Hadits 7: Agama adalah Nasihat (Bag. 1)

Matan Hadits:

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ يَارَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ: للهِ،ولكتابه، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ .  رواه مسلم

Dari Abu Ruqayyah  Tamim bin Aus Ad Dari Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Agama adalah nasihat.” Kami berkata: “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan orang umumnya.” (HR. Muslim)

Takhrij Hadits:

  • Imam Muslim, Jami’ As Shahih 55
  • Imam Ad Darimi, As Sunan 2754, dari Ibnu Umar
  • Imam At Tirmidzi, As Sunan 1990
  • Imam Ibnu Hibban, Ash Shahih 4574
  • Imam Abu Ya’la, Al Musnad 7164
  • Imam Ibnu Al Ju’di, Al Musnad 2681
  • Imam An Nasa’i, As Sunan 4197, 4198, 4199 (dari Abu Hurairah), 4200 (dari Abu Hurairah)
  • Imam Ahmad, Al Musnad 7954 (dari Abu Hurairah), 16940, 16941, 16945, 16947

Makna Hadits Secara Global

Secara global hadits ini mencakup beberapa kandungan yang sangat penting dalam Islam. Di antaranya:

  1. Inti sari dari agama adalah nasihat. Berkata Imam Al Khathabi Rahmatullah ‘Alaih:

وَمَعْنَى الْحَدِيث : عِمَاد الدِّين وَقِوَامه النَّصِيحَة . كَقَوْلِهِ : الْحَجُّ عَرَفَة أَيْ عِمَاده وَمُعْظَمه عَرَفَة .

“Makna hadits adalah: tiang agama dan penyangganya adalah nasihat. Ini seperti sabdanya: haji adalah ‘arafah artinya tiang dan mu’zham (unsur yang paling penting) dari haji adalah (wukuf) di ‘Arafah.” (Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 1/144. Mawqi’ Ruh Al Islam. Lihat juga Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarhul Arba’in An Nawawiyah, Hal. 50. Maktabah Al Misykah)

  1. Tak ada yang dianak emaskan dalam nasihat lalu dikecualikan, sebab semua mendapatkannya. Namun dengan makna , wujud, jenis, dan tuntutan yang berbeda-beda. Sebagaimana penjelasan yang akan datang.

Makna Kalimat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه : Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari Radhiallahu ‘Anhu

Dia adalah Tamim bin Aus bin Kharijah bin Sud bin Judzaimah Al Lakhmi Al Filisthini. Ad Dar artinya perut yang dagingnya tebal. Al Lakh adalah paha sebagaimana diungkapkan Ibnu Qahthan. Dia masuk Islam usia 9 tahun, dan merupakan seorang ahli ibadah. Kata Ibnu Sirin,  pada zaman Nabi orang yang   menghimpunkan Al Quran adalah Utsman, Zaid, dan Tamim Ad Dari. Wafat tahun 40 H. (Selengkapnya di Siyar A’lam An Nubala, 2/442-447)

أنَّ النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ : Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ  : Ad Diin adalah nasihat

Makna Ad Diin adalah:

  • As Sulthah wa Al Qahr yakni kekuasaan. Dintu al Qauma artinya saya menguasai kaum itu.
  • Al Khudhu’ yakni ketundukan terhadap kekuasaan tersebut . Allah Ta’ala berfirman:

فَلَوْلا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ

“Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)?” (QS. Al Waqi’ah (56): 86)

  • Al Jaza’ yakni balasan. (QS. Al Fatihah (1): 4)

Makna An Nashiihah adalah:

Al Qadhi ‘Iyadh Rahmahullah mengatakan:

ومعناها فى اللغة : الإخلاص ، من قولهم   نصحت العسل إذا صفيت

 Maknanya secara bahasa adalah Al Ikhlash (murni/bersih), diambil dari perkataan mereka; nashahtu al ‘asala idza shafaytu (Saya memurnikan madu ketika saya menjernihkan). (Al Qadhi ‘Iyadh,  Ikmal Mu’allim Syarh Shahih Muslim, 1/218. Maktabah Misykah)

An Nashiihah diambil dari kata nashaha. Nashaha syai’u  bermakna khalasha (memurnikan/menjernihkan/menyimpulkan). An Naashih yakni Al Khaalish minal ‘asali wa ghairih (yang membersihkan madu dan lainnya) (Lisanul ‘Arab, 2/615)

Imam Abu Sulaiman Al Khathabi Rahimahullah mengatakan, :

وَقِيلَ : إِنَّهَا مَأْخُوذَة مِنْ نَصَحْت الْعَسَلَ إِذَا صَفَّيْته مِنْ الشَّمْع

“Disebutkan bahwa An nashiihah diambil dari nashahtu al ‘asala idza shafaituhu min asy syam’i  (saya memurnikan madu dari lilin).”

Juga bermakna menjahit, berkata Imam Al Khathabi:

وَقِيلَ : النَّصِيحَة مَأْخُوذَة مِنْ نَصَحَ الرَّجُل ثَوْبه إِذَا خَاطَهُ

Disebutkan: bahwa an nashiihah diambil dari nashaha ar rajulu tsaubahu idza khaathahu (laki-laki itu menyimpulkan bajunya saat dia menjahitnya). (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 1/144. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Jadi nasihat adalah upaya untuk memurnikan sesuatu menjadi bersih dari kotoran dan mengaitkan/menyimpulkannya dengan kebenaran.

Syaikh Ismail Al Anshari Rahimahullah mengatakan:

النصيحة : تصفية النفس من الغش للمنصوح له .

“Nasihat adalah upaya pemurnian jiwa dari kekeruhan bagi yang dinasihati (Al Manshuh).” (At Tuhfah Ar Rabbaniyah , Syarh Hadits No. 7)

Selanjutnya:

قُلْنَا: لِمَنْ يَارَسُولَ اللهِ ؟ : Kami berkata: “Untuk siapa wahai Rasulullah?”        

Kami dalam ucapan di atas adalah para sahabat yang mendengarkan hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

قَالَ : لِلَّه:  Beliau bersabda: “untuk Allah “

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

قَالُوا : أَمَّا النَّصِيحَة لِلَّهِ تَعَالَى فَمَعْنَاهَا مُنْصَرِفٌ إِلَى الْإِيمَان بِهِ ، وَنَفْيِ الشَّرِيكِ عَنْهُ ، وَتَرْكِ الْإِلْحَاد فِي صِفَاته وَوَصْفِهِ بِصِفَاتِ الْكَمَال وَالْجَلَال كُلّهَا ، وَتَنْزِيهه سُبْحَانه وَتَعَالَى مِنْ جَمِيع النَّقَائِص ، وَالْقِيَام بِطَاعَتِهِ ، وَاجْتِنَاب مَعْصِيَته ، وَالْحُبّ فِيهِ ، وَالْبُغْض فِيهِ ، وَمُوَالَاة مَنْ أَطَاعَهُ ، وَمُعَادَاة مَنْ عَصَاهُ ، وَجِهَاد مَنْ كَفَرَ بِهِ ، وَالِاعْتِرَاف بِنِعْمَتِهِ ، وَشُكْره عَلَيْهَا ، وَالْإِخْلَاص فِي جَمِيع الْأُمُور ، وَالدُّعَاء إِلَى جَمِيع الْأَوْصَاف الْمَذْكُورَة ، وَالْحَثّ عَلَيْهَا ، وَالتَّلَطُّف فِي جَمْع النَّاس ، أَوْ مَنْ أَمْكَنَ مِنْهُمْ عَلَيْهَا .

“Mereka mengatakan: ada pun ‘nasihat untuk Allah Ta’ala’ maknanya adalah:

-memurnikan keimanan kepadaNya,

– mengingkari sekutu bagiNya,

– tidak mengingkari sifat-sifatNya, dan mensifatiNya dengan semua sifat-sifat sempurna dan agung, dan mensucikanNya dari semua kekurangan,

– menjalankan ketaatan, menjauhi  maksiat,

-mencintai karenaNya,

– marah juga karenaNya,

– memberikan loyalitas kepada orang yang taat kepadaNya,

-memusuhi orang yang membangkang kepadaNya,

-memerangi orang yang kufur kepadaNya,

-menerima nikmatNa dan mensyukurinya,

-ikhlas dalam semua urusan,

-mengajak kepada semua sifat-sifat tersebut dan  menganjurkannya,

– bersikap sopan kepada semua manusia, atau kepada siapa saja yang paling memungkinkan.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 1/144)

ولكتابه : “dan untuk kitabNya”

Disebutkan dalam kitab Al Minhaj-nya Imam An Nawawi Rahimahullah:

وَأَمَّا النَّصِيحَة لِكِتَابِهِ سُبْحَانه وَتَعَالَى فَالْإِيمَان بِأَنَّهُ كَلَام اللَّه تَعَالَى وَتَنْزِيله ، لَا يُشْبِههُ شَيْءٌ مِنْ كَلَام الْخَلْق ، وَلَا يَقْدِر عَلَى مِثْله أَحَد مِنْ الْخَلْق ، ثُمَّ تَعْظِيمه وَتِلَاوَته حَقّ تِلَاوَته ، وَتَحْسِينُهَا وَالْخُشُوع عِنْدهَا ، وَإِقَامَة حُرُوفه فِي التِّلَاوَة ، وَالذَّبّ عَنْهُ لِتَأْوِيلِ الْمُحَرِّفِينَ وَتَعَرُّض الطَّاعِنِينَ ، وَالتَّصْدِيق بِمَا فِيهِ ، وَالْوُقُوف مَعَ أَحْكَامه ، وَتَفَهُّم عُلُومه وَأَمْثَاله ، وَالِاعْتِبَار بِمَوَاعِظِهِ ، وَالتَّفَكُّر فِي عَجَائِبه ، وَالْعَمَل بِمُحْكَمِهِ ، وَالتَّسْلِيم لِمُتَشَابِهِهِ ، وَالْبَحْث عَنْ عُمُومه وَخُصُوصه وَنَاسِخه وَمَنْسُوخه ، وَنَشْر عُلُومه ، وَالدُّعَاء إِلَيْهِ وَإِلَى مَا ذَكَرْنَا مِنْ نَصِيحَته .

“Ada pun nasihat untuk kitabNya adalah:

– dengan mengimaninya bahwa dia merupakan firmanNya yang diturunkanNya,

-dan tidak ada satu ucapan makhluk pun yang menyerupainya,

-dan tak tak ada yang mampu melakukannya,

-kemudian dengan mengagungkan dan membacanya dengan sebenar-benarnya bacaan,

-lalu memperbagus bacaannya dan khusyu’ dan membacanya sesuai dengan huruf-hurufnya,

-membelanya dari ta’wil orang yang menyimpang dan penentangan orang yang suka mencela,

-membenarkan isinya,

-berhenti (tunduk) bersama hukum-hukumnya,

-memahami ilmu-ilmu dan perumpamaan (tamtsil) yang ada di dalamnya,

-mengambil pelajaran dari nasihatnya,

-memikirkan keajaibannya,

-mengamalkan yang muhkam,

-dan menerima yang mutasyabbih,

-mengkaji yang umum dan yang khusus, serta nasikh dan mansukhnya,

-menyebarkan ilmu-ilmunya,

-mengajak manusia kepadanya dan kepada semua nasihat yang telah kami sebutkan ini.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim , Ibid. Lihat juga Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arbain An Nawawiyah Hal. 51)

ولِرَسُوْلِهِ : “dan untuk RasulNya”

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

وَأَمَّا النَّصِيحَة لِرَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَصْدِيقه عَلَى الرِّسَالَة ، وَالْإِيمَان بِجَمِيعِ مَا جَاءَ بِهِ ، وَطَاعَته فِي أَمْرِهِ وَنَهْيه ، وَنُصْرَتِهِ حَيًّا وَمَيِّتًا ، وَمُعَادَاة مَنْ عَادَاهُ ، وَمُوَالَاة مَنْ وَالَاهُ ، وَإِعْظَام حَقّه ، وَتَوْقِيره ، وَإِحْيَاء طَرِيقَته وَسُنَّته ، وَبَثّ دَعَوْته ، وَنَشْرِ شَرِيعَته ، وَنَفْي التُّهْمَة عَنْهَا ، وَاسْتِثَارَة عُلُومهَا ، وَالتَّفَقُّه فِي مَعَانِيهَا ، وَالدُّعَاء إِلَيْهَا ، وَالتَّلَطُّف فِي تَعَلُّمهَا وَتَعْلِيمهَا ، وَإِعْظَامهَا ، وَإِجْلَالهَا ، وَالتَّأَدُّب عِنْد قِرَاءَتهَا ، وَالْإِمْسَاك عَنْ الْكَلَام فِيهَا بِغَيْرِ عِلْم ، وَإِجْلَال أَهْلهَا لِانْتِسَابِهِمْ إِلَيْهَا ، وَالتَّخَلُّق بِأَخْلَاقِهِ ، وَالتَّأَدُّب بِآدَابِهِ ، وَمَحَبَّة أَهْل بَيْته وَأَصْحَابه ، وَمُجَانَبَة مَنْ اِبْتَدَعَ فِي سُنَّته ، أَوْ تَعَرَّضَ لِأَحَدٍ مِنْ أَصْحَابه ، وَنَحْو ذَلِكَ .

“Ada pun nasihat untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah:

– dengan membenarkan risalahnya dan mengimani semua hal yang dibawanya,

-mentaatinya dalam perintah dan larangannya,

-membelanya ketika hidup dan matinya,

-memusuhi orang yang memusuhinya, memberikan kecintaan kepada orang yang mencintainya,

-mengagungkan haknya dan menghormatinya,

-menghidupkan kebiasaan dan sunahnya,

-menyemarakkan da’wahnya dan menyebarkan syariatnya,

-mengingkari tuduhan terhadapnya,

– menghidupkan ilmu-ilmunya dan mengkaji makna-maknanya,

-mengajak manusia kepadanya,

-lembut dalam mengajarkan dan mempelajarinya,

-meninggikannya dan memuliakannya,

-menjaga adab ketika membacanya,

– menahan diri membicarakannya tanpa ilmu,

– memuliakan keluarganya dan nasabnya,

-berakhlak dengan akhlaknya, beretika dengan etikanya,

-mencintai ahli bait dan para sahabatnya,

-menjauhi membuat bid’ah dalam sunahnya,

– atau menentang salah satu sahabatnya, dan yang semisalnya.” (Al Minhaj, Ibid. lihat juga Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 51)

(Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s