Tadabbur Al-Qur’an Surat ‘Abasa (Bag. 1)

Asbabun Nuzul

Latar belakang turunnya surat ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummul Mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini:

أُنْزِلَ عَبَسَ وَتَوَلَّى فِي ابْنِ أُمِّ مَكْتُوْمٍ الأَعْمَى أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يَقُوْلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرْشِدْنِي، وَعِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ عُظَمَاءِ الْمُشْرِكِيْنَ فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْرِضُ عَنْهُ وَيُقْبِلُ عَلَى الآخَرِ وَيَقُوْلُ أَتَرَى بِمَا أَقُوْلُ بَأْسًا فَيَقُوْلُ لاَ فَفِي هَذَا أُنْزِلَ

“Diturunkan ‘Abasa wa Tawallaa’ berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta, ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : ‘Wahai Rasulullah berilah saya bimbingan’. Sedangkan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu ada salah seorang pembesar kaum musyrikin. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan berbalik ke arah lelaki pembesar musyrikin tersebut, lalu beliau berkata: ‘Apakah menurutmu apa yang aku sampaikan kepadamu ini baik?”, maka lelaki pembesar musyrikin itu menjawab: ‘Tidak’. Tentang peristiwa inilah turun surat ‘Abasa.” (HR At-Tirmidzi no 2651)

Disebutkan pula oleh Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsirnya riwayat berikut ini,

بَيْنَا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنَاجِي عُتْبَة بْن رَبِيعَة وَأَبَا جَهْل بْن هِشَام وَالْعَبَّاس بْن عَبْد الْمُطَّلِب , وَكَانَ يَتَصَدَّى لَهُمْ كَثِيرًا , وَيَحْرِص عَلَيْهِمْ أَنْ يُؤْمِنُوا , فَأَقْبَلَ إِلَيْهِ رَجُل أَعْمَى , يُقَال لَهُ عَبْد اللَّه بْن أُمّ مَكْتُوم , يَمْشِي وَهُوَ يُنَاجِيهِمْ , فَجَعَلَ عَبْد اللَّه يَسْتَقْرِئ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آيَة مِنْ الْقُرْآن , وَقَالَ : يَا رَسُول اللَّه , عَلِّمْنِي مِمَّا عَلَّمَك اللَّه , فَأَعْرَضَ عَنْهُ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَعَبَسَ فِي وَجْهه وَتَوَلَّى , وَكَرِهَ كَلَامه , وَأَقْبَلَ عَلَى الْآخَرِينَ ; فَلَمَّا قَضَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَأَخَذَ يَنْقَلِب إِلَى أَهْله , أَمْسَكَ اللَّه بَعْض بَصَره , ثُمَّ خَفَقَ بِرَأْسِهِ , ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّه :  عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى وَمَا يُدْرِيك لَعَلَّهُ يَزَّكَّى أَوْ يَذَّكَّر فَتَنْفَعهُ الذِّكْرَى

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berbicara dengan Utaibah ibnu Rabi’ah, Abu Jahal ibnu Hisyam, dan Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib, saat itu beliau melayani mereka dan sangat menginginkan mereka beriman. Lalu tiba-tiba datanglah seorang lelaki buta bernama Ibnu Ummi Maktum, saat itu nabi sedang serius berbicara dengan mereka. Lalu Abdullah ibnu Ummi Maktum meminta agar diajari suatu ayat dari Al-Qur’an dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarilah aku dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling dan bermuka masam terhadapnya serta tidak menyukai permintaannya, bahkan beliau kembali melayani pembicaraan dengan para tokoh myusyrikin. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari pembicaraan dengan para tokoh musyrik itu dan hendak pulang ke rumah keluarganya, maka Allah menahan sebagian dari pandangan beliau dan menjadikan kepala beliau tertunduk, lalu turunlah kepadanya firman Allah yang menegur sikapnya itu: ‘Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan manfaat kepadanya?’ (‘Abasa: 1-4)” [1]

Ibnu Katsir meriwayatkan, bukan saja Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang membawakan riwayat ini, bahkan ada pula riwayat dari Urwah bin Zubair, Mujahid, Abu Malik dan Qatadah, dan Adh-Dhaahak dan Ibnu Zaid dan lain-lain; bahwa yang bermuka masam itu memang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dan orang buta itu memang Ibnu Ummi Maktum.

Ibnu Ummi Maktum adalah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal. Satu-satunya orang buta yang turut hijrah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah. Satu-satunya orang buta yang dua-tiga kali diangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi wakilnya jadi Imam di Madinah jika beliau bepergian.

Ibunda Ibnu Ummi Maktum tak lain adalah saudara kandung dari ibu yang melahirkan Khadijah, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah di Madinah, ia pun menjadi salah seorang muadzin yang diangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di samping Bilal.

قَالَ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عمر: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: “إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى تَسْمَعُوا أَذَانَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ”. وَهُوَ الْأَعْمَى الَّذِي أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ: (عَبَسَ وَتَوَلَّى * أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى) وَكَانَ يُؤَذِّنُ مَعَ بِلَالٍ. قَالَ سَالِمٌ: وَكَانَ رَجُلا ضريرَ الْبَصَرِ، فَلَمْ يَكْ يُؤَذِّنُ حَتَّى يَقُولَ لَهُ النَّاسُ-حِينَ يَنْظُرُونَ إِلَى بُزُوغِ الْفَجْرِ-: أذَّن

Berkata Salim ibnu Abdullah dari Abdullah ibnu Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Sesungguhnya Bilal azan di malam hari, maka makan dan minumlah kamu hingga kamu mendengar seruan azan Ibnu Ummi Maktum. Dia adalah seorang laki-laki buta yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. (‘Abasa: 1-2)’. Tersebutlah pula bahwa dia menjadi juru azan bersama Bilal.’” Salim melanjutkan, “Bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang laki-laki buta, maka dia belum menyerukan suara azannya sebelum orang-orang berkata kepadanya saat mereka melihat cahaya fajar subuh, Adzanlah!’”

Tadabbur Ayat 1 – 4

عَبَسَ وَتَوَلَّى(١) أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى(٢) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى(٣) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى(٤)

“(1) Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, (2) karena telah datang seorang buta kepadanya. (3) tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), (4) atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? (QS. ‘Abasa, 80: 1 – 4)

‘Abasa secara bahasa artinya, جَمَعَ جِلْدَ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَجِلْدَ جَبْهَتِهِ “mengumpulkan kulit yang ada diantara dua mata dan kulit dahi”, yaitu mengerutkan dahi dan bermuka masam.[2]

Syaikh ‘Utsaimin berkata, “Nabipun berpaling darinya dan bermuka masam karena berharap para pembesar musyrikin masuk Islam. Seakan-akan beliau khawatir bahwasanya para pembesar tersebut akan merendahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika beliau berpaling dari para pembesar tersebut dan mengarahkan wajahnya kepada sahabat yang buta itu. Hal ini sebagaimana perkataan kaum Nuh:

وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا

“Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara Kami” (QS Huud : 27).

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat bermuka masam dan berpaling dari sahabat yang buta tersebut, beliau memperhatikan dua hal ini :

Pertama, berharap para pembesar tersebut masuk Islam. Kedua, agar mereka tidak merendahkan dan menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beliau menoleh ke orang buta tersebut yang di mata mereka adalah orang hina.

Tentunya tidak diragukan bahwa ini adalah ijtihad dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bukan merendahkan Ibnu Ummi Maktum. Karena kita mengetahui bahwasanya tidak ada yang menyibukkan Nabi kecuali agar tersebar dakwah Al-Haq di antara hamba-hamba Allah, dan seluruh manusia di sisi beliau adalah sama, bahkan orang yang lebih semangat kepada Islam maka lebih beliau cintai. Inilah yang kita yakini pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”[3]

Berkenaan awal ayat ini Al-Alusi menjelaskan, “Allah tidak suka mengarahkan pernyataan yang keras langsung terarahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi Allah menggunakan uslub/pola kata ganti orang ketiga. Karena sifat “bermuka masam” dan “berpaling” adalah sikap yang keras. Ini merupakan bentuk pemuliaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” [4]

Al-Qasyani menulis dalam tafsirnya, Qur’an Surat ‘Abasa ini adalah teguran halus guna menyempurnakan langkah-langkah dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala mengajarkan kepada rasul-Nya bahwa tugasnya adalah menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada seluruh manusia tanpa kecuali. Siapa saja yang menginginkan agar dirinya suci dan bersih dari segala dosa; serta ingin memperoleh pelajaran untuk dirinya sehingga ia dapat menahan dirinya dari hal-hal yang diharamkan; maka haruslah disambut dan diperhatikan, serta lebih berhak untuk disikapi dengan lemah lembut. Tidak peduli apakah mereka itu kaum pejabat atau rakyat jelata, kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, tua atau muda.

Menurut As-Suyuthi, surat ini menunjukkan motivasi untuk menyambut orang-orang miskin terutama di majelis ilmu serta memenuhi kebutuhan dan hajat mereka dan tidak mengutamakan orang-orang kaya atas mereka.

Tadabbur Ayat 5 – 10

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى(٥) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى(٦) وَمَا عَلَيْكَ أَلا يَزَّكَّى(٧) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى(٨) وَهُوَ يَخْشَى(٩) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى(١٠

“(5) Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, (6) Maka kamu melayaninya, (7) Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman), (8) dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), (9) sedang ia takut kepada (Allah), (10) Maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa, 80: 5 – 10)

Melalui ayat-ayat ini Allah Ta’ala menegaskan bahwa Allah Ta’ala tidak menilai seorang manusia karena banyaknya harta atau tingginya jabatan. Sesungguhnya yang dipandang dan dinilai oleh Allah Ta’ala dari seorang manusia adalah ketakwaannya.

Maka, bagi seorang da’i khususnya dan umat Islam umumnya, hendaknya memiliki sikap dan cara pandang yang berbeda dengan kebanyakan manusia. Sikap dan cara pandang mereka harus dibangun di atas fondasi nilai-nilai ilahiyah.

Seorang da’i, tentu saja sangat mendambakan keberhasilan dakwah; seruannya disambut  oleh banyak orang terutama oleh kalangan terpandang yang akan berpengaruh bagi kejayaan dakwah yang diembannya. Namun, perlu diingat, tugas utama seorang da’i hanyalah mengajak; ia sama sekali tidak akan dicela apalagi dihukum oleh sebab penolakan-penolakan sebagian manusia terhadap  dakwahnya. Urusan keberhasilan dan kejayaan dakwah adalah urusan ghaib yang ada di tangan Allah Ta’ala. Jadi, janganlah karena memikirkan capaian-capaian ‘kejayaan dan keberhasilan’ dakwah, mereka kemudian lupa terhadap apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya yang utama.

Sebuah kaidah yang mahsyur menyebutkan,

لاَ يُتْرَكُ أَمْرٌ مَعْلُوْمٌ لِأَمْرٍ مَوْهُوْمٍ، وَلاَ مَصْلَحَةٌ مُتَحَقِّقَةٌ لِمَصْلَحَةٍ مُتَوَهِّمَةٌ

“Perkara yang jelas tidaklah ditinggalkan karena perkara yang belum jelas, dan maslahat yang memang terwujud tidaklah ditinggalkan karena maslahat yang masih dikira-kira.”

Tadabbur Ayat 11 – 16

كَلا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (١١) فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ (١٢) فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ (١٣) مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ  (١٤) بِأَيْدِي سَفَرَةٍ (١٥) كِرَامٍ بَرَرَةٍ  (١٦

“(11) Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan, (12) maka barang siapa menghendaki, tentulah dia akan memerhatikannya, (13) di dalam kitab-kitab yang dimuliakan (di sisi Allah), (14) yang ditinggikan dan disucikan, (15) di tangan para utusan (malaikat), (16) yang mulia lagi berbakti.

كَلا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ

Allah Ta’ala mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar jangan mengulangi sikapnya yang kurang tepat dalam berdakwah. Karena sesungguhnya Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya adalah nasihat atau petuah kepada seluruh manusia. Mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkannya tanpa dibedakan antara orang yang terhormat dan orang biasa.

فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ

Nasihat atau petuah (Al-Qur’an) ini sangat jelas, maka jika seseorang mau merenungi dan memahami makna yang terkandung di dalamnya serta mau menyadari dan mengamalkan apa yang diperintahkannya, tentu ia benar-benar akan mampu melakukannya. Tidak ada sesuatu apa pun yang bisa menghalang-halangi seseorang untuk menerimanya sebagai hidayah, kecuali perasaan ingkar dan takabur yang telah berurat dan berakar dalam hatinya yang kelam.[5]

Dimanakah letak Al-Qur’an ini berada ? { فِي صُحُفٍ } yaitu dalam lembaran lembaran malaikat { مُكَرَّمَةٍ } yang dimuliakan, dan bukanlah dalam lembaran-lebaran biasa. { مَرْفُوعَةٍ } yang ditinggikan kedudukan dan derajatnya { مُطَهَّرَةٍ } dan disucikan dari perkataan buruk seperti kebohongan dan kebathilan, karena sesungguhnya Al-Qur’an adalah perkataan yang benar dan suci, tidak ada keraguan didalamnya, kebenaran yang hakiki, tiada kebohongan didalamnya, dan tiada pula hal-hal yang tdak bermanfaat bagi pembacanya, itulah sebaik-baiknya perkataan, Al-Qur’an yang agung kedudukannya dan suci dari segala kebathilan; Allah berfirman,

{ لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ }

“Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fusshilat 41: 42)[6]

بِأَيْدِي سَفَرَةٍ

Safarah bentuk tunggalnya safir, diambil dari perkataan orang-orang Arab safara bainal qaumi, artinya mengangkat seseorang sebagai perantara dalam memperbaiki kerusakan yang melanda suatu kaum.

Kata safarah disebutkan oleh seorang penyair dalam salah satu bait syairnya:

فَمَا اَدْعُ السَّفَارَةَ بَيْنَ قَوْمِى ÷ وَلاَ اَمْشِى بِغَشٍّ اِنْ مَشَيْتُ

“Aku tidak pernah mengutus seorang perantara kepada kaumku (yakni selalu mendengarkan secara langsung pengaduan mereka, red.); dan aku tidak pernah curang/menipu ketika aku berjalan melaksanakan sesuatu.”

Yang dimaksud dengan perantara/utusan atau duta dalam ayat ini adalah para malaikat dan nabi. Mereka adalah perantara antara Allah dan makhluk-Nya dalam menjelaskan apa-apa yang dkehendaki oleh-Nya.

Peringatan, nasihat, dan petuah Al-Qur’an diturunkan dengan perantaraan malaikat kepada para nabi, lalu merekalah yang menyampaikannya kepada umat manusia. [7]

كِرَامٍ بَرَرَةٍ

Ciri khas para malaikat adalah tidak pernah melakukan perbuatan dosa barang sedikitpun sebagaimana diterangkan oleh Allah,

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“…tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim, 66: 6)

Mereka pun dimuliakan di sisi Allah sebagaimana difimankan oleh-Nya,

بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ

“Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan.” (QS. Al-Anbiya, 21: 26)[8]

Pensifatan kepada para malaikat sebagai safarah (utusan), kiramin (mulia), dan bararah (berbakti) disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَؤُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ”.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, Orang yang membaca Al-Qur’an, sedangkan dia pandai membacanya (kelak akan dihimpunkan) bersama-sama dengan para malaikat safarah yang mulia lagi berbakti. Adapun orang yang membacanya, sedangkan dia melakukannya dengan berat, baginya dua pahala.(HR. Ahmad)

(Bersambung)

[1]  Lihat Tafsir At-Thabary di http://www.alro7.net/ayaq.php?langg=arabic&aya=2&sourid=80

[2]  Lihat: https://firanda.com/1024-10-faedah-dari-10-ayat-surat-abasa.html

[3]  Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

[4]  Ruhul Ma’ani, Al-Alusi.

[5]  Lihat: Tafsir Al-Maraghy, hal. 72

[6] Tafsir as-Sa’di , Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, dikutip dari https://tafsirweb.com/12086-surat-abasa-ayat-14.html

[7] Tafsir Al-Maraghy, hal. 70 – 72.

[8] Ibid, hal. 73

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s