Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 3)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Antara Kekaguman dan Ketakutan

Kerajaan Saudi Arabia dan Raja Abdul Aziz adalah termasuk sosok yang dikagumi Al-Banna dan Ikhwan. Dalam Majmu’ Rasail-nya, Hasan Al-Banna berkata: “Siapa yang menyangka bahwa Abdul Aziz Alu Sa’ud yang keluarganya dibuang, anak istrinya diceraiberaikan dan kerajaannya dirampas mampu mengembalikan kerajaan tersebut dengan (modal awalnya) hanya beberapa puluh orang. Lalu menjadi harapan dunia Islam untuk mengembalikan kejayaannya serta menghidupkan lagi persatuannya.” [1]

Salah satu tokoh Ikhwan As-Syahid Ustadz Abdul Qadir Audah menjelaskan dengan bangga implementasi syariat Islam di Saudi. Beliau berkata: “Implementasi (syariat Islam) umum telah mulai dipraktekkan di Kerajaan Hijaz (maksudnya adalah kerajaan Arab Saudi, red.) sejak lebih kurang dua puluh tahun dimana syariat Islam diterapkan secara menyeluruh. Penerapan tersebut berjalan sukses dan layak diperhatikan untuk menghentikan kriminalitas, menjaga keamanan dan sistem pemerintahan. Masih belum lekang dari ingatan orang-orang bagaimana sebelumnya kondisi keamanan sangat rentan di Hijaz, bahkan Hijaz menjadi contoh perumpamaan dalam banyaknya angka kriminalitas dan parahnya kriminalitas tersebut.[2]

Karenanya, dalam musim haji tahun 1936 Hasan Al-Banna bertemu dengan Raja Abdul Aziz, dan meminta izin kepada Sang Raja untuk mendirikan cabang Ikhwan di Saudi. Hal yang ditolak dengan cerdas dan diplomatis oleh King Abdul Aziz dengan berkata: “Kita semua adalah Ikhwanul Muslimin.” [3]. Meskipun izin mendirikan cabang Ikhwan di Saudi ditolak, hubungan Ikhwan dan Saudi tetap berlangsung baik. Maka, ketika tahun 1945 Raja Abdul Aziz mengunjungi Mesir, ia disambut oleh pawai dan yel-yel dari anggota Ikhwan di Bandara Kairo.

Hubungan Saudi dan Ikhwan mulai renggang pada Februari tahun 1948, tepatnya ketika Ikhwan mendukung revolusi undang-undang di Yaman untuk mengakhiri kezaliman kekuasaan para Imam Syi’ah Zaidiyah. Menurut sejarawan Ikhwan Ustadz Mahmud Abdul Halim, ide dan persiapan revolusi tumbuh pertama kali di Markas Umum Ikhwan melalui para pelajar Yaman yang belajar di universitas Al-Azhar dan lain-lain.[4] Raja Abdul Aziz menentang revolusi dan mendukung revolusi tandingan yang dilancarkan oleh tokoh Syi’ah Zaidiyah Ahmad bin Yahya, putra Imam Yahya yang terbunuh dalam revolusi.

Dukungan Saudi terhadap revolusi tandingan memunculkan kemarahan Ikhwan. Sekalipun revolusi undang-undang di Yaman gagal, disinyalir Raja Abdul Aziz mulai melihat Ikhwan sebagai ancaman yang berpotensi menjatuhkan kapan saja sebuah sistem pemerintahan termasuk pemerintahan monarki absolut keluarganya yang baru berumur dua dekade. Hal yang sama juga dirasakan oleh Raja Faruq di Mesir. Belum lagi, di tahun yang sama Ikhwan mengirimkan ribuan sukarelawan mujahidinnya dari berbagai negara Arab untuk berjihad di Palestina dalam perang Arab-Israel yang dimulai bulan Maret 1948.

Karenanya, dimusim haji tahun tersebut Hasan Al-Banna berangkat menunaikan ibadah haji dengan melewati birokrasi yang rumit, dan Kerajaan Saudi melarang Al-Banna agar tidak berbicara politik selama di Saudi. Menurut Abduh Dasuqi dalam makalahnya, Konspirasi pembunuhan terhadap Al-Banna sudah dimulai ketika Al-Banna berada di Bandara Kairo pada 23 September 1948. Petugas paspor bandara mengambil paspor Al-Banna dan mencoret semua negara yang bisa dimasuki oleh Al-Banna kecuali Saudi. Larangan bepergian bagi Al-Banna ke negara-negara lain selain Saudi tersebut adalah berdasarkan perintah langsung kepala dinas khusus.[5]

Ketika para Mujahidin Ikhwan sedang berjihad di Palestina, Hasan Al-Banna menuju pekuburan Baqi’ dan berdoa agar dikaruniai mati syahid. Lalu, 23 November 1948 Al-Banna pulang ke Mesir. Konspirasi internasional dimulai. Seluruh Mujahidin Ikhwan di front Palestina diminta untuk menarik diri dan mundur dari kancah peperangan. Senjata mereka dilucuti kemudian para Mujahidin tersebut dijebloskan ke penjara-penjara Mesir dan lainnya. Tanggal 2 atau 8 Desember 1948 Ikhwanul Muslimin secara resmi dibubarkan, semua harta benda jama’ah disita negara, semua anggotanya dijebloskan ke penjara kecuali Al-Banna. Selanjutnya pada 12 Februari 1949 mobil yang dikendarai Hasan Al-Banna diberondong dengan peluru tajam. Dengan bersimbah darah, ia menuju rumah sakit. Namun tak seorang dokter pun yang berani melawan perintah ‘negara’ yang melarang mengobati Al-Banna. Ia syahid dengan tubuh bersimbah darah setelah 4 jam melawan kematian.

Tengah malam, Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna diberitahukan kematian anaknya. Pemerintah akan menyerahkan jasad jika Syaikh Ahmad berjanji untuk menguburkan Al-Banna tanpa memberitahukan kepada siapapun. Jasad Al-Banna kemudian dibawa pulang kerumahnya dengan pengawasan polisi. Setelah selesai dikafani, Syeikh Ahmad meminta kepada polisi agar mengizinkan beberapa orang laki-laki untuk memikul jasad anaknya. Namun ditolak dan jasad itu kemudian dipikul sang ayah dengan beberapa anggota keluarga perempuan dan dikuburkan di pagi hari.

Catatan Kaki:

[1] Majmu’ah Ar-Rasail, Hasan Al-Banna, Hal: 58, Cet. Dar Ad-Dakwah, tahun 1998.

[2] At-Tasyri’ Al-Jina’i Al-Islami, Abdul Qadir Audah, Hal:712-713, Juz 1, Cet, Dar Al-Kutub Al-Arabi, Beirut.

[3] Liqa Bab Al-Maftuh, Ibnu Utsaimin, No 45.

[4] Al-Ikhwan Al-muslimun Ahdats Shana’a At-Tarikh, Mahmud Abdul Halim, Hal: 402. Cetakan ke 5, Dar Ad-Dakwah, tahun 1994.

[5] Fi Rihab Al-Hajj, Imam Al-Banna Wa Bi’tsaat Al-Hajj Li Al-Ikhwan Al-muslimin, Abduh Dasuqi. www.daawa-info.net.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s