari Sayyid Qutb dihukum mati oleh diktator Mesir Gamal Abdul Nasir.[2] Namun, jika hari ini kita tanyakan kepada sebagian atau bahkan sebagian besar para penuntut ilmu di Universitas Islam Madinah, mereka dengan bersemangat akan mengatakan bahwa keduanya adalah sesat menyesatkan.

Salah seorang tokoh Ikhwan Suriah, sejawat Dr. Mushtafa As-Siba’i di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus, Dr. Muhammad Mubarak, menceritakan: “Pada akhir tahun 1961, didirikanlah Universitas Islam Madinah, kemudian dibentuklah dewan penasehat tertinggi untuk sistem pendidikan dan kurikulumnya. Anggota dewan tersebut terdiri ulama dari berbagai negara Islam yang berbeda dan aku adalah salah seorang anggotanya dimana aku ikut memberikan sumbangsih dalam penyusunan kurikulumnya dan kemudian diterima. Sumbangsihku terhadap dewan penasehat tertinggi ini berlangsung selama 15 tahun.”[3]

Diantara tokoh-tokoh Ikhwan dan gerakan Islam lain yang menjadi anggota dewan penasehat tertinggi pendirian Universitas Islam Madinah adalah: Syaikh Muhammad Mahmud As-Shawwaf (Muraqib Am Ikhwan Iraq), Syaikh Ali At-Thantawi, Syaikh Abul Hasan An-Nadawi. Ada juga Mufti Mesir Syaikh Hasanain Makhluf dan Mufti Tunis Imam Thahir Ibnu Asyur serta tokoh-tokoh salafi lain baik dari Saudi, Suriah (Syaikh Bahjar Al-Baithar, Syaikh Albani) dan Ustadz Mahmud Yunus dari Indonesia.

Salah satu tokoh Ikhwan Iraq yang menduduki jabatan penting di Universitas Islam Madinah adalah Syaikh Akram Dhiya Al-Umri.[4] Beliau menjabat sebagai Ketua Post-Graduate Education, Ketua Majelis Ilmi’ selama enam tahun dan tugas-tugas lainnya.[5] Tahun 1996 beliau menerima penghargaan King Faisal Award dari pemerintah Saudi.

Dari Maroko, ada Syaikh Allal Al-Fasi yang diminta oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz untuk mengajar di Universitas Islam Madinah pada tahun 1968. Beliau tetap mengajar disana sampai tahun 1974 hingga kemudian meninggalkannya untuk fokus berdakwah di Maroko.[6] Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Syaikh Allal Al-Fasi adalah tokoh ulama Maroko yang merencanakan membuka cabang Ikhwan di kota Fez Maroko, namun digagalkan oleh penjajah Perancis. Pengarang kitab Ulama Wa Mufakkirun Araftuhum sendiri, Syeikh Muhammad Al-Majzub, menceritakan bahwa beliau adalah salah satu dosen yang mengabdi di Universitas Islam Madinah semenjak tahun-tahun pertama didirikan Universitas sampai 20 tahun setelahnya. Beliau juga yang bertanggungjawab menjadi redaktur majalah Universitas Islam Madinah selama 15 tahun.[7]

Belum lagi tokoh Ikhwan Mesir seperti Syaikh Muhammad Ali Jarisyah yang mengajar di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Madinah selama bertahun-tahun atau Syaikh Manna’ Khalil Qathan yang menjadi penguji puluhan risalah doktoral. Tentu, jika kita mendata semua tokoh Ikhwan yang memberikan sumbangsihnya untuk Universitas Islam Madinah akan membuat tulisan ini menjadi sangat panjang. Sudah mafhum bahwa Universitas Islam Madinah pada tahun 70 sampai 90an didominasi oleh tenaga pengajar non-Saudi. Barulah setelah perang teluk kedua dimulai kebijakan Saudinisasi.

Uraian di atas tidak bertujuan untuk mengklaim siapa yang paling berjasa membangun Universitas Islam Madinah. Sejak awal, para direktur Universitas Islam Madinah adalah para ulama-ulama salafi Saudi yang terbuka untuk menerima masukan dari ulama-ulama Islam dari berbagai negara dengan beragam afiliasinya. Hanya, tahun-tahun terakhir ini, setelah hubungan Ikhwan dan Saudi memburuk, dimulailah dengan gencar serangan terhadap Ikhwan. Padahal, tokoh-tokoh Ikhwanlah yang pada awalnya juga ikut merintis Universitas Islam Madinah. Salafiyah Jamiyah/Madkhaliyah (yang berkembang di Universitas Islam Madinah dan kampus-kampus Saudi lainnya pasca perang teluk kedua) pun menemukan kembali panggungnya untuk mentahzir Ikhwan.

Catatan Kaki:

[1] Al-Ustadz Abul A’la Al-Maududy Wa Manhajuhu Fi At-Tafsir, Saif Ad-Din Turabi, Rirasalah Magister Univ Umm Al-Qura, Hal: 45.

[2] Min A’lam Al-Harakah, Abdullah Al-Aqeel, Hal: 668.

[3] Ulama Wa Mufakkirun Araftuhum, Muhammad Al-Majzub, hal: 250, Juz 1, cet ke empat, Dar As-Syawaf, 1992.

[4] Safahat Min Tarikh Al-Ikhwan Al-muslimin Fil Iraq, Adnan Muhammad Salman Ad-Dalimy, hal: 289, cet Al-Manhal 2013.

[5] Ulama Wa Mufakkirun Araftuhum, Muhammad Al-Majzub, hal: 14. Juz 3.

[6] Min A’lam Al-Harakah, Abdullah Al-Aqeel, hal: 493.

[7] Ulama wa Mufakkirun Araftuhum, Muhammad Al-Majzub, hal: 355.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s