Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 1)

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong

Sinopsis

Saudi adalah tempat pengasingan paling aman dan menerima Ikhwan dengan tangan terbuka di era 60-an ketika Ikhwan diburu oleh rezim diktator baik di Mesir, Irak dan Suriah. Hubungan yang terjalin setelah itu adalah hubungan simbiosis mutualisme antara sebuah kerajaan yang butuh terhadap para ulama reformis, tenaga pengajar dan kader-kader yang potensial untuk ditempatkan dibanyak lini dengan tokoh-tokoh pelarian politik yang butuh tempat aman untuk menyebarkan pemikirannya.

Fase paling mesra hubungan Saudi dan Ikhwan adalah pada masa Raja Faishal. Pada masanya, tokoh-tokoh Ikhwan menjadi penasehat kerajaan, menjadi dekan dan dosen di Universitas-universitas Saudi. Mereka membuat kurikulum universitas-universitas Saudi, menjadi pembimbing dan penguji didertasi dan lain-lain.

Di era ini Rabithah ‘Alam Islami menjadi corong bagi Ikhwan untuk mengkampanyekan kepada umat Islam isu Palestina dan Al-Quds serta problematika-problematika umat lainnya. Eksis pula WAMY sebagai organisasi pemuda muslim yang digunakan Ikhwan untuk mengkader para pemuda di seluruh dunia. Fase ini berlangsung kurang lebih selama 27 tahun. Mulai dari Raja Faishal, Raja Khalid dan paruh pertama pemerintahan Raja Fahd hingga Perang Teluk kedua tahun 1990-1991.

Pasca perang teluk, Ikhwan mengkritik Kerajaan Saudi karena meminta bantuan Amerika untuk menghajar Saddam Husein yang menyerang Kuwait. Selain itu, pasca Perang Afganistan peran Ikhwan di Saudi ditinjau kembali. Termasuk kembalinya eks Mujahidin Arab dari Afghan. Hubungan Saudi dan Ikhwan semakin memburuk pasca Arab Spring dan kemudian menjadi permusuhan terang-terangan di era Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman.

Siapa yang Membutuhkan?

Sebagaimana diketahui, kerajaan Saudi modern lahir atas dasar koalisi antara Bani Sa’ud dan Alu As-Syaikh (keturunan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan wahabisme). Selain itu, pasukan Raja Abdul Aziz dari Bani Sa’ud juga didukung oleh tentara kabilah-kabilah badui dari Nejd yang dikenal dengan gerakan Ikhwan ‘Badui’(tambahan kata ‘Badui’ untuk membedakannya dengan gerakan Ikhwan Mesir).

Syeikh Hafiz Wahbah (diplomat dan penasehat Raja Abdul Aziz dari Mesir) menuturkan dalam kitabnya Al-Jazirah Al-Arabiyah Fi Al-Qarn Al-‘isyrin [1] bahwa tahun 1927, Raja Abdul Aziz berencana untuk menarik air zamzam dengan pompa air modern yang akan di impor dari Mesir. Pada waktu itu, air zamzam masih diangkat secara manual dengan timba-timba dari kulit oleh orang-orang Badui yang memanfaatkan jasa timba dan angkut air zamzam sebagai mata pencaharian mereka. Pipa-pipa mulai dipasang. Para Badui Nejd menyadari bahwa proyek pompa air modern ini akan menutup mata pencaharian mereka. Karenanya, mereka menghasut orang Nejd yang ada di Makkah untuk menentang proyek tersebut. Alasannya adalah proyek tersebut akan mendatangkan bala terhadap umat Islam. Raja Abdul Aziz yang membutuhkan dukungan pasukan Badui pada waktu itu tidak punya pilihan lain kecuali menghentikan proyek tersebut.

Sikap jumud kaum Badui Nejd terhadap hal-hal baru menyadarkan Raja Abdul Aziz bahwa proyeknya untuk memodernisasi Kerajaan Arab Saudi yang baru seumur jagung dapat menghadapi penentangan dari loyalisnya sendiri.

Selain itu, para ulama Wahabi yang ultra konservatif juga memfatwakan haramnya telegram. Karena dianggap akan mendatangkan bala dan membuat Kerajaan dapat dikuasai Inggris. Tak hanya itu, Lembaga Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang didirikan tahun 1940 juga mengharamkan sepeda dan menjulukinya dengan Hishan Iblis atau kuda Iblis. Menurut keyakinan wahabiah konservatif, sepeda berjalan karena adanya konspirasi iblis. Meraka juga mengharamkan anak-anak perempuan untuk sekolah. Fatwa haram terhadap hal-hal modern terjadi juga pada televisi dan photography. Photo adalah haram secara mutlak—kecuali photo para raja, dan di kemudian hari semakin melembek dan dibolehkan dalam kondisi darurat. Radio pun diharamkan, karena dianggap meniru ciptaan Allah berupa suara, serta diharamkan pula hal-hal lainnya yang berbau modern.

Karena hal inilah, Raja Abdul Aziz ‘mengimpor’ banyak ulama dan cendekiawan muslim dari Mesir (seperti Hafiz Wahbah, dan lain-lain), Suriah (seperti sejarawan Khairuddin Az-Zirikly, dan lain-lain), Irak (seperti Rasyid Ali Al-Kailany, dan lain-lain), Lebanon (seperti Fuad Hamzah), Palestina (Rusydi Malhas, dan lain-lain) untuk berkontribusi dalam membangun Saudi baru. Mereka yang dipanggil tentu saja adalah orang-orang yang sedikit banyaknya dekat dengan ideologi wahabisme atau minimal tidak menentang frontal wahabisme. Para sejarawan menamakan mereka dengan Salafiyah Ishlahiyah (salafi reformis yang moderat) untuk membedakannya dengan Wahabi Saudi yang ultra Konservatif.

Selain mengundang mereka, Raja Abdul Aziz juga menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh Salafiyah Ishlahiyah di Mesir seperti Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib, dan lain-lain. Meski bermanhaj salafi, mereka tidak menolak modernisasi. Hubungan mereka dengan Syeikh Muhammad Abduh yang cenderung rasional bisa menjelaskan arah pemikiran mereka. Merekalah yang awalnya berjasa mencetak manuskrip-manuskrip kitab para ulama Salafi seperti Ibnu Taimiyah cs.

Hasan Al-Banna menceritakan dalam kitabnya Mudzakkirah Ad-Dakwah Wa Ad-Da’iyah [2] bahwa pada tahun 1928 Syaikh Hafiz Wahbah—Penasehat Raja Abdul Aziz—meminta kepada Jam’iyah Syubbanul Muslimin (salah satu pendirinya adalah Syaikhul Azhar Syaikh Muhammad Khidir Husein At-Tunisy) agar mengirimkan tenaga pengajar ke Saudi. Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib (Paman Syeikh Ali At-Thantawi) kemudian merekomendasikan Hasan Al-Banna (yang waktu itu merupakan salah satu tokoh muda Jam’iyah). Namun, persyaratan yang disampaikan Al-Banna kepada Syaikh Hafiz Wahbah serta birokrasi Mesir dan Saudi yang rumit waktu itu membuat rencana itu batal. Mesir saat itu memang belum mengakui kerajaan Saudi.

Dari uraian diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sejak awal berdirinya, Kerajaan Saudi itulah yang membutuhkan para ulama dan da’i reformis untuk diajak membangun Saudi mengingat Wahabiyah Konservatif sulit menerima hal-hal baru dan modern.

(Bersambung)

Catatan Kaki:

[1] Cetakan Lajnah At-Ta’lif Wa at-Tarjamah Wa An-Nasyr, tahun 1935 hal: 33-34

[2] Cetakan Dar Ad-Dakwah, 2011 hal: 70

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s