Mengenal Utsman bin Affan

Nasabnya

Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf, radhiyallahu ‘anhu. Ia adalah Khalifah ketiga umat Islam, setelah Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek yang keempat, yaitu Abdu Manaf. Dari sisi ibu, nasab keduanya bertemu pada Urwa binti Kariz. Ibunda Urwa adalah Baydha binti Abdul Muththalib, bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelahirannya

Utsman bin Affan lahir enam tahun setelah Tahun Gajah, tepatnya pada 47 tahun sebelum hijrah. Usianya enam tahun lebih muda daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia dilahirkan di Thaif, daerah subur di kawasan Hijaz.

Kisah Keislamannya

Jalan kehidupannya berubah ketika dadanya tiba-tiba disesaki rasa cinta kepada Ruqayyah binti Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia telah mengenal keutamaan gadis itu dan kemuliaan serta kejujuran ayahnya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun kedukaan memenuhi dadanya saat mendengar gadis pujaannya itu dinikahi oleh Utbah bin Abi Lahab.

Dalam keadaan duka ia bertemu dengan bibinya, Su’da binti Kariz, yang memberitahukannya tentang kemunculan seorang nabi yang akan menghapus penyembahan berhala dan menyerukan ibadah kepada Rabb Yang Maha Esa. Su’da membujuk Utsman agar mengikuti agama Sang Nabi.

Utsman kemudian menemui Abu Bakar dan menyampaikan kabar yang disampaikan bibinya. Abu Bakar berkata, “Perkataan bibimu dan kabar yang dikatakannya itu benar, wahai Utsman. Kau laki-laki yang pandai dan bijaksana. Kebenaran tidak akan tersembunyi darimu dan tidak akan dibiaskan oleh kebatilan. Tidakkah kau memerhatikan berhala-berhala yang disembah kaum kita ini? Bukankah mereka itu hanyalah bebatuan yang bisu, tuli, dan buta?”

“Benar.”

“Wahai Utsman, kabar dari bibimu itu telah menjadi kenyataan. Allah telah mengutus Rasul-Nya yang ditunggu-tunggu. Ia membawa agama yang benar bagi seluruh manusia.”

“Siapa dia?”

“Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib.”

“Muhammad yang digelari al-shadiq al-amin?”

“Ya, dia.”

“Maukah engkau menemaniku menemuinya?”

“Baiklah.”

Keduanya beranjak pergi menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika memandang Rasulullah dan mendengar seruannya, hati Utsman dipenuhi kedamaian dan ketenangan. Ia kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat.[1]

Karena keislamannya, Utsman mendapat penentangan yang keras dari kaumnya, Bani Abdu Syams, khususnya dari pamannya, Al-Hakam. Ia berkata kepada Utsman, “Apa kau akan meninggalkan agama nenek moyangmu demi agama baru? Demi Tuhan, aku tidak akan membiarkanmu hingga kau meninggalkan agamamu.”

Utsman menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku. Aku juga tidak akan berpisah dari nabiku sepanjang hayat dikandung badan.”

Karena tekanan yang demikian keras dari kaumnya itulah yang menyebabkan Utsman hijrah bersama keluarganya ke Habasyah (Abbisinia).

Istri-istri dan Anak-anak Utsman bin Affan

Istri pertama Utsman adalah Ruqayyah binti Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman menikahi Ruqayyah setelah mendengar kabar bahwa gadis pujaannya itu telah diceraikan oleh suaminya karena benci kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Ruqayyah wafat pada 2 H, karena sakit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkannya dengan putrinya yanglain, Ummu Kultsum.

Selama hidupnya Utsman pernah menikah dengan delapan wanita. Dari pernikahannya itu ia dikaruniai sembilan putra dan enam putri. Berikut ini isteri-isteri Utsman beserta anak-anaknya:

  1. Ruqayyah binti Rasulullah. Darinya Utsman memiliki anak yang bernama Abdullah yang meninggal pada usia 6 tahun.
  2. Ummu Kultsum binti Rasulullah. Darinya Utsman tidak memperoleh keturunan. Ummu Kultsum wafat pada 9 H.
  3. Fakhitah binti Ghazwan. Darinya Utsman memperoleh anak bernama Abdullah yang juga wafat saat masih kecil.
  4. Ummu Amr binti Jundub, yang memberinya beberapa anak, yaitu Amr, Khalid, Abban, Umar, dan Maryam.
  5. Fathimah binti Al-Walid Al-Makhzumiyyah, yang memberinya tiga orang anak, yaitu Sa’id, Al-Walid, dan Ummu Sa’id.
  6. Ummu Al-Banin binti Uyaynah bin Hishn Al-Fazariyyah, yang memberinya anak bernama Abdul Malik, namun ia meninggal dunia di usia dini.
  7. Ramalah binti Syaibah bin Rabiah, yang memberinya anak bernama Aisyah, Ummu Iban, dan Ummu Amr.
  8. Nailah binti Al-Farafashah, yang melahirkan Maryam junior.

Ketika wafat, Utsman meninggalkan 3 orang istri, yaitu: Ummu Al-Banin, Fakhitah, dan Nailah.

Julukan  Utsman bin Affan

Pada masa jahiliyyah ia disebut dengan nama panggilan Abu Amr. Setelah masa Islam, ia lebih sering dipanggil Abu Abdullah, yang diambil dari nama putranya dari Ruqayyah. Ada pula yang menyebutkan , di masa jahiliyyah Utsman sering dipanggil Abu Layla, karena kelembutan dan keramahannya kepada sesama.

Julukannya yang paling terkenal adalah Dzunnurain—Sang Pemilik Dua Cahaya. Itulah julukan yang paling disukainya. Julukan itu diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mendapat julukan itu karena keutamaannya menikah dengan dua putri nabi, Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Keutamaan Utsman bin Affan

Utsman menuturkan tentang keadaan dirinya,

“Sepuluh kebaikan tersimpan dari sisi Tuhanku: aku adalah khalifah ketiga dalam Islam; aku menyiapkan jaysul ‘usrah (pasukan dalam keadaan sulit pada Perang Tabuk); aku menghimpun Al-Qur’an di masa Rasulullah; aku dipercaya Rasulullah untuk menikah dengan salah seorang putrinya, Ruqayyh. Ketika Ruqayyah meninggal, aku dinikahkan dengan putrinya yang lain, Ummu Kultsum; aku tidak menumpuk harta; aku tidak berdusta; tak pernah kusentuh kemaluanku dengan tangan kanan sejak aku berbai’at kepada Rasulullah; setiap hari Jum’at kubebaskan seorang budak hingga ketika aku tak memiliki lagi budak, aku membeli budak untuk dibebaskan; dan aku tidak berzina, baik pada masa jahiliyyah maupun setelah Islam.” [2]

Selain apa yang disebutkan di atas, keutamaan Utsman juga diantaranya tergambar dalam beberapa riwayat berikut ini.

Sahabat Utama

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu   berkata bahwa Rasulullah   shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar mendatangi para sahabat setelah terbit matahari dan bersabda,

رَأَيْتُ قُبْيلَ الْفَجْرِ كَأَنِّى أُعْطِيتُ الْمَقَالِيدَ وَالْمَوَازِينَ فَأَمَّا الْمَقَالِيدُ فَهَذِهِ الْمَفَاتِيحُ وَأَمَّا الْمَوَازِينُ فَهَذِهِ الَّتِى تَزِنُونَ بِهَا فَوُضِعْتُ فِى كِفَّةٍ وَوُضِعَتْ أُمَّتِى فِى كِفَّةٍ فَوُزِنْتُ بِهِمْ فَرَجَحْتُ ثُمَّ جِىءَ بِأَبِى بَكْرٍ فَوُزِنَ بِهِمْ فَوَزَنَ ثُمَّ جِىءَ بِعُمَرَ فَوُزِنَ فَوَزَنَ ثُمَّ جِىءَ بِعُثْمَانَ فَوُزِنَ بِهِمْ ثُمَّ رُفِعَتْ

“Aku melihat sebelum fajar seakan-akan aku diberi al-maqalid dan timbangan. Adapun al-maqalid adalah kunci-kunci, dan timbangan adalah alat yang biasa kalian pakai untuk menimbang. Kemudian aku diletakkan pada daun timbangan yang satu dan umat-ku diletakkan pada daun timbangan yang lain, dan ternyata aku lebih berat. Kemudian didatangkan Abu Bakar dan ditimbang dengan mereka, ternyata Abu Bakar lebih berat dari mereka. Lantas didatangkan ‘Umar dan ditimbang dengan mereka, ternyata ‘Umar lebih berat dari mereka. Lalu didatangkan ‘Utsman dan ditimbang dengan mereka, ternyata ‘Utsman  lebih berat dari mereka. Kemudian timbangan-timbangan itu diangkat.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad)

Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata,

كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُخَيِّرُ أَبَابَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Kami (para sahabat) pernah menilai orang terbaik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka kami dapatkan yang terbaik adalah Abu Bakar radhiyallahu anhu , kemudian Umar bin Khattab radhiyallahu anhu , kemudian Utsman bin Affan, mudah-mudahan Allah meridhai mereka semua”. (HR. al-Bukhari, no. 3655)

Muhammad bin al-Hanafiyyah menceritakan saat ia bertanya kepada ayahnya,  Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, tentang sahabat utama rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قُلْتُ لِأَبِي أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ : أَبُو بَكْرٍ،قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ عُمَرُ،وَخَشِيتُ أَنْ يَقُولَ عُثْمَانُ، قُلْتُ: ثُمَّ أَنْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلَّا رَجُلٌ مِنَ المُسْلِمِينَ.

“Aku bertanya kepada ayahku, siapa orang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ia menjawab: Abu Bakar, aku pun bertanya lagi :Kemudian siapa setelah itu? Ia menjawab: Kemudian Umar, maka aku khawatir ia akan menjawab Utsman setelah itu, aku pun segera memotongnya: kemudian engkau? Ia menjawab: Aku hanyalah seseorang dari kaum muslimin”. (HR. al-Bukhari, no. 3671)

Pencatat  Al-Qur’an

Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Utsman bin Affan termasuk petugas pencatat Al-Qur’an. Dialah yang mencatat surat-surat Al-Qur’an di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Utsman berkata kepada para pemberontak yang menganiayanya—hingga terpotong tangannya sebelum ia terbunuh,

مَا وَاللهِ، إِنَّهَا لَأَوَّلُ كَفٍّ خَطَّتِ الْمُفَصَّلَ

“Demi Allah, tangan (yang kau potong ini) adalah tangan pertama yang mencatat surat-surat mufashshal.”

Malaikat Malu Kepadanya

‘Aisyah berkata; “Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berbaring di rumah saya dengan membiarkan kedua pahanya atau kedua betisnya terbuka. Tak lama kemudian, Abu Bakar minta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk dalam kondisi beliau tetap seperti itu dan terus berbincang-bincang (tentang suatu hal). Lalu Umar bin Khaththab datang dan meminta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk dalam kondisi beliau tetap seperti itu dan terus berbincang-bincang (tentang suatu hal). Kemudian Utsman bin Affan datang dan meminta izin kepada beliau untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk seraya mengambil posisi duduk dan membetulkan pakaiannya.”, Muhammad bin Harmalah—salah seorang rawi hadits ini berkata: “Saya tidak mengatakan hal itu terjadi pada hari yang sama”, (riwayat Aisyah selanjutnya), “Lalu Utsman masuk dan langsung bercakap-cakap dengan beliau tentang berbagai hal. Setelah Utsman keluar dari rumah, Aisyah bertanva; ‘Ya Rasulullah, ketika Abu Bakar masuk ke rumah, engkau tidak terlihat tergesa-gesa untuk menyambutnya. Kemudian ketika Umar datang dan masuk, engkaupun menyambutnya dengan biasa-biasa saja. Akan tetapi ketika Utsman bin Affan datang dan masuk ke rumah maka engkau segera bangkit dari pembaringan dan langsung mengambil posisi duduk sambil membetulkan pakaian engkau. Sebenarnya ada apa dengan hal ini semua ya Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ

“Hai Aisyah, bagaimana mungkin aku tidak merasa malu kepada seseorang yang para malaikat saja merasa malu kepadanya?.” (HR. Muslim)

Dalam hadits riwayat Muslim lainnya bahkan disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu sedang bersama ‘Aisyah dalam keadaan  satu selimut. Saat Utsman datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dan menyuruh ‘Aisyah merapikan bajunya. Ketika hal itu ditanyakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عُثْمَانَ رَجُلٌ حَيِيٌّ وَإِنِّي خَشِيتُ إِنْ أَذِنْتُ لَهُ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ أَنْ لَا يَبْلُغَ إِلَيَّ فِي حَاجَتِهِ

 “Sesungguhnya Ustman adalah orang yang sangat pemalu, dan jika aku mengizinkannya dalam keadaanku yang seperti itu (satu selimut dengan ‘Aisyah), aku khawatir dia tak mau menyampaikan keperluannya kepadaku.” (HR. Muslim)

Tentang pemalunya Utsman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْحَمُ أُمَّتِى أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهَا فِى دِينِ اللهِ عُمَرُ وَأَصْدَقُهَا حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَعْلَمُهَا بِالْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَقْرَؤُهَا لِكِتَابِ اللَّهِ أُبَىٌّ وَأَعْلَمُهَا بِالْفَرَائِضِ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ

“Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam agama Alloh adalah ‘Umar, yang paling pemalu adalah ‘Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, yang paling hafal tentang al-Qur’an adalah Ubai dan yang paling mengetahui tentang ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat mempunyai orang terpercaya dan orang ter-percaya di kalangan umatku adalah Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad)
Sahabat yang Dermawan

Banyak riwayat mengemukakan tentang kedermawanan Utsman, diantaranya adalah dibelinya sumur Rumah yang kemudian diwakafkannya untuk memenuhi  kebutuhan umat Islam.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ يُسْتَعْذَبُ غَيْرَ بِئْرِ رُومَةَ فَقَالَ مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلُ فِيهَا دَلْوَهُ مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ بِخَيْرٍ لَهُ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ صُلْبِ مَالِي فَجَعَلْتُ دَلْوِي فِيهَا مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ

Utsman bin Affan berkata, “…bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah dan tidak ada padanya air segar selain sumur Rumah, kemudian beliau bersabda: ‘Barangsiapa membeli sumur Rumah kemudian meletakkan padanya embernya bersama dengan ember orang-orang muslim dengan kebaikan darinya, maka ia akan berada dalam Surga.’ Lalu aku membelinya dari hartaku secara murni, kemudian aku meletakkan padanya emberku dari ember orang-orang Muslim.” (HR. Nasai Nomor 3551)

Kisah kedermawanan Utsman juga kita temukan dalam kisah Perang Tabuk (Jaisy Al-‘Usrah).

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَبَّابٍ السُّلَمِيِّ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَثَّ عَلَى جَيْشِ الْعُسْرَةِ فَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ عَلَيَّ مِائَةُ بَعِيرٍ بِأَحْلَاسِهَا وَأَقْتَابِهَا قَالَ ثُمَّ حَثَّ فَقَالَ عُثْمَانُ عَلَيَّ مِائَةٌ أُخْرَى بِأَحْلَاسِهَا وَأَقْتَابِهَا قَالَ ثُمَّ نَزَلَ مَرْقَاةً مِنْ الْمِنْبَرِ ثُمَّ حَثَّ فَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ عَلَيَّ مِائَةٌ أُخْرَى بِأَحْلَاسِهَا وَأَقْتَابِهَا قَالَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِيَدِهِ هَكَذَا يُحَرِّكُهَا وَأَخْرَجَ عَبْدُ الصَّمَدِ يَدَهُ كَالْمُتَعَجِّبِ مَا عَلَى عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ هَذَا

Abdurrahman bin Khabbab As-Sulami berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam keluar lalu beliau menyemangati pada pasukan Perang ‘Usrah. Lalu ‘Utsman bin ‘Affan berkata, ‘Saya akan memberikan seratus unta lengkap dengan perlengkapan dan pelananya.’” Abdurrahman bin Khabbab As-Sulami radliyallahu’anhu berkata lagi,  “Lalu beliau menyemangati lagi, lalu ‘Utsman berkata, ‘Saya tambah seratus lagi lengkap dengan perlengkapan dan pelananya’”. Abdurrahman bin Khabbab As-Sulami radliyallahu’anhu berkata lagi,  “Lalu beliau turun dari satu tingkat tingkat dari mimbar, lalu menyemangati lagi. Lalu ‘Utsman bin ‘Affan berkata, ‘Saya tambah seratus lagi lengkap dengan perlengkapan dan pelananya.’” Abdurrahman bin Khabbab As-Sulami radliyallahu’anhu berkata, “Lalu saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan tangannya, begini dengan mengerakkannya.” Abdushshamad (salah seorang rawi hadits ini) mengeluarkan tangannya layaknya orang yang kaget atas apa yang telah dilakukan ‘Utsman dan apa yang telah dia lakukan setelahnya.  (HR. Ahmad No. 16099)

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat apa yang infakkan oleh Utsman, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

مَا ضَرَّ ابْنُ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ

“Tidak akan memudharatkan Ibnu Affan apa yang dia lakukan setelah hari ini.” (HR. Ahmad, al-Musnad, 5/53; Shahih Sunan Tirmidzi, 3/209, hadits no. 2920 dan 3967)

Selain itu, Utsman pula yang menginfakkan hartanya untuk membeli lahan untuk perluasan masjid nabawi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman berkata,

أَنَّ الْمَسْجِدَ ضَاقَ بِأَهْلِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَشْتَرِي بُقْعَةَ آلِ فُلَانٍ فَيَزِيدُهَا فِي الْمَسْجِدِ بِخَيْرٍ لَهُ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ صُلْبِ مَالِي فَزِدْتُهَا فِي الْمَسْجِدِ

“…masjid telah sesak dengan penghuninya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Siapakah yang bersedia membeli lahan keluarga Fulan kemudian menambahkannya di masjid lalu ia akan mendapatkan kebaikan di surga?’ Lalu aku membelinya dari hartaku secara murni, kemudian aku tambahkan ke masjid…” (HR. An-Nasai No. 3551)

Syahid di Jalan Allah

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Utsman bin Affan sebagai syahid. Suatu saat, beliau sedang bersama dengan Abu Bakr, Umar, dan Utsman di atas Uhud, tiba-tiba Uhud bergoncang. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

اثْبُتْ أُحُدٌ، فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

“Diamlah wahai Uhud, yang berada di atasmu adalah seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.” (HR. Al-Bukhari No. 3675).

Utsman mendapatkan berita tentang akan kesyahidan dirinya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung. Dalam sakitnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hal ini secara rahasia, sebagaimana disebutkan hadits berikut ini,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ وَدِدْتُ أَنَّ عِنْدِي بَعْضَ أَصْحَابِي قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَدْعُو لَكَ أَبَا بَكْرٍ فَسَكَتَ قُلْنَا أَلَا نَدْعُو لَكَ عُمَرَ فَسَكَتَ قُلْنَا أَلَا نَدْعُو لَكَ عُثْمَانَ قَالَ نَعَمْ فَجَاءَ فَخَلَا بِهِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَلِّمُهُ وَوَجْهُ عُثْمَانَ يَتَغَيَّرُ قَالَ قَيْسٌ فَحَدَّثَنِي أَبُو سَهْلَةَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ قَالَ يَوْمَ الدَّارِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَهِدَ إِلَيَّ عَهْدًا فَأَنَا صَائِرٌ إِلَيْهِ وَقَالَ عَلِيٌّ فِي حَدِيثِهِ وَأَنَا صَابِرٌ عَلَيْهِ قَالَ قَيْسٌ فَكَانُوا يُرَوْنَهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ

Dari ‘Aisyah ia menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diwaktu sakitnya: ‘Ingin rasanya jika sebagian sahabatku ada di sisiku.’ Kami lalu bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah perlu kami memanggil Abu Bakar untukmu?’ Beliau terdiam. Kami bertanya lagi,  ‘Apakah perlu kami memanggil Umar untukmu?’ Beliau masih terdiam. Kami lalu bertanya lagi, ‘Apakah perlu kami memanggil Utsman untukmu?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ Lalu Utsman pun datang dan menyendiri dengannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepadanya, hingga wajah Utsman berubah.” Qais (salah seorang periwayat) berkata, “Telah menceritakan kepadaku Abu Sahlah mantan budak Utsman, bahwa Utsman bin ‘Affan berkata di hari pengepungan rumahnya, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjanjikan kepadaku sebuah janji dan aku akan tetap memegang janji itu.” Dan Ali menyebutkan dalam haditsnya,  “Aku akan bersabar di atasnya”. Qais berkata,  “Mereka (pemberontak) membunuhnya (Utsman) pada hari itu.” (HR. Ibnu Majah No. 110)

Saat terjadi pengepungan rumah Utsman oleh para pemberontak di masa akhir kekhalifahannya, para sahabat menawarkan kepada Utsman bin Affan untuk memerangi pemberontak, mereka berkata: “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau perangi mereka?” Utsman menjawab,

لَا، إِنَّ رَسُولَ اللهِ عَهِدَ إِلَيَّ عَهْدًا، وَإِنِّي صَابِرٌ نَفْسِي عَلَيْهِ

“Tidak (aku tidak akan perangi mereka), karena sesungguhnya Rasulullah  telah mengambil janji dariku, dan aku sabar di atas janji itu.” (Ahmad dalam Al-Musnad, 6/51-52).

Ia pun berkata,

لَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مِنْ خَلْفِ رَسُولِ اللهِ فِي أُمَّتِهِ بِسَفْكِ الدِّمَاءِ

“Aku tidak ingin menjadi orang pertama sesudah Rasulullah yang menyebabkan pertumpahan darah di tengah umatnya.” (Al-Musnad, 1/196, dengan tahqiq Asy-Syaikh Ahmad Syakir, Tarikh Baghdad, 14/272).

Mengapa Utsman tidak melepaskan saja kekhalifahan agar terhindar dari fitnah ini? Bukankah itu yang diinginkan para pemberontak? Ketahuilah, sikap mempertahankan kekhalifahan ini adalah dalam rangka melaksanakan wasiat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah bersabda kepadanya,

وَإِنْ سَأَلُوكَ أَنْ تَنْخَلِعَ مِنْ قَمِيْصٍ قَمَّصَكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَفْعَلْ

“Dan jika mereka (pemberontak) memaksamu untuk melepaskan pakaian yang Allah pakaikan kepadamu (yakni kekhalifahan), janganlah engkau lakukan.” (Al-Humaidi dalam Al-Musnad, 1/130, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Ahli Surga

Abu Musa Al Asy’ari berkata, “Pada suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di salah satu kebun Madinah sambil bersandaran beliau menancapkan batang pohon ke tanah yang berair. Tiba-tiba seseorang datang meminta dibukakan pintunya. Beliau bersabda: ‘Bukakanlah, dan berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.’” Abu Musa berkata, “Ternyata yang datang Abu Bakar, maka aku pun membukakan untuknya dan mengabarkan tentang kabar gembira baginya berupa surga. Lalu ada seseorang yang lain datang meminta dibukakan pintunya.” Beliau bersabda: ‘Bukakanlah, dan berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.’” Abu Musa berkata, “Ternyata yang datang Umar, maka aku pun membukakan untuknya dan mengabarkan tentang kabar gembira baginya berupa surga. Lalu ada seorang yang lain lagi datang meminta dibukakan pintunya”. Abu Musa berkata, “Nabi pun kemudian duduk seraya bersabda,

افْتَحْ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى تَكُونُ

“Bukakanlah, dan berilah kabar gembira kepadanya dengan surga atas musibah yang akan menimpanya.”

Abu Musa berkata, “Aku pun mendatanginya dan ternyata yang datang Utsman, maka aku bukakan untuknya dan mengabarkan kepadanya tentang kabar gembira baginya berupa surga dan apa yang Rasulullah sampaikan untuknya. Lalu Utsman menjawab,  ‘Ya Allah sabarkanlah aku dan  Allahlah satu-satunya penolong!’” (HR. Muslim)

Isyarat kabar gembira sebagai ahli surga juga disebutkan dalam hadits lain,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ نَبِيٍّ رَفِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَرَفِيقِي فِيهَا عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap Nabi memiliki teman karib di surga, dan teman karibku di surga adalah Utsman bin ‘Affan”. (HR. Ibnu Majah No. 106).

Itulah sekelumit tentang keutamaan Utsman bin Affan. Masih banyak lagi riwayat-riwayat lain yang menjelaskan tentang rasa takutnya kepada Allah, kelembutan dan sifat pemaafnya, serta keluasan ilmunya.

(Bersambung)

Selanjutnya baca: Peristiwa Pembai’atan Utsman bin Affan

Catatan Kaki:

[1] Lihat: Kisah Hidup Utsman Ibn Affan, Dr. Musthafa Murad, hal. 13 – 16

[2] Ar-Riyadhun Nadhirah, Al-Muhibb At-Thabari, hal. 499 – 500

 

2 thoughts on “Mengenal Utsman bin Affan

  1. Bagaimana amalan keseharian dari Utsman sehingga sukses menjadi salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang kaya raya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s