Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 2)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Wahabiyah vs Salafiyah Ishlahiyah?

Siapa Hasan Al-Banna? Siapa saja yang mempengaruhinya? Jawaban dari pertanyaan ini akan menuntun kita untuk mengetahui sejauh mana Ikhwan nantinya bisa berjalan beriringan bersama Wahabisme atau malah berbenturan. Tidak mudah memang mendeskripsikan siapa Hasan Al-Banna. Namun, kita bisa meraba-raba kemana arah pemikirannya dengan melihat kepada dan dengan siapa ia pernah berguru dan berinteraksi serta kitab-kitab apa saja yang ia baca dan mempengaruhinya.

Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna As-Sa’aty—ayahanda Al-Banna—adalah salah satu ulama yang paling berpengaruh terhadap Al-Banna, terutama dalam ilmu hadis. Beliau menyusun kitab Al-Fath Ar-Rabbani Li At-Tartib Musnad Imam Ahmad Ibn Hanbal As-Syaibani dalam 22 jilid.[1] Beliau menyusun Musnad Imam Ahmad berdasarkan urutan yang detail, dimulai dengan tauhid, fiqih, tafsir, targhib dan tarhib, tarikh, kiamat dan ahwal al-akhirah. Beliau mengklaim: “Saya tidak mengetahui ada orang lain yang pernah mendahului saya dalam penyusunan seperti ini”.

Hasan Al-Banna juga dekat dengan kakak beradik, Al-Hafiz Al-Maghribi As-Sayyid Ahmad Al-Ghumari dan Sayyid Abdullah Al-Ghumari. Tahun 1937, Ikhwan berusaha mendirikan 2 cabangnya di kota Fes melalui Syaikh Allal Al-Fassi dan di Tangier melalui Al-Hafid Ahmad Al-Ghumari Maroko. Namun rencana ini digagalkan oleh penjajah Perancis saat itu.[2]

Kedekatan ini diakui sendiri oleh Sayyid Abdullah, beliau berkata: “Adapun Syeikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna dan anaknya Hasan Al-Banna, ketua Jamaah Ikhwanul Muslimin, keduanya adalah sahabatku. Beliau telah melakukan khidmah besar terhadap kitab-kitab hadis. Beliau menyusun Musnad Imam Ahmad menurut bab-bab fiqih, Musnad Imam Syafi’i dan Musnad Abi Daud At-Thayalisy. Semuanya adalah jasa besar terhadap ahli hadis. Akan tetapi beliau ‘bukanlah seorang Muhaddis’ rahimahullah.” [3]

Pembaca yang budiman harap tidak ‘tertipu’ dengan perkataan Sayyid Abdullah bahwa Syaikh Ahmad Abdurrahman bukan Muhaddis. Jangankan Syaikh Ahmad Abdurrahman, Sayyid Abdullah dan kakaknya menganggap bahwa Muhaddis Syam Syaikh Badruddin Al-Hasani dan Wakil Masyaikhah Utsmaniyah Syeikh Muhammad Zahid Al-Kautsai juga tidak mengetahui hadis.[4]

Kedekatan Sayyid Abdullah Al-Ghumari dengan Hasan Al-Banna membuatnya dipenjara oleh diktator Mesir Gamal Abdul Nasir selama 11 tahun karena dituduh sebagai anggota Ikhwan.[5]

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib dan Syaikhul Azhar Muhammad Khidir Husein At-Tunisy termasuk yang paling berpengaruh terhadap Hasan Al-Banna. Al-Banna berkata: “…kami sering mengunjungi Perpustakaan As-Salafiyah (Maktabah Salafiyah dan percetakannya didirikan oleh Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib, red.) dimana kami bertemu dengan Al-Mujahid Al-‘Amil Al-‘Alim Al-Fadhil Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib dan bertemu dengan para ulama terkenal seperti Al-Ustad Al-Kabir Sayyid Muhammad Khidir Husein dan lain-lain…sebagaimana kami sering mengunjungi Darul Ulum dan menghadiri majelis Sayyid Muhammad Rasyid Ridha.” [6]

Kedekatan Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib dengan Syaikh Khidir Husein dikemudian hari—ketika Syaikh Khidir Husein diangkat menjadi Grand Syaikh Al-Azhar—membawa Sayyid Muhibbuddin mengetuai redaksi majalah Al-Azhar sebagai tokoh salafiyah Islahiyah [7] pertama yang memimpin majalah tersebut.

Kedekatan pemikiran Al-Banna dan Rasyid Ridha juga terlihat ketika keluarga Rasyid Ridha meminta Hasan Al-Banna untuk menerbitkan kembali majalah Al-Manar setelah vakum beberapa tahun karena meninggalnya Sayyid Rasyid Ridha.[8] Hasan Al-Banna kemudian menerbitkan kembali majalah Al-Manar selama lima edisi sebelum berhenti dikarenakan—salah satu sebabnya—oleh kritik dari pembaca Al-Manar terhadap sikap Hasan Al-Banna yang terlalu lunak dalam masalah Asma wa As-Shifat.[9]

Sebagaimana diketahui, Sayyid Rasyid Ridha cenderung keras dalam berpegang kepada manhaj salaf dan menegasikan khalaf, hal yang kurang disetujui Hasan Al-Banna, dimana Al-Banna menolak untuk menyesatkan pemahaman khalaf dalam masalah Asma wa As-Shifat meskipun ia sendiri lebih memilih manhaj salaf. Karenanya, tidak mengherankan jika sebagian tokoh Ikhwan setelah Al-Banna mentakwilkan ayat-ayat shifat seperti yang dilakukan Sayyid Qutub dalam tafsirnya.[10] Dan tidak mengherankan juga jika Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta mengunakan kitab Risalah Al-Aqaid Hasan Al-Banna dalam kurikulumnya.[11]

Penting juga disebutkan bahwa Hasan Al-Banna juga terpengaruh dengan gurunya, Syaikh Abdul Wahab Hashafy, Syaikh Tarikat Hashafiyah di Damanhur. Beliau juga sering mengutip dan mensyarah kitab Ihya Ulumuddin karya Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali dalam pengajian mingguan Hadis As-Tsulasa-nya.[12]

Interaksi Al-Banna dengan berbagai kalangan melahirkan sebuah harmoni dalam kepribadiannya. Ada rasionalitas Al-Afghani dan Abduh dalam dirinya, ada salafiyah Rasyid Ridha dan Al-Khatib dan kejernihan tasawwuf dari Syeikh Al-Hashafy. Ditambah perbendaharaan hadis dari sang ayah, juga dari Rasyid Ridha dan Al-Ghumari bersaudara.

Pribadi Al-Banna yang menarik membuat ia menjadi magnet bagi para intelektual di Mesir waktu itu, dakwahnya disambut oleh berbagai kalangan, oleh para ahli fiqih seperti Sayyid Sabiq dan Syaikh Al-Baquri (Menteri Urusan Waqaf Mesir), oleh mereka yang cenderung kepada hadis seperti Syaikh Abu Ghuddah, atau bahkan yang cenderung ke tasawwuf seperti Syeikh Muhammad Al-Hamid Al-Hamawi. Adapun Dr. Musthafa As-Siba’i, maka ia adalah sisi mata uang yang lain dari pribadi Al-Banna.

Manhaj Ikhwan yang lentur memudahkan mereka untuk beradaptasi dengan salafiyah konservatif di Saudi dan bahkan memberikan corak warna baru terhadap Ikhwan yang kemudian sedikit lebih condong ke Salafiyah setelah era 60-an dan keluarnya sebagian ulama-ulama lulusan Al-Azhar dari jama’ah. Kedekatan tokoh-tokoh Ikhwan dengan madrasah Asya’irah-Maturidiyah juga mengakibatkan sebagian mereka ‘dipersekusi’ di Saudi. Sebagaimana yang dialami Sayyid Qutub ketika ‘dihujat’ oleh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, atau seperti Abu Ghuddah yang ‘diteror’ oleh Syaikh Albani hingga beliau menulis bantahannya: Kalimat Fi Kasy Abathil Wa Iftiraat. Kedekatan Syeikh Abu Ghuddah dengan Syeikh Zahid Al-Kautsari yang anti Wahabi juga membuatnya ‘dipersekusi’ oleh Syaikh Bakr Zaid dan Syaikh bin Baz untuk berlepas diri dari Syaikh Al-Kautsari, hal yang tak mungkin dilakukan Syeikh Abu Ghuddah rahimahumullah.

(Bersambung)

Catatan Kaki:

[1] Min A’lam Ad-Dakwah Wa Al-Harakah Al-Islamiyah Al-Mu’ashirah: Syeikh Al-Muhaddis Ahmad Abdurrahman Al-Banna As-Sa’aty, Majalah Al-Mujtama’ Kuwait, 20 Desember 2008.

[2] Lihat: http://www.ressali.com/news/289?language=arabic

[3] Sabil At-Taufiq Fi Tarjamati Abdillah Ibn As-Shiddiq Al-Ghumari, Al-Hafiz Abdullah Al-Ghumari, Hal: 39, Cetakan Ke Tiga Maktabah Al-Qahirah tahun 2012.

[4] Ibid, hal. 38

[5] Ibid, hal. 68

[6] Mudzakkirah Ad-Dakwah wa Ad-Da’iyah, Hasan Al-Banna, Hal: 45 Cet. 1, Dar Ad-Dakwah tahun 2012

[7] Syaikh Ali Jum’ah menyebutnya Wahabiyyah.

[8] Awraq Min Tarikh Al-Ikhwan, Jum’ah Amin, Juz 1, Hal: 182 Cet 1 Dar At-Tauzi’ Wa An-Nasyr tahun 2003.

[9] Nazharat Fi Risalah At-Ta’lim, M. Abdullah Al-Khatib dan  M. Abdul Halim Hamid, Hal: 290, Dar At-Tauzi’ wa An-Nasyr tahun 1995.

[10] Fi Zilal Al-Quran, Sayyid Qutub, hal:462, Juz 13, Cet 7, Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, tahun 1971, Beirut.

[11] Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Mahmud Yunus, Hal: 285, Penerbit: Hidakarya Agung Jakarta,1983.

[12] Ila Al-Muwajaha; Zikrayat Dr. Adnan Mas’udi An Ikhwan Al-muslimin, Hal: 48, Cet Markaz Az-Zaitunah Beirut tahun 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s