Al-Akhlaqul Harakiyyah

Selain karakter dasar yang telah dijelaskan di bagian pertama tulisan ini, hizbullah pun memiliki al-akhlaqul harakiyyah (karakter pergerakan), yakni sikap dan akhlak mereka dalam menjalani amal perjuangan di jalan Allah Ta’ala. Al-Akhlaqul harakiyyah ini diantaranya terangkum dalam firman Allah Ta’ala surah Al-Anfal ayat 45 – 47,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا    تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal, 8: 45 – 47)

Berikut ini penjelasannya secara ringkas:

Pertama, ats-tsabat (teguh), yakni ‘adamut taraddud, tidak ragu-ragu di medan perjuangan; tetap sabar bertahan dan tidak mundur; tegar menghadapi rintangan dengan gagah berani dan tidak takut atau gentar. Tentu saja hal ini dilakukan setelah melakukan persiapan yang matang.[1]

Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar rahimahullah dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir mengulas ayat ini,

فَاثْبُتُوا۟ (maka berteguh hatilah kamu), yakni teguhlah menghadapi mereka dan janganlah kalian takut. Dan bisa jadi keteguhan dalam menghadapi mereka hanya bisa diperoleh dengan menyiapkan siasat dan bergabung dengan pasukan lain.[2]

Kedua, dzikrullah (ingat Allah), yakni ‘adamul ghaflah (tidak lalai), tidak tertipu oleh dunia. Mereka banyak mengingat dan berdo’a kepada Allah Ta’ala karena sadar hanya Dialah yang sanggup menolong untuk mengalahkan musuh mereka. Dengan banyak berdzikir dan berdo’a mereka yakin akan mendapatkan apa yang diinginkan dan terhindar dari apa yang ditakutkan.[3]

Ketahuilah, tsabat (keteguhan hati) hanya akan tertanam dalam jiwa jika kita banyak mengingat Allah Ta’ala. Mengingat pertolongan, keagungan, dan kuasa-Nya. Hal ini sebagaimana dilakukan Thalut dan balatentaranya,

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdo’a: ‘Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.’” (QS. Al-Baqarah, 2: 250)

Gambaran tentang keteguhan hati yang lahir dari dzikrullah, adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang pengalamannya mengikuti Perang Mu’tah, “Aku turut serta dalam perang Mu’tah. Ketika pasukan musyrikin mendekat, kami melihat perbekalan, perlengkapan, dan persenjataan mereka tidak ada tolok bandingnya, sehingga aku sendiri merasa silau. Ketika itu Tsabit bin Arqam bertanya kepadaku: ‘Hai Abu Hurairah, tampaknya engkau heran melihat pasukan musuh begitu besar bukan?’ Aku menjawab: ‘Ya benar.’ Tsabit berkata,”Itu karena engkau tidak turut serta dalam perang Badar bersama kami. Ketika itu kami menang bukan karena besarnya jumlah pasukan!”

Allah Ta’ala dalam surat Ar-Ra’ad ayat 28 menyebutkan bahwa dzikir dapat memberikan ketenangan dan ketentraman pada hati dan jiwa manusia,

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah bahwasanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram”

Ketiga, tha’atullahi wa ar-rasuli (taat kepada Allah dan rasul), yakni ‘adamul ma’shiyah (tidak bermaksiat) kepada Allah dan rasul-Nya.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam seluruh gerak langkah perjuangannya—ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan seluruh hal ihwal mereka—hizbullah selalu berupaya untuk taat kepada Allah dan taat kepada rasul-Nya, tanpa penyepelean.

Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab, 33: 36)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur, 24: 51).

Hizbullah selalu berupaya untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya karena mengharapkan ridho dari-Nya,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَن يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَاباً أَلِيماً

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Fath, 48: 17)

Mereka berharap diikutkan ke dalam golongan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan mendapatkan keselamatan di akhirat kelak. Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ  يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku masuk surga, kecuali yang enggan,” Para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan itu?” Nabi menjawab, “Siapa yang taat kepadaku, masuk surga dan siapa yang bermaksiat (membangkang) kepadaku berarti ia enggan.”  (HR. Bukhari)

Keempat, ‘adamut tanaazu’ (tidak saling berbantahan), yakni selalu menjaga al-wihdah (kesatuan).

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…” (QS. Al-Anfal, 8: 46)

Hizbullah selalu menjaga diri dari perilaku saling bersilang pendapat, berselisih atau saling berdebat diantara mereka, karena hal itu akan menyebabkan tercerai berainya persatuan dan ikatan hati, serta melemahnya kekuatan. Allah Ta’ala melarang mereka saling berselisih pendapat kerena itu menjadi sebab kekalahan dalam perjuangan.

Perselisihan yang harus ditinggalkan terutama adalah perselisihan dalam urusan pokok agama; karena ia tidak hanya menimbulkan lemahnya kekuatan; lebih jauh dari itu, ia bahkan akan menggiring pelakunya menuju neraka. Na’udzubillahi min dzalik! Perhatikanlah dua hadits berikut ini,

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

Dari Auf bin Malik radhiyallahu anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang-orang Yahudi telah bercerai-berai menjadi 71 kelompok, satu di dalam sorga, 70 di dalam neraka. Orang-orang Nashara telah bercerai-berai menjadi 72 kelompok, 71 di dalam neraka, satu di dalam sorga. Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad di tanganNya, umatku benar-benar akan bercerai-berai menjadi 73 kelompok, satu di dalam sorga, 72 di dalam neraka. Beliau ditanya: Wahai Rasulullah! Siapa mereka itu?, beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah”. (HR. Ibnu Majah no. 3992; Ibnu Abi Ashim, no. 63; Al-Lalikai 1/101).[4]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh umatku akan ditimpa oleh apa yang telah menimpa Bani Israil, persis seperti sepasang sandal. Sehingga jika diantara mereka ada yang menzinahi ibunya terang-terangan, dikalangan umatku benar-benar ada pula yang akan melakukannya. Dan sesungguhnya Bani Isra’il telah bercerai-berai menjadi 72 agama, dan umatku akan bercerai-berai menjadi 73 agama, semuanya di dalam neraka kecuali satu agama”. Para sahabat bertanya: “Siapa yang satu itu wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Apa yang saya dan para sahabatku berada di atasnya”. (Hadits Shahih Lighairihi riwayat Tirmidzi, al-Hâkim, dan lainnya).[5]

Dua hadits di atas menyebutkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 firqah (kelompok) atau millah (agama/ajaran). Hal ini mengisyaratkan bahwa perselisihan yang terjadi hingga menyebabkan timbulnya ajaran atau agama baru yang telah keluar sama sekali dari pokok-pokoknya. Wallahul musta’an…

Ketidaksukaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perselisihan dan perbantahan tergambar dari hadits berikut ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَنَازَعُ فِي الْقَدَرِ فَغَضِبَ حَتَّى احْمَرَّ وَجْهُهُ حَتَّى كَأَنَّمَا فُقِئَ فِي وَجْنَتَيْهِ الرُّمَّانُ فَقَالَ أَبِهَذَا أُمِرْتُمْ أَمْ بِهَذَا أُرْسِلْتُ إِلَيْكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حِينَ تَنَازَعُوا فِي هَذَا الْأَمْرِ عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ أَلَّا تَتَنَازَعُوا فِيهِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami sementara kami sedang berselisih dalam masalah taqdir, kemudian beliau marah hingga wajahnya menjadi merah sampai seakan akan pipinya seperti buah delima yang dibelah, lalu beliau bertanya, ‘Apakah kalian diperintahkan seperti ini’—atau beliau bertanya, ‘Apakah aku diutus kepada kalian untuk seperti ini? Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah lantaran perselisihan mereka dalam perkara ini. Karena itu, aku tekankan pada kalian untuk tidak berselisih dalam masalah ini.’” (HR. Tirmidzi)

Perdebatan lebih sering melukai orang yang didebat karena setiap orang selalu berusaha mempertahankan pendapatnya kendati salah. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi umatnya agar menjauhi perdebatan,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya.” (HR. Abu Dawud, no. 4800)

Jika pun harus berdebat, maka perhatikanlah rambu-rambunya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl, 16: 125)

Kelima, as-shabru (sabar), yakni ‘adamul jaza’i (tidak berkeluh kesah). Mereka selalu bersabar dalam perjuangan; bertahan menghadapi beragam kesempitan dan kesulitan, yakin dengan bantuan, pertolongan, dan dukungan-Nya.

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“…bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar… (QS. Al-Anfal, 8: 46)

Karakter ini adalah karakter hizbullah sepanjang zaman, sebagaimana digambarkan di ayat yang lain,

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran, 3: 146)

Mereka selalu bersabar dalam seluruh situasi dan kondisi apa pun yang dihadapinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR Muslim)

Syaikh Yusuf Al-Qaradawi hafizhahullah dalam bukunya As-Shabru fil Quran membagi sabar menjadi enam macam, yaitu :

  1. Sabar Menerima Cobaan Hidup. Seperti lapar, haus, rasa sakit dan kerugian harta. Mengenai hal ini Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (QS. Al-Baqarah, 2: 155 – 156)

  1. Sabar dari Keinginan Hawa Nafsu. Yakni keinginan kepada segala macam kenikmatan hidup, kesenangan dan kemegahan dunia.

Segala keinginan tersebut harus kita kendalikan dengan kesabaran agar tidak menyebabkan lalai dari mengingat Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun, 63: 9)

  1. Sabar dalam Taat Kepada Allah Ta’ala.Yakni bersungguh-sungguh menghadapi rintangan yang menggoda, baik dari dalam maupun dari luar diri kita, seperti rasa malas, mengantuk dan kesibukan yang menyita waktu untuk beribadah.

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam, 19: 65)

  1. Sabar dalam Berdakwah. Hal ini sebagaimana dinasihatkan oleh Luqman kepada anaknya yang disebutkan di dalam Al-Qur’an,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman, 31: 17)

  1. Sabar dalam Perang. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran, 3: 200)

  1. Sabar dalam Pergaulan. Salah satu prinsip yang diajarkan Islam dalam pergaulan disebutkan di dalam ayat berikut,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa’, 4: 19)[6]

Keenam, ‘adamul bathar (tidak sombong), yakni selalu tawadhu (rendah hati) dan Ketujuh, ‘adamur riya (tidak pamer), yakni selalu menanamkan al-ikhlash (keikhlasan).

Landasan perjuangan hizbullah adalah keikhlasan; bukan untuk mencari kemulian diri atau kelompok; bukan pula untuk membanggakan pribadi atau golongan.

Oleh karena itu, dalam perjuangan mereka, tidak ada tempat sama sekali bagi rasa angkuh, sombong, maupun riya’. Tidak ada ruang sama sekali bagi semangat, gairah, fanatisme, kegeraman, dan kemarahan jika landasannya adalah fanatisme semata yang tidak didasari iman.

Mereka berjuang bukan untuk mengundang pujian dan decak kagum manusia, atau untuk meraih penghargaan dan gelar mentereng serta popularitas. Seluruhnya semata-mata diniatkan untuk meninggikan kalimat Allah Ta’ala.

Renungkanlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً ، فَأَىُّ ذَلِكَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا ، فَهْوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ »

Dari Abu Musa, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia berkata, “Ada seseorang yang berperang (berjihad) untuk hamiyyah (kebanggan/fanatisme kelompok, kebangsaan, atau kesukuan); ada pula yang berperang untuk syaja’ah (disebut pemberani atau berjiwa pahlawan); ada pula yang berperang untuk riya-an (dilihat dan dipuji), lalu manakah yang disebut jihad di jalan Allah? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Siapa yang berperang supaya kalimat Allah itu tinggi (mulia) itulah yang disebut jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari no. 7458 dan Muslim no. 1904).

Sementara hizbus syaithan, mereka berjuang untuk mencari kemulian diri atau kelompok; untuk membanggakan pribadi atau golongan. Maka, mereka bersikap angkuh, sombong, dan selalu riya’ di hadapan manusia. Semangat, gairah, kegeraman, dan kemarahan mereka landasanannya adalah landasannya adalah fanatisme buta.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُونُوا۟ كَالَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيٰرِهِم بَطَرًا وَرِئَآءَ النَّاسِ

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia.” (QS. Al-Anfal, 8: 47)

Mereka—yang disebutkan dalam ayat ini—adalah orang-orang Quraisy, mereka pergi ke Perang Badar untuk melindungi kafilah dagang mereka, mereka pergi dengan membawa wanita-wanita penyanyi dan alat-alat musik. Ditengah jalan mereka mendapat berita bahwa kafilah mereka telah selamat dari serangan kaum muslimin, namun mereka tidak langsung kembali ke Makkah, akan tetapi mereka mengatakan bahwa mereka harus meneruskan perjalanan sampai di Badar untuk minum minuman keras dan mendengar alunan nyanyian dari para penyanyi wanita, agar orang-orang Arab lainnya mengetahui bahwa mereka telah pergi untuk berperang; dan hal ini merupakan bentuk kesombongan dan keangkuhan serta mengharap pujian orang lain serta dapat membangga-banggakan diri di depan mereka, dan ini merupakan riya’.[7]

Kedelapan, ‘adamus shaddi (tidak merintangi dari jalan Allah), mereka selalu berupaya mewujudkan iklim al-munasharah (saling membantu di jalan Allah).

Menghalang-halangi manusia dari agama Allah adalah perilaku asasi orang-orang kafir.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا ضَلَالًا بَعِيدًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa, 4: 167)

Contoh perilaku menghalangi manusia dari jalan Allah adalah seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan ucapan mereka: Kami tidak mendapatkan ciri-cirinya dalam kitab kami, dan kenabian hanya diperuntukkan bagi keturunan Harun dan Dawud” serta ucapan mereka bahwa syari’at Nabi Musa tidak dinasakh (dihapus) selamanya. Mereka pun menyembunyikan sifat-sifat Nabi akhir zaman yang disebutkan dalam kitabnya.[8]

Hizbullah bisa saja terjerumus kepada sikap menghalangi manusia dari jalan Allah Ta’ala jika mereka tidak mewaspadai dirinya dari sikap hasad (iri/dengki) terhadap sesama muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ

“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasadi.” (Majmu’ Al Fatawa, 10: 111).

Mu’min yang hasad—secara tidak sadar, karena meluapnya hasad dalam dirinya—dapat bertindak mengahalang-halangi orang yang sedang beramal shalih, berjuang dan berdakwah di jalan Allah Ta’ala. Meskipun tindakannya itu kemudian dibungkus dengan kemasan ‘nasihat dan amar ma’ruf nahi munkar’.

Apakah orang mu’min bisa berlaku hasad? Perhatikanlah nasihat generasi salaf berikut ini,

وَقد قيل لِلْحسنِ الْبَصْرِيِّ: أيحسد الْمُؤمن فَقَالَ مَا أنساك إخوة يُوسُف لا أَبَا لَك وَلَكِنْ عَمِّه فِي صدرك فَإِنَّهُ لَا يَضرُّك مَا لم تَعْدُ بِهِ يدًا وَلِسَانًا، فَمن وجد فِي نَفسه حسدا لغيره فَعَلَيهِ أَن يسْتَعْمل مَعَه التَّقْوَى وَالصَّبْر فَيكْرَهَ ذَلِك من نَفسه،

Pernah ditanyakan kepada Al-Hasan Al-Bashri, “Apakah seorang mukmin itu bisa hasad (dengki)?” Beliaupun menjawab: “Tidakkah engkau ingat bagaimana kisah saudara saudaranya Yusuf? (Hasad) tidak bisa dihindari (oleh seorang mukmin sekalipun). Namun sembunyikanlah hasad itu dalam dadamu. Selama hasad itu tidak dilampiaskan (dengan tangan dan lisan), maka penyakit itu tidak akan membahayakanmu. Barangsiapa yang mendapati pada dirinya penyakit hasad terhadap orang lain, maka hadapilah dengan taqwa dan kesabaran. Hendaklah ia membenci sifat hasad tersebut pada dirinya. [9]

Oleh karena itu, pegang teguhlah nasihat teladan utama kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: اَلْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ ، حَالِقَةُ الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.

Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong; pemotong agama dan bukan pemotong rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian. (HR. at-Tirmidzi, no. 2510, dan Ahmad, I/165, 167)

Hizbullah selalu saling bantu dalam perjuangan kebenaran dan keadilan, sebagian mereka merupakan penolong bagi sebagian yang lain. Hati mereka bersatu dalam kasih sayang karena agama. Saling mendukung karena disatukan oleh iman.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah, 9: 71)

Demikianlah karakter hizbullah, generasi pewaris risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah itulah generasi pemenang.

Wallahu a’lam….

Catatan Kaki:

[1] Silahkan baca: Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia), Tafsir Al-Mukhtashar (Markaz Tafsir), Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir (Syaikh Muhammad Sulaiaman Al-Asyqar), Tafsir Al-Wajiz (Syaikh Wahbah Az-Zuhaili), An-Nafahatul Makkiyah (Syaikh Muhammad bin Shalih Asy-Syawi), Tafsir As-Sa’di (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di), Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an (Marwan Hadidi bin Musa), dan Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu (Depag RI) yang dimuat di tafsirweb.com.

[2] Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, hal. 182, Darun Nafais, Yordania

[3] Baca Lampiran risalah berjudul: Do’a adalah Senjata Kami!, yang menjelaskan teladan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu mengiringi seluruh gerak langkah perjuangannya dengan do’a dan dzikrullah.

[4] Hadits ini berderajat Hasan. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no: 3226

[5] Dishahihkan oleh Imam Ibnul Qayyim dan asy-Syathibi, dihasankan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi dan Syaikh al-Albani. Syeikh Salim al-Hilali menulis kitab khusus membela hadits ini dalam sebuah kitab yang bernama “Daf’ul Irtiyab ‘An Haditsi Maa Ana ‘Alaihi Wal Ash-hab”

[6] Lihat: Sabar dalam Islam, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy, Rabbani Press.

[7] Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, hal. 183, Darun Nafais, Yordania

[8] Lihat: Ibid, hal. 104.

[9] Lihat: Amradhul Qalb wa Syifauha, Ibnu Taimiyyah, dikutip dari shahihfiqih.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s