Mabadi Istimrariyatit Tarbiyah

Prinsip Kesinambungan Tarbiyah

Diantara tujuan Tarbiyah Islamiyah yang pokok adalah membentuk individu muslim yang memiliki kepribadian sebagai berikut:

Pertama, al-imanul kamil (keimanan yang sempurna). Yakni iman kepada Allah Ta’ala, iman kepada Ar-Rasul, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan iman kepada Al-Islam.

فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلنُّورِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلْنَا ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. At-Taghabun, 64: 8)

Keimanan mereka tanpa keraguan dan tidak tergoyahkan, sehingga ia menjadi al-‘aqidatul ‘amiqah (aqidah, ikatan, dan keyakinan) yang mendalam.

Kedua, al-hubbul watsiq ([memiliki] cinta yang mendalam [terhadap sesama muslim]), yakni pribadi-pribadi muslim yang saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), dan saling menanggung (takaful).

Hal ini sebagaimana tergambar dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, simpati mereka bagaikan satu jasad, jika salah satu anggota tubuhnya ada yang mengeluh, maka bagian yang lain juga mengikutinya dengan rasa tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim No. 2586, Ahmad No. 18373)

Dengan begitu terwujudlah al-ukhuwwatur rabithah (persaudaraan yang mengikat) diantara mereka.

الْمُؤْمِنُ للْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضاً وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

“Seorang mu’min terhadap mu’min yang lain, ibarat sebuah bangunan yang sebagiannya mengokohkan bagian yang lain” (dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalinkan antara jari-jarinya)” (Muttafaq ‘alaih).

Ketiga, at-tadhiyyatul khalishah ([memiliki] sikap pengorbanan yang tulus). Sehingga mereka tidak segan mengorbankan harta (al-maliyah), pikiran (alfikriyah), dan jiwa (an-nafsiyah) mereka di jalan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat, 49: 15)

Mereka terbentuk menjadi al-jundiyyatul muthi’ah (prajurit yang taat) dalam perjuangan Islam.

Individu-individu yang berkepribadian ideal seperti itu tidak mungkin muncul dengan tiba-tiba. Tidak mungkin terbentuk dengan proses tergesa-gesa atau karbitan. Ia hanya akan muncul melalui proses yang pelan dan tenang namun pasti (al-muta-anniyah). Ia hanya akan muncul dengan amal tarbiyah yang istimrariyyah (berkesinambungan) dalam jangka waktu yang lama.

Jika prinsip istimrariyyatut tarbiyah ini dapat dijalani dengan sabar laksana seorang petani yang telaten menanam padi—mulai dari memilih benih, menyiapkan lahan, menyemai, merawat, sampai memberi pupuk, insya Allah akan tumbuhlah ar-rijalur rabbaniyyun (pribadi rabbani) sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran, 3: 79)

Makna ar-rabbaniy adalah orang yang mengetahui agama Tuhan, yang memiliki keteguhan dalam perpegang dengan ketaatan kepada Allah, serta memiliki pemahaman, kelembutan, dan hikmah.[1]

Disebutkan pula dalam firman-Nya yang lain,

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِىٍّ قَٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا۟ لِمَآ أَصَابَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا۟ وَمَا ٱسْتَكَانُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka ribbiyyun (sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa). Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran, 3: 146)

Ribbiyun jamak dari ribbi secara etimologis dinisbahkan kepada asal katanya atau masdar ar-rabb artinya orang-orang yang mengikuti syariat Allah, yang dimaksud dalam ayat ini adalah pengikut para rasul dan murid-murid para nabi.[2]

Diantara makna ribbiyyun adalah ulama dan fuqaha yang sabar, baik dan bertakwa[3]; juga bermakna jama’atun katsir (kelompok yang besar), al-ittiba’ (pengikut), atau al-qadatu wal walah (pemimpin dan pengikut)[4].

Mereka adalah muslim yang komitmen dengan keislamannya dan siap menjadi pembela agama hingga titik darah penghabisan.

Catatan Kaki:

[1] Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir, Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, hal. 60, Darun Nafais, Yordania

[2] Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, hal. 52, Kementrian Agama RI.

[3] Lihat: Lubabut Tafsir Min Ibni Katsir (Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq oleh Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh), Terjemah diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi’i; Al-Qur’anul Karim Tafsir wa Bayan lit Thullab, Syaikh Husain Muhammad Makhluf, Mirza Saudi Arabia.

[4] Mukhtashar min Tafsir Al-Imam At-Thabariy, Abi Yahya Muhammad bin Shamadaj At-Tujaibi, An-Nadwah Al-Alamiyah li Syababil Islamiyyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s