Al ‘Itishamu bi Hablillah

Di pembahasan sebelumnya telah disebutkan, setelah pilar takwinus syakhshiyyatil Islamiyyah (pembentukan kepribadian Islam), pilar lain yang menjadi penopang takwinul ummah (pembentukan umat) adalah takwinu ruhil jama’ah (membentuk semangat persatuan, kesatuan, atau kebersamaan).

Berpegang Kepada ‘Tali Allah’

Ruhul jama’ah (semangat persatuan, kesatuan, atau kebersamaan) akan tumbuh pada umat ini apabila mereka mau berpegang kepada ‘tali Allah’.

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran, 3: 103)

Apakah makna berpeganglah kamu semuanya kepada hablullah (tali Allah) pada ayat ini? Ada beberapa penafsiran para ulama terhadap ayat ini, sebagai berikut:

  1. Berpegang kepada hablullah maknanya adalah berpegang kepada agama Allah; penafsiran ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مَعْنَاهُ تَمَسَّكُوا بِدِينِ اللَّهِ

“Berkata Ibnu Abbas: ‘Maknanya berpegang teguhlah kalian kepada agama Allah’” [1]

Senada dengan penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tersebut, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di, Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar dalam Zubdatut Tafsir, dan Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz mengemukakan bahwa maknanya adalah berpegang kepada agama Islam dan Al-Qur’an. Mereka memaknainya dengan ‘Al-Qur’an’ karena terdapat beberapa hadits yang menunjukkan kepada makna itu, diantaranya adalah hadits Al-Haris Al-A’war, dari sahabat Ali secara marfu’ mengenai sifat Al-Quran, yaitu:

“هُوَ حَبْلُ اللهِ الْمتِينُ، وَصِرَاطُهُ الْمُسْتَقِيمُ”.

            “Al-Qur’an adalah tali Allah yang kuat dan jalan-Nya yang lurus.”

  1. Berpegang kepada hablullah maknanya adalah berpegang kepada al-kitab (Al-Qur’an) dan sunnah; makna seperti ini disebutkan dalam Tafsir Al-Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh; Tafsir Al-Muyassar, Kementrian Agama Saudi Arabia; Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah, Markaz Ta’dhimul Qur’an).[2]
  2. Berpegang kepada hablullah maknanya adalah berpegang kepada al-jama’ah; penafsiran ini dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: هُوَ الْجَمَاعَةُ، وَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّهَا حبل الله الذي أمر بِهِ، وَإِنَّ مَا تَكْرَهُونَ فِي الْجَمَاعَةِ وَالطَّاعَةِ خَيْرٌ مِمَّا تُحِبُّونَ فِي الْفُرْقَةِ

“Berkata Ibnu Mas’ud: ‘Dia (al-hablu) adalah al-jama’ah’. Ia pun berkata (menjelaskan, red): ‘Wajib bagi kalian bersatu dengan al-jama’ah (umat Islam, red), karena sesungguhnya jamaah merupakan tali Allah yang dengannya Allah menyampaikan perintah. Sesungguhnya sesuatu yang kalian benci bersama jama’ah dan ketaatan adalah lebih baik dibanding dengan sesuatu yang kalian senangi dalam kondisi perpecahan/tercerai berai”[3]

  1. Berpegang kepada hablullah maknanya adalah berpegang kepada janji Allah; penafsiran ini dikemukakan oleh Mujahid dan ‘Atha. Kalimat hablullah dengan makna tersebut diantaranya disebutkan di dalam firman Allah Ta’ala:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.” (QS Ali Imran, 3: 112).

Konteks ayat di atas berbicara tentang orang-orang Yahudi. Mereka akan senantiasa terkepung oleh kehinaan dan kenistaan di manapun mereka berada kecuali mendapatkan perjanjian atau jaminan keamanan dari Allah Ta’ala atau dari manusia. Merujuk kepada konteks ayat ini, maka makna berpegang kepada janji Allah adalah berpegang kepada ketentuan-ketentuan yang Allah Ta’ala tetapkan kepada manusia.

Makna seperti ini senada dengan penafsiran Muqatil bin Hayyan. Ia berkata,

بِحَبْلِ اللَّهِ أَيْ: بِأَمْرِ اللَّهِ وَطَاعَتِهِ

“Bi hablillah adalah berpegang kepada perintah Allah dan mentaatinya.” [4]

*****

Dalam rasmul bayan madah al-i’thisham bi hablillah ini, KH. Hilmi Aminuddin mengaitkan hablullah (tali Allah) ini dengan syahadatain (dua kalimat syahadat) yang merupakan intisari agama-Nya, dinul Islam; ia adalah dua kalimat agung yang harus diimplementasikan oleh hamba-hamba-Nya dengan berpegang teguh kepada kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya; kalimat la ilaha illa-Llah Muhammadur Rasulullah inilah yang mengikat manusia menjadi al-jama’ah, masyarakat atau umat yang satu.

Syahadatain adalah Tali Ikatan dalam Takwinul Ummah

Syahadat la ilaha illa-Llah Muhammadur Rasulullah adalah tali yang mampu mengikat hamba-hamba Allah Ta’ala menjadi umat yang satu dengan ikatan yang sangat kuat. Dengan dua kalimat inilah ruhul jama’ah akan tumbuh karena tauhidullah (pengesaan Allah) yang terkandung di dalamnya menggiring mereka kepada faktor-faktor pemersatu sebagai berikut.

Pertama, tauhidun niyyah (kesatuan niat, motivasi, tujuan, tekad, dan keinginan) untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala demi menggapai keridhaan-Nya.

قُلْ إِنِّىٓ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ

Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Az-Zumar, 39: 11)

Kedua, tauhidul ‘aqidah (kesatuan iman, keyakinan, dan millah): Rabb mereka adalah Allah Ta’ala dan agama mereka adalah Islam; agama tauhid.

إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ

Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (QS. Al-Anbiya, 21: 92)

Kata ummah dalam ayat ini bermakna millah (agama).[5] Umat Islam sepanjang zaman memiliki millah atau aqidah yang sama yakni agama tauhid.

Ketiga, tauhidul fikrah (kesatuan pemikiran, gagasan, ide, konsep, opini, atau pandangan) dengan landasan iman. Mereka memandang al-haqa’iqul kubra (berbagai persoalan besar)— yakni: al-uluhiyyah (ketuhanan), ar-risalah (kerasulan), al-‘ibadah (ibadah), al-kaunu (alam), al-insan (manusia), dan al-hayah (kehidupan)—dengan al-bashair (pengertian, pengetahuan, dan kecerdasan) yang dilandasi wahyu.

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’”. (QS, Yusuf, 12: 108)

Keempat, tauhidul kalimah (kesatuan kata), yakni berupaya menjunjung tinggi kalimat Allah, menjalankan nilai-nilai Al-Qur’an, dan menegakkan agama Islam.

Allah Ta’ala berfirman,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syura, 42:13)

Yang dimaksud dengan menegakkan agama Islam di sini adalah mengesakan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta menaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya atau menegakkan semua syariat baik yang ushul (dasar) maupun yang furu’ (cabang), yaitu kamu menegakkannya oleh dirimu dan berusaha menegakkannya juga pada selain dirimu serta saling bantu-membantu di atas kebaikan dan takwa. Agar agama dapat tegak secara sempurna. Termasuk di antara sarana berkumpul di atas agama dan tidak berpecah adalah apa yang diperintahkan syari’ (Allah dan Rasul-Nya) untuk berkumpul di waktu haji, pada hari raya, shalat Jum’at dan jamaah, berjihad dan ibadah-ibadah lainnya yang tidak mungkin sempurna kecuali dengan berkumpul bersama dan tidak berpecah belah.[6]

Kelima, tauhidul ummah (kesatuan kelompok, kaum, dan komunitas). Allah Ta’ala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran, 3: 110)

Keenam, tauhidul harakah (kesatuan gerak perjuangan). Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah, 9: 71)

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَٰنٌ مَّرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. As-Shaf, 61: 4)

Ringkasnya, kalimat la ilaha illa-Llah menjadikan umat ini memiliki tauhidul ‘ibadah (kesatuan pengabdian). Sementara itu, kalimat Muhammadur Rasulullah menjadikan umat ini memiliki tauhidur risalah (kesatuan risalah) dan tauhidul uswah (kesatuan contoh teladan), yakni risalah dan uswah dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari pemaparan di atas kita memahami, ruhul jama’ah (semangat persatuan, kesatuan, dan kebersamaan) tidak mungkin akan tumbuh tanpa diawali al-i’tisham bi habli-Llah (berpegang kepada tali Allah).

Catatan Kaki:

[1] Lihat: Tafsir Al-Baghawi, Darut Thaybah, 1997, juz 2, hal. 103.

[2] Lihat: http://www.tafsirweb.com

[3] Lihat: Tafsir Al-Baghawi, Darut Thaybah, 1997, juz 2, hal. 103.

[4] Ibid.

[5] Lihat: Kamus Kosakata Al-Qur’an, Drs. Muhammad Thalib, Uswah, Yogyakarta.

[6] Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an, Ust. Marwan Hadidi bin Musa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s