Asbabul Jahiliyyah

(Sebab-sebab Munculnya Kejahiliyahan)

Makna Jahiliyyah

Umar ibn Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata,

إنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الْجَاهِلِيَّةَ

“Sesungguhnya ikatan Islam itu hanyalah akan terurai satu per satu apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyyah.”

Ungkapan Umar di atas adalah peringatan bagi umat Islam sepanjang zaman agar mewaspadai kejahiliyyahan yang dapat memusnahkan agama. Kita hendaknya memahami dan mengenal apa itu jahiliyyah agar mampu menjaga agama ini dari hal-hal yang dapat merusaknya cepat atau lambat.

*****

Kata jahiliyyah berasal dari kata al-jahlu yang maknanya adalah kebodohan atau tidak adanya ilmu (‘adamul ma’rifah). Kata jahiliyyah awalnya merujuk pada situasi dan kondisi bangsa Arab sebelum kedatangan Islam; mereka tidak mengenal al-khaliq dengan benar, tidak tahu bagaimana beribadah kepada-Nya, serta tidak mengenal syariat atau pedoman hidup yang sebenarnya.

Namun jahiliyyah juga bisa berupa sifat yang ada pada seseorang yang sudah memeluk Islam. Perilaku menyimpang dari syariat seperti meratapi mayit, menghina dan berbangga-bangga dengan nasab, pertikaian karena fanatisme golongan, tabarruj, atau perilaku-perilaku buruk lainnya disebut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  dengan ungkapan jahiliyyah.

Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

النِّيَاحَةُ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ

“Meratapi mayit termasuk tradisi jahiliyah.” (HR. Ibn Majah)

Dalam riwayat lain, dari Abu Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ

“Ada empat kebiasaan umatku yang merupakan tradisi jahiliyah, yang tidak akan mereka tinggalkan: menyombongkan nasab, mencela orang karena nasab, meminta hujan dengan bintang, dan meratap.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Suatu ketika, karena sangat marah, sahabat Abu Dzar pernah menghina ibu dari sahabat Bilal radhiyallahu ‘anhuma. Peristiwa inipun dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menasehati Abu Dzar,

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Kamu manusia yang memiliki salah satu karakter jahiliyah.” (HR. Bukhari)[1]

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallalalhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim). Untuk memahami makna mitatan jahiliyyah dalam hadits ini, silahkan lihat catatan kaki.[2]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadist Jabir bin Abdullah radhiallahu  ‘anhu berkata,

كُنَّا فِي غَزَاةٍ، فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنَ المُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَار! فقَالَ الأَنْصَارِيُّ: يَا لَلأَنصار! وَقَالَ المُهَاجِرِيِّ: يَا لَلْمُهَاجِرِينَ! فَسَمِعَ ذَاكَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم-، فقَالَ: مَا بَالُ دَعْوَى جَاهِلِيَّةٍ؟ قَالُوا: يَا رَسُولَ الله! كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ المُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنصَارِ. فَقَالَ: دَعُوهَا، فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

“Kami berada pada suatu peperangan, maka seorang laki-laki Muhajirin mendorong seorang laki-laki Anshar, kemudian berkata orang Anshar tersebut, ‘Wahai kaum Anshar’, dan berkata pula muhajirin tersebut, ‘Wahai kaum Muhajirin’, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar hal tersebut. Kemudian bersabda, ‘Apa-apaan ini seruan jahiliyyah?’. Mereka berkata, ‘Laki-laki dari Muhajirin mendorong seorang Anshar’. Beliau bersabda, ‘Tinggalkanlah karena itu perbuatan busuk.’” (Muttafaqun ‘alaih)

Mengapa Masyarakat Pra Islam Terjerumus Kepada Perilaku Jahiliyyah?

Diantara sebab-sebab munculnya kejahiliyyahan pada mereka diantaranya adalah hal-hal berikut ini:

Pertama, dzannus su-i billah (asumsi/sangkaan-sangkaan yang buruk kepada Allah). Mereka memiliki pengetahuan tentang Allah Ta’ala namun hanya berdasarkan sangkaan semata dan tidak berdasarkan ilmu dan petunjuk yang benar.

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus, 10: 36)

Diantara contoh sangkaan-sangkaan buruk mereka kepada Allah Ta’ala adalah mereka menyangka bahwa Allah Ta’ala membutuhkan sekutu,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar, 39: 3)

Mereka pun menyangka bahwa para malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah sehingga mereka pun menyembahnya.

فَرَأَيْتُمُ اللاتَ وَالْعُزَّى (١٩) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأخْرَى (٢٠) أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الأنْثَى (٢١) تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى (٢٢) إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (٢٣)ْ

“Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS. An-Najm, 53: 19 – 23)

Berawal dari sangkaan-sangkaan buruk kepada Allah Ta’ala yang tak berdasar itu, lahirlah sangkaan-sangkaan buruk lainnya. Diantaranya adalah mereka berprasangka buruk kepada agama Allah dan rasul-Nya.

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS. Al-Fath, 48: 6)

Syaikh Wahbah Zuhaili berkata tentang ayat ini, “Allah menjelaskan bahwa Allah mengadzab orang-orang munafik baik laki-laki maupun perempuan, laki-laki musyrik maupun perempuan yang mereka dengki kepada orang-orang yang beriman dan yang mereka menyerang kaum muslimin, dan yang mereka menyangka dengan sangkaan buruk kepada Allah yang bahwasanya mereka menganggap bahwa Allah tidak akan menolong agama-Nya, tidak juga meninggikan kalimat-Nya, dan Allah menjadikan pengikut kebenaran di atas pengikut kebathilan.”[3]

Kedua, al-istighna (merasa cukup). Sehingga tidak merasa butuh dan perlu kepada hidayah Allah Ta’ala.

Mereka bersikap melampaui batas dan sombong di hadapan ayat-ayat Tuhannya; tidak mau mendengar dan memikirkannya. Mereka merasa telah mapan dan nyaman dengan apa yang ada di sekelilingnya karena memiliki kekayaan dan harta.

كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ ﴿٦﴾ أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ ﴿٧﴾

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena Dia melihat dirinya serba cukup.” (QS Al-‘Alaq, 96: 6-7)

Mereka berkilah ketika diseru kepada Islam,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul’. Mereka menjawab: ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah, 5: 104)

Ketiga, al-istikbar (kesombongan). Merasa diri besar sehingga menolak kebenaran seraya melecehkan orang lain.

Inilah ideologi Iblis yang merasa diri lebih baik dari Adam, sehingga berani menyelisihi dan membangkang kepada perintah Allah azza wa jalla untuk bersujud kepadanya,

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Menjawab iblis, ‘Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’”. (QS. Al-A’raf, 7: 12)

Inilah ideologi Fir’aun dan para pengikutnya, mereka mengingkari bukti-bukti kekuasaan Allah Ta’ala yang ditunjukkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam karena mereka saat itu bisa melakukan apa saja dan merasa lebih tinggi dibanding utusan-Nya itu.

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (QS. An-Naml, 27: 14).

Inilah ideologi kafir musyrikin pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berpaling dari seruan Al-Qur’an karena memandang ajaran nenek moyangnya lebih baik dari ajaran Islam, padahal mereka belum memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Sikap mereka hanya didasari fanatisme dan keangkuhan belaka.

بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ

“Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.” (QS. Shad, 38: 2)

Dalam Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Depag RI dijelaskan, “Sekalipun mengetahui kedudukan Al-Qur’an, tetapi orang-orang yang kafir tetap dalam kesombongan mereka dengan mengingkari wahyu dan menampakkan permusuhan terhadap rasulullah dan ajaran yang di-sampaikannya. Mereka berbuat demikian salah satunya karena mereka menilai ajaran nabi mengancam eksistensi agama nenek moyang mereka dan patung sesembahan mereka.” [4]

Sedangkan Syaikh Wahbah Az-Zuhaili berkomentar, “Sesungguhnya orang-orang kafir dalam ketinggian yang menipu, yaitu kesombongan dan permusuhan serta pertikaian yang sengit.”[5]

Keempat, rahbaniyatul mubtada’ah (sistem kerahiban/kependetaan yang diada-adakan).

Hal ini terutama terjadi kepada kalangan nasrani. Mereka menjadikan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah Ta’ala yang berhak menetapkan hukum halal dan haram tanpa merujuk kepada hukum-hukum-Nya. Mereka mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah; dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan-Nya.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah, 9: 31)

Adiy bin Hatim -seorang Nasrani yang kemudian masuk Islam pada masa Rasulullah-mengomentari ayat di atas dengan mengatakan: “Mereka tidak menyembah para pendeta dan rahib.” Rasulullah kemudian menjawabnya,

بَلَى اِنَّهُمْ حَرَّمُوْا عَلَيْهِمُ اْلحَلاَلَ وَ اَحَلُّوا اْلحَرَامَ فَاتَّبَعُوْهُمْ؟ فَذلِكَ عِبَادَتُهُمْ اِيَّاهُمْ.

“Betul. Tetapi bukankah mereka orang-orang ‘alim dan para rahib itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka (pengikutnya) mengikutinya? Demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Jarir)

Sistem kerahiban dan kependetaan seperti ini menggiring mereka kepada kejahiliyyahan dan semakin menjauhkan mereka dari ajaran yang benar.

Kelima, al-ahwa (hawa nafsu) yang diperturutkan.

Allah Ta’ala menjelaskan ahlul ahwa tersebut dengan firman-Nya,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah, 45: 23)

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili  menjelaskan ayat ini, “Allah menelantarkannya, tidak membimbingnya menuju pengetahuan yang benar dan memilihkan kesesatan untuknya serta mengunci pendengaran dan hatinya sehingga dia tidak mendengar bimbingan yang bermanfaat baginya, tidak dapat berpikir dan memahami petunjuk. Dia juga menjadikan penglihatannya tertutup sehingga tidak dapat melihat suatu tuntunan. Lalu siapa yang akan menunjukkan dan membimbingnya setelah Allah menyesatkannya? Apakah kalian tidak mengambil pelajaran? Kata man adalah isim istifham yang berfungsi sebagai nafi. Maknanya adalah tidak ada satupun yang menunjukkannya. Maka sebaiknya kita merenung sampai kita benar-benar mengetahui hakikat suatu keadaan. Maqatil berkata: ‘Ayat ini diturunkan untuk Harits bin Qays As-Sahmiy yang merupakan salah satu orang yang mengolok-olok, karena dia menyembah sesuatu sesuai hawa nafsunya’. Sa’id bin Jabir berkata: ‘Ayat ini diturunkan untuk kaum Quraisy yang terkadang menyembah batu. Jika mereka menemukan sesuatu yang lebih baik, mereka mengabaikan sesuatu yang pertama dan menyembah yang akhir. Adapun orang yang dikunci pendengaran dan hatinya adalah Abu Jahal.’”[6]

Mereka berbuat dalam agamanya sesuai dengan hawa nafsunya, tidaklah dia menginginkan sesuatu melainkan akan melampiaskannya tanpa memandang rasa cinta dari Allah dan keridhaan-Nya atau kebencian dan kemurkaan-Nya.[7]

Perilaku seperti itulah yang membuat mereka tenggelam dalam kejahiliyyahan.

Keenam, at-taqalid (mengikuti—tradisi, adat kebiasaan, ajaran—dengan fanatisme buta).

Di point sebelumnya telah dijelaskan bahwa jika mereka diseru kepada Islam, mereka segera menolak tanpa mau memikirkannya terlebih dahulu seraya menyombongkan diri dan taqlid kepada tradisi, adat kebiasaan, dan ajaran yang mereka dapati dari nenek moyang,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul’. Mereka menjawab: ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah, 5: 104)

Allah Ta’ala mengingatkan orang-orang yang berperilaku seperti itu dengan penghisaban yang akan terjadi kepada mereka di akhirat kelak,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra, 17: 36).

Al-Jahlu ‘anil Haq

Enam hal di atas menyebabkan mereka berada dalam kondisi al-jahlu ‘anil haq (bodoh terhadap kebenaran), sehingga mereka diliputi oleh kejahiliyyahan dari berbagai sisi: persangkaannya dzannul jahiliyyah; hukumnya hukmul jahiliyyah; ibadanya ‘ibadatul jahiliyyah; kebanggaannya hamiyyatul jahiliyyah; bersoleknya tabarrujul jahiliyyah; dan ikutannya taqalidul jahiliyyah.

*****

Mereka  berada dalam dzannul jahiliyyah (persangkaan jahiliyyah); menyangka hal-hal yang tidak benar kepada Allah Ta’ala saat menghadapi berbagai peristiwa yang menimpa mereka. Seperti perkataan Mu’tab bin Qusyair dan orang-orang sejenisnya saat kekalahan kaum muslimin di Perang Uhud, “Kami tidak mempunyai hak untuk menyatakan pendapat apapun tentang urusan pergi ke medan perang. Sekiranya kami mempunyai hak (untuk menyatakan pendapat tentang masalah itu) niscaya kami tidak akan pergi (ke medan perang).” Mereka juga berkata, “Seumpama kami memiliki hak pilih yang kecil sekalipun, niscaya kami tidak terbunuh (terkalahkan) di sini.”

Anggapan-anggapan yang tidak benar itu disebut oleh Allah Ta’ala dengan dzannal jahiliyyah,

ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِنْكُمْ ۖ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Kemudian setelah kamu (kaum muslimin) berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’. Katakanlah: ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah’. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini’. Katakanlah: ‘Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh’. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS. Ali Imran, 3: 154).

*****

Kebodohan mereka terhadap kebenaran juga mengakibatkan mereka lebih memilih hukmul jahiliyyah (hukum jahiliyyah).

Allah Ta’ala mencela orang-orang yang mengabaikan hukum-hukum-Nya lalu lebih memilih hukum-hukum lain.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah, 5: 50).

Hukum jahiliyyah adalah setiap hukum yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang berpaling dari hukum Allah dan Rasul-Nya, maka ia ditimpa bala’ dengan hukum jahiliah yang tegak di atas kebodohan, kezaliman dan kesesatan, adapun hukum Allah, maka ia tegak di atas ilmu, keadilan, cahaya dan petunjuk.[8]

Ibadah yang mereka lakukan adalah ‘ibadatul jahiliyyah (ibadah jahiliyyah). Meskipun telah didatangkan kepada mereka berbagai macam penjelasan, mereka tetap bersikukuh dengan ibadah yang mereka biasa kerjakan kepada berhala. Mereka berkata, “Ini agama nenek moyangmu.”

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

“Katakanlah: ‘Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’” (QS. Az-Zumar, 39: 64)

*****

Kebanggan yang mereka nampakkan adalah hamiyyatul jahiliyyah (kebanggaan, kesombongan, keangkuhan jahiliyyah)

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَىٰ وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Fath, 48: 26)

Contoh tindakan hamiyyatul jahiliyyah yang dilakukan kaum musyrikin pada masa lalu adalah menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya memasuki masjidil haram untuk melaksanakan umrah. Mereka tidak ingin kebanggaan dan wibawanya—yang didasari kebodohan—tercoreng sedikit pun jika mengizinkan kaum muslimin memasuki Masjidil Haram. Mereka berkata, “Mereka (kaum muslimin) telah membunuh anak-anak dan saudara-saudara kita serta memasuki rumah-rumah kita, sehingga orang-orang Arab nanti akan memperbincangkan kita bahwa mereka (kaum muslimin) telah memasuki pemukiman kita tanpa keridhaan kita? Demi Laata dan Uzza, mereka tidak boleh memasuki pemukiman kita.” [9]

Contoh lainnya adalah ketika Suhail ibn Amr menolak kalimat bismillahirrahmanirrahim ditulis di naskah perjanjian Hudaibiyah. Dia bersikeras dan kukuh dengan kalimat bismika allahumma yang biasa dipakai oleh orang-orang musyrikin dalam naskah-naskah perjanjian mereka.

*****

Kebodohan mereka tidak hanya tergambar dari pola pikir, norma, aturan, keberagamaan, maupun kondisi jiwa mereka; tapi juga tergambar dari tampilan fisik mereka. Terutama kaum wanita mereka yang biasa melakukan tabarrujul jahiliyyah (bersolek dan berpenampilan jahiliyyah). Para muslimah diperintah oleh Allah Ta’ala untuk menjauhi perilaku wanita-wanita jahiliyyah tersebut.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Ahzab, 33: 33)

Makna at-tabarruj (التبرج) adalah perbuatan wanita yang menampakkan perhiasaan dan kecantikannya yang harus ia sembunyikan yang dapat mengundang syahwat laki-laki.[10]

Menurut Syaikh As Sa’diy, maksud ayat tersebut adalah janganlah kamu sering keluar sambil berdandan dan memakai wewangian sebagaimana kebiasaan orang-orang Jahiliyyah dahulu yang tidak memiliki ilmu dan agama. Ini semua adalah untuk menghindari keburukan dan sebab-sebab yang membawa kepadanya.[11]

*****

Ketidaktahuan mereka terhadap pedoman yang benar membuat seluruh tradisi yang berkembang adalah taqalidul jahiliyyah (tradisi jahiliyyah). Sebagaimana telah disebutkan contoh-contohnya di atas; meratapi mayit, menyombongkan nasab, mencela nasab, menghina, perpecahan, fanatisme kesukuan, buruknya adab dan perilaku, hukum berdasar hawa nafsu, perkataan sia-sia, dan lain-lain.

Seorang muslim yang baik hendaknya menjauhi tradisi-tradisi jahiliyyah tersebut serta mampu bersikap tenang dan dewasa dalam menghadapinya. Allah Ta’ala membimbing kepada sikap yang benar dengan firman-Nya,

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“…dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”. (QS. Al-Qashshash, 28: 55)

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS.  Al-Furqan, 25: 63)

*****

Ringkasnya, kejahiliyyahan itu berawal dari syubuhat di alam pikiran dan jiwa (persangkaan, kesombongan, pemahaman, hawa nafsu, dan fanatisme buta) yang menyebabkan ketidakmampuan  mengenal kebenaran dengan utuh. Mereka mengalami dzulumatul jahiliyyah (kegelapan jahiliyyah) dan terus menerus terombang-ambing dalam al-waqi’ul jahili (realita kebodohan) karena lebih memilih jalan syaitan daripada jalan Allah Ta’ala,

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah, 2: 257)

Wallahul musta’an.

Catatan Kaki:

[1] Hadits-hadits ini kami kutip dari tulisan berjudul: Apa Itu Jahiliyah?, yang ditulis oleh Ust. Ammi Nur Baits dan dimuat di konsultasisyariah.com.

[2] Saya akan kutip syarah (penjelasan) yang dilakukan beberapa imam terpercaya umat ini, di antaranya  Al Imam An Nawawi dalam Syarah-nya atas Shahih Muslim, tentang makna miitatan jahiliyah berikut,

هِيَ بِكَسْرِ الْمِيم ، أَيْ : عَلَى صِفَة مَوْتهمْ مِنْ حَيْثُ هُمْ فَوْضَى لَا إِمَام لَهُمْ

“Dengan huruf mim dikasrahkan (jadi bacanya miitatan bukan maitatan), artinya kematian mereka disifati sebagaimana mereka dahulu tidak memiliki imam (pada masa jahiliyah).” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Juz. 6, Hal. 322, Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sekarang penjelasan Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar ,sebagai berikut,

وَالْمُرَادُ بِالْمِيتَةِ الْجَاهِلِيَّةِ وَهِيَ بِكَسْرِ الْمِيمِ أَنْ يَكُونَ حَالُهُ فِي الْمَوْتِ كَمَوْتِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ عَلَى ضَلَالٍ وَلَيْسَ لَهُ إمَامٌ مُطَاعٌ لِأَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَعْرِفُونَ ذَلِكَ ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ أَنْ يَمُوتَ كَافِرًا بَلْ يَمُوتَ عَاصِيًا .

“Dan yang dimaksud dengan miitatan jahiliyah dengan huruf mim yang dikasrahkan adalah dia mati dalam keadaan seperti matinya ahli jahiliyah yang tersesat di mana dia tidak memiliki imam yang ditaati karena mereka tidak mengenal hal itu, dan bukanlah yang dimaksud matinya kafir tetapi mati sebagai orang yang bermaksiat.” (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 7/171. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Saya kutipkan Fatwa Lajnah Da’imah (Komisi Tetap Fatwa) di Saudi Arabia, tentang makna hadits di atas:

ومعنى الحديث: أنه لا يجوز الخروج على الحاكم (ولي الأمر) إلا أن يرى منه كفرًا بواحًا، كما جاء ذلك في الحديث الصحيح، كما أنه يجب على الأمة أن يؤمروا عليهم أميرًا يرعى مصالحهم ويحفظ حقوقهم.

“Makna hadits tersebut: bahwa tidak boleh keluar dari kepemimpinan Al hakim (waliyul amri – pemimpin) kecuali jika dilihat dari pemimpin itu perilaku kufur yang jelas, sebagaimana diterangkan hal itu dalam hadits shahih, sebagaimana wajib pula bagi umat untuk mengangkat amir (pemimpin) bagi mereka supaya terjaga maslahat mereka dan hak-hak mereka.” (Al Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’, No fatwa.  8225)

Sumber kutipan: Website Resmi Ustadz Farid Nu’man. Baca selengkapnya https://alfahmu.id/mati-tanpa-baiat/

[3] An-Nafahat Al-Makkiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih As-Syawi

[4] Tafsir Ringkas Depag RI

[5] Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili.

[6] Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili

[7] Lihat: Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir, Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, hal. 501, Darun Nafais, Yordania.

[8] Lihat: Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an, Marwan Hadidi bin Musa.

[9] Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir, Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, hal. 514, Darun Nafais, Yordania.

[10] Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir, Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, hal. 422, Darun Nafais, Yordania.

[11] Dikutip dari Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an, Marwan Hadidi bin Musa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s